
Dua orang yang tengah makan siang, dengan tangan yang saling menaut di atas meja. Mela awal nya merasa ragu jika ia mengenal kedua orang itu, tapi setelah mengamati lebih jeli lagi, barulah perasaan itu kembali hadir.
' Bulshit!'' Batin Meisya berteriak nyaring melihat pemandangan di depan nya.
Segala apa yang ia alami semalam dan pagi hari itu nyata nya hanyalah sebuah kamuflase.
Ingatkan Mela untuk tidak mudah mempercayai perkataan sejenis makhluk
berkelamin lelaki. Karena nyata nya hanya
0,1% spesies makhluk bernama lelaki yang
__ADS_1
bisa di pegang omongan nya. Sementara yang lain nya, BULSHIT
Ingin sekali Mela segera pergi karena ia saat ini benar-benar merasa muak dengan apa yang di lihat nya saat ini. Tapi demi kesopanan, ia tetap berusaha bertahan saat tangan yang semalam memeluk nya erat, kini tengah terulur mengusap pipi wanita lain.
"Mela, apa kamu baik-baik saja?" dr.Reymon bertanya dengan bingung saat mendapati Mela kini menepuk-nepuk dada nya untuk mengurangi rasa sesak yang terasa mengimpit dada nya.
"Sesak."
"Apa kamu memiliki riwayat penyakit asma? Apa perlu kita kembali ke rumah sakit?"
Sementara di sini Mela merasakan perasaan sesak yang semakin membuat nya terasa miris.
__ADS_1
"Aku ingin pulang." Hanya itu yang mampu Mela ucapkan saat ini.
Dan tanpa banyak tanya Dr.Reymon langsung menyanggupi permintaan Mela dan segera mengantarkan Mela ke rumah nya. Entah apa pun yang di pikirkan Dr.Revmon tentang Mela saat ini, Mela tidak peduli.Yang ia inginkan saat ini hanya pulang untuk membenahi pikiran dan hati nya agar tidak lagi merasakan perasaan sesak yang sempat melanda nya selama beberapa hari terakhir ini.
Jalanan padat ibu kota Jakarta tak cukup mengalihkan suasana hati Mela yang saat ini tengah gundah. Justru di tengah kemacetan yang ada ia malah semakin teringat kilas balik mengenai hubungan nya dengan Kak Wilden.
la ingin melupakan dan mengabaikan perasaan nya sebagai seorang wanita dan juga istri dari Kak Wilden, tapi hati nya menolak nya. la tidak menyukai perasaan ini
begitu menyesakkan dan membuat nya merasa muak.
Takdir hidup nya tak semulus apa yang ia inginkan, justu bagaikan jalanan terjal yang di penuhi pecahan kaca dan juga paku yang siap menancap untuk di lewati. Mungkin istilah itu terlalu berlebihan untuk di ungkapkan, tapi biarlah.
__ADS_1
Mela hanya ingin mengalihkan pikiran nya sejenak dari hal-hal yang membuat nya muak. Mela tau ia bukanlah wanita yang lemah, hanya saja ketika wanita yang lemah, hanya saja ketika melihat kebersamaan antara Kak Wilden dan Lena, ia benar-benar merasakan suatu hal yang membuat nya marah, kesal, muak, dan entah Mela bingung untuk menjabarkan nya.
Memang awal nya Mela mengira bahwa apa yang ia rasakan adalah perasaan sejenis cinta pada Kak Wilden, tapi dugaan nya salah. Perasaan ini hanyalah sebagai bentuk protes akan apa yang telah di dapatkan nya.