
Lalu terus naik ke atas menuju dua buah gunung kembar yang kenyal dan....
'Arghhh....shit!!! Bagaimana mungkin aku membayangkannya sejauh itu? Aku harus segera keluar dari kamar ini, sebelum aku akan menyerang Mela saat ini juga. Karena aku tau, kemungkinan besar dia belum siap jika harus melayani atau memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri padaku. Di tambah lagi, gejolak hasratku yang begitu besar seperti saat ini. Aku takut akan lepas kontrol, dan juga mungkin ini efek karena aku tidak pernah melakukan 'itu' setelah istriku meninggal 5 tahun yang lalu.'
.......
Mela kini tengah menuggu Wilden di kamarnya dengan menggunakan setelan baju piyama longgar berwarna krem. Entah sudah berapa lama Mela menuggu, tapi Wilden tidak ada kembali ke kamarnya membuat Mela merasa khawatir, cemas, sekaligus lega. Khawatir dan cemas jika saja Wilden benar\-benar marah padanya. Dan lega, karena ia bisa sedikit terbebas dari kewajibannya sebagai seorang istri.
"Apa mungkin kak Wilden marah karena aku lupa mengunci pintu kamar mandi?"
Mela yang masih menunggu Wilden kembali aklhirnya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, karena dia sudah merasa sangat lelah akibat proses pernikahan mendadak ini yang tentunya cukup menguras tenaga.
__ADS_1
Pukul 02.00 dini hari, Wilden kembali ke kamarnya dan mendapati bahwa Mela telah tertidur dengan lelap. Lagi pula ia juga tidak mengharapkan bahwa Mela akan menunggunya hingga ia kembali ke kamarnya.
Perlahan Wilden membenarkan posisi tidur Mela dan menaikkan selimut untuk membungkus tubuh Mela sebelum dirinya ikut berbaring di samping Mela, mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak sebelum besok pergi ke rumah sakit untuk mengurus keperluan operasi yang akan di lakukan Lila lusa.
'Papa sudah mengabulkan permintaan kamu sayang... Papa harap kamu bisa melewati semua ini, dan kita akan berkumpul lagi layaknya keluarga bahagia seperti yang kamu inginkan.'
Wilden memanjatkan do'a sejenak sebelum tertidur lelap di samping Mela.
Mela terbangun dari tidurnya dan mendapati Wilden kini telah siap dengan mengenakan kemeja dan celana berbahannya yang berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih.
"Kakak mau ke mana?"
Mela yang baru terbangun dari tidurnya, mencoba bertanya pada Wilden yang telah memakai pakaian yang rapi saat waktu masih menunjukkan pagi hari.
"Rumah sakit?"
Mela yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya mencoba mencerna maksud perkataan Wilden. Kemudian setelah ingatannya telah terkumpul sepenuhnya, barulah ia sadar dan langsung menepuk keningnya keras menyadari kebodohannya.
__ADS_1
"Astaga! Bukannya hari ini jadwal operasinya Lila di laksanakan! Bagaimana mungkin aku lupa. Tunggu sebentar kak, aku akan bersiap-siap dan ikut dengan kakak ke rumah sakit!"
Mela segera beranjak turun dari ranjang yang di tempatinya dan bersiap akan memasuki kamar mandi sebelum suara datar Wilden menghentikan langkahnya, membuat Mela berbalik badan ke arahnya.
"Tidak perlu, aku akan berangkat sendiri."
Dengan panik Mela mencoba membujuk Wilden agar mau menunggunya untuk ikut ke rumah sakit.
"Tunggu! kumohon ijinkan aku ikut, aku ingin berada di samping Lila sebelum Lila menjalani operasi."
Wilden menarik napas sejenak sebelum akhirnya mengaggukkan kepalanya. Membuat Mela memekik senang dan dengan refleks langsung memeluk Wilden dengan erat.
"Terima kasih kak!"
"Lepaskan pelukanmu dariku, badanmu bau."
Mela yang mendapati sikap cuek Wilden hanya menunduk dengan malu atas sikap spontannya tadi. Tanpa pamit, Mela langsung berlari ke kamar mandi tak lupa mengunci pintunya dengan keras dan langsung melakukan mandi kilat, karena takut jika ia terlalu lama mandi maka akan membuat Wilden marah, lalu meninggalkannya ke rumah sakit sendirian.
__ADS_1