Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#47# Malu


__ADS_3

Tanpa bisa di cegah, Mela yang benar-benar jengkel karena merasa telah di permainkan oleh Wilden kini telah mengambil sebuah guling yang bisa dijangkau nya sebelum pada


akhir nya memukulkan nya pada tubuh Wilden


untuk melampiaskan rasa jengkel nya secara


bertubi-tubi.


"Hey hentikan, kenapa memukul ku."


Wilden spontan mengambil bantal yang


di gunakan Mela untuk memukul nya


sebelum kemudian melemparkan nya ke


sembarang arah.


"Menyebalkan."


Mela beranjak dari duduk nya dan memutuskan untuk tertidur terlebih dahulu dalam posisi membelakangi Wilden yang masih tak lepas menyunggingkan seulas senyum melihat tingkah kekanakan Mela yang baru kali ini ditunjukkan nya secara langsung di depan nya.


Tak lama kemudian Wilden beranjak menuju jendela yang semula hendak di lakukan oleh Mela namun urung karena di cegah oleh nya.

__ADS_1


Setelah selesai menutup rapat jendela kamar Mela, Wilden kini memutuskan untuk ikut berbaring di samping Mela yang masih


memunggungi nya saat ini.


"La."


Wilden berusaha memanggil Mela.


"Maaf kalau candaan ku keterlaluan, aku hanya ingin menghilangkan kecanggungan di antara kita,"


Perkataan Wilden kali ini mau tak mau membuat Mela merasa tak enak sendiri. Karena walau bagaimana pun sebenar nya ia tidak marah pada Wilden, hanya saja ia masih merasa malu atas pemikiran nya yang telah berpikir terlalu jauh.


Perlahan tapi pasti Mela mulai membalikkan badan nya menghadap Wilden yang saat ini juga tengah menghadap pada nya.


"Malu kenapa hmm? Memangnya apa yang kamu pikirkan?"


Mendengar pertanyaan Wilden malah semakin membuat Mela menenggelamkan wajah nya semakin dalam pada bantal. Mela tau Kak Wilden sengaja mengatakan hal tersebut untuk membuat Mela semakin malu.


Suara kekehan kecil tampak keluar dari bibir Wilden sebelum kemudian tangan nya terulur untuk menarik Mela ke dalam dekapan tubuh nya, Membuat wajah Mela tenggelam dalam dada bidang Wilden yang tegap.


"Apa pun yang kamu pikirkan lupakan untuk sejenak. Tapi meski begitu, cepat atau lambat kamu harus tetap menyiapkan diri."


Wilden menarik napas sejenak untuk mengisi paru-paru nya sebelum kembali melanjutkan,

__ADS_1


"Karena aku adalah pria normal." Kata Wilden dengan lugas.


Mendengar perkataan Wilden membuat Mela berniat mendongakkan kepala nya untuk menatap wajah Kak Wilden yang masih mendekap tubuh nya dengan erat.


"Kak..


"Shh, tidurlah!"


Mela urungkan untuk bertanya saat ia melihat Kak Wilden yang tampak memejamkan kedua mata nya seolah tidak ingin Mela bertanya apa pun lagi.


*******""""*******


Jangan pernah mengabaikan hal-hal remeh yang di anggap tidak memiliki ati penting.


Karena ketahuilah, tak jarang seorang wanita justru lebih menghargai hal-hal remeh yang mampu membuat perasaan nya melayang


_Anonim_


Saat ini Mela telah terbangun dari tidur nya dan dia melihat tempat di sampingnya telah kosong, entah mengapa perasaan kecewa sedikit merasuki dada nya saat tidak mendapati Wilden berada di samping nya.


Apa mungkin yang semalam itu hanya mimpi?


Dengan sedikit menghembuskan napas panjang, Mela malah semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidur nya, ia

__ADS_1


membalikkan tubuh nya hingga telungkup dan menenggelamkan wajah nya pada bantal mengingat mimpi nya itu.


__ADS_2