
"Saya akan menunjuk kamu sebagai asisten saya selama di stase bedah."
"Anda serius sir?" Mela merasa terkejut dengan perkataan dari Mr.Reymon. Bagaimana tidak, menjadi asisten MrReymon? Itu hanya ada dalam mimpi Mela.
Dan sekarang ia merasa senang dapat menjadi asisten Mr,Reymon.
"Tentu! Saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya."
"Baiklah sir, saya menerima penawaran anda. Terima kasih." Mela tersenyum senang dan langsung mengulurkan jabatan tangannya pada Mr.Reymon yang disambut MrReymon dengan senyum tipis.
Tentu saja Mela tidak akan menyianyiakan kesempatan emas ini, menjadi asisten Mr.Reymon justu akan semakin memuluskan jalan nya nilai ujian koas pada stase bedah nya, dan jangan lupakan dengan nasib nilai ujian koas-nya yang tidak akan mengecewakan.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah kepergian Mr.Reymon, Mela tak berhenti tersenyum sepanjang jalan nya. la begitu senang jika dia bisa menjadi asisten seorang Mr.Reymon yang banyak digandrungi para mahasiswa kedokteran.
__ADS_1
Setiap mahasiswa pasti banyak yang ingin berada di posisi Mela saat ini.
Siapa yang tidak tergila-gila pada seorang dokter muda yang saat ini tengah mengambil spesialis dokter bedah saraf dan saat ini menjadi dokter residen yang merangkap sekaligus sebagai dosen tidak tetap diusianya yang tergolong masih muda?
Ditambah poin plus nya dia masih lajang di usia nya yang ke 27 tahun ini. Ah sayang sekali karena status ku kini sudah menikah, kenapa kesempatan ini baru datang sekarang?
Mela menghembuskan napas kecewa mengingat status nya kini. Bohong jika Mela tidak tertarik pada Mr.Reymon seperti kebanyakan mahasiswa pada umum nya.
Namun itu hanya sebatas ketentarikan semata bukan rasa suka dan sejenis nya.
Lama menunggu namun apa yang ditunggu Mela tak kunjung datang. Mela menghembuskan napas sesaat, mengecek jam pada layar ponsel nya yang bahkan telah menunjukkan pukul 11.13 siang. Yang arti nya
sudah satu jam lebih Mela menunggu disini dan Kak Wilden tak kunjung menjemput nya.
Mela kini kembali menimang-nimang antara menelepon Kak Wilden atau tidak, setelah beberapa saat berpikir akhir nya Mela memutuskan untuk menghubungi Kak Wilden.
__ADS_1
Tut tuttt.....
Dengan sabar Mela menunggu hingga dering telepon nya diangkat oleh Kak Wilden, akan tetapi hingga beberapa menit menunggu tetap tak ada balasan. Mela kembali mencoba menghubungi lagi dan hasil nya tetap sama.
Mela kembali duduk dan mencoba menunggu beberapa saat lagi hingga jemputan Kak Wilden datang, tapi nihil.
Kembali melirik jam di ponsel nya yang telah
menunjukkan pukul 13.15 siang. Menyerah, akhir nya Mela memutuskan menghampiri taksi yang mengantar nya kembali ke rumah Sebelum nya Mela pergi ke TK tempat Lila
bersekolah yang sedang dalam keadaan sepi.
Sejenak Mela menghembuskan napas lega dan berpikir kalau Lila pasti sudah pulang, sebelum beranjak kembali ke rumah.
Setiba nya di rumah Mela segera
__ADS_1
membayar agro taksi yang ditumpangi nya dan melangkahkan kaki nya memasuki pekarangan rumah Kak Wilden.