
"Lena, aku bisa jelaskan."
Rehan berusaha memegang kedua pundak Lena yang terus meronta dan berusaha menjauh dari suami nya.
"Lepaskan aku, menjauhlah. Kumohon, suara"
Lena mulai menekan dan serak pada akhir nya. Tampak tatapan mata memohon yang dilayangkan nya pada Rehan agar lelaki itu melepaskan nya.
"Aku lelah."
"Tidak Lena, aku tidak akan melepaskan mu. Kau harus mendengarkan ku."
Rehan tampak tidak memedulikan ucapan Lena dan tetap bersikeras mendekat pada Lena serta mencengkeram kedua pundak Lena dengan kuat membuat Lena meringis.
"Cukup, kurasa Lena butuh waktu untuk sendiri." Wilden akhirnya berjalan di tengah-tengah kedua nya dan melerai pertengkaran pasangan suami istri tersebut.
la cukup merasa simpati pada Lena melihat dari bagaimana tatapan mata nya yang tampak sayu dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipi nya, sementara suami nya tampak sama sekali tidak mencoba untuk mengalah.
__ADS_1
"Ini urusan ku, jangan ikut campur."
Rehan menatap nya dengan tatapan tajam nya, yang di balas Wilden dengan tatapan tak kalah tajam nya.
"Apa kau tak melihat dia ketakutan karena ulah mu."
Melihat hal itu, Rehan hanya bisa mendengus kasar pada Wilden sebelum kemudian berjalan pergi dengan langkal lebar nya dan juga rahang yang mengeras.
Setelah nya, Lena hanya bisa mengusap jejak-jejak air mata yang masih menetes di kedua pipi nya, tubuh nya sedikit terhuyung akibat pertengkaran hebat nya dengan suami nya tadi, dan dengan sigap pula Wilden
menahan kedua pundak Lena agar tetap bisa berdiri tegak.
Wilden memutuskan menarik Lena ke dalam
pelukan nya untuk menenangkan sedikit beban yang di tanggung Lena, lalu yang bisa di lakukan Lena hanyalah kembali menangis
dalam pelukan Wilden.
__ADS_1
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Wilden mengusap punggung Lena berusaha memberikan ketenangan pada wanita dalam dekapan nya, Lena pun ikut membalas pelukan Wilden dengan erat di sertai dengan tubuh nya yang bergetar karena isakan tangis yang ia timpahkan pada dada Wilden.
Di ujung koridor tempat persidangan berlangsung beberapa saat yang lalu, Mela yang baru saja datang untuk membawakan
makan siang untuk Wilden hanya bisa diam mematung melihat semua nya.
Memang niat awal nya, ia sengaja datang kemari untuk memberikan sedikit kejutan
berupa bekal makan siang yang dimasak nya sendiri, tapi apa yang baru saja dilihat nya justu berkebalikan dengan niat awal nya.
Disini justu Mela yang mendapat sebuah kejutan yang tidak diduga nya sama sekali.
Ia mematung, sebelum kemudian membalikkan tubuh nya agar bisa bersandar pada dinding persimpangan koridor dengan kedua mata yang tertutup rapat.
Secara perlahan, tubuh Mela yang terasa lemah mulai meluluh ke lantai hingga membuat nya menekuk kedua kaki nya dengan kedua tangan nya ia gunakan untuk menutupi wajah nya yang masih bersandar pada dinding koridor.
__ADS_1
Mata nya kembali memanas saat mengingat kembali apa yang baru saja dilihat nya secara langsung. Mela memang telah berada di sana, saat Lena masih bertengkar hebat dengan suami nya.
Hingga dia melihat dengan mata kepala nya sendiri, bagaimana cara Wilden menghentikan perdebatan itu, bagaimana cara Wilden menatap pada suami Lena dengan tatapan tajam nya, dan bagaimana tatapan Wilden yang bisa memperlakukan Lena dengan begitu lembut yang sarat akan perhatian dalam mata nya.