
Mela yang dapat merasakan terpaan napas hangat Wilden terasa begitu dekat dengan nya, perlahan mendongakkan kepala nya menatap Wilden yang saat ini hanya berjarak beberapa senti dari wajah nya.
Tanpa kata, Wilden segera menempelkan bibir nya pada bibir Mela, membuat Mela terkejut barang sejenak, sebelum kemudian ikut memejamkan kedua mata nya rapat saat secara perlahan Wilden mulai menggerakkan bibir nya pada bibir Mela.
Mela terdiam, tak tau harus berbuat apa saat Wilden mulai ******* bibir nya.
Sementara perasaan nya sudah berdebar begitu kencang, membuat tangan nya secara refleks mencengkeram baju bagian depan Wilden sebagai pegangan.
__ADS_1
'Tahan Wilden, tahan. Lagi pula, ada putri mu di antara kalian. Kau tak mungkin menyerang nya saat ini, bukan?'
Sebisa mungkin Wilden berusaha menjaga kewarasan nya yang mungkin bisa di pertanyakan untuk saat ini, karena bagaimana mungkin ia akan menyerang Mela dalam kondisi Lila yang tengah tertidur di antara mereka.
Perlahan tapi pasti, Wilden melepaskan pertautan bibir nya pada bibir Mela dengan kedua mata yang terpejam erat di sertai dengan hembusan napas nya yang mulai memberat.
Sementara Mela, jangan tanyakan lagi bagaimana wajah nya yang saat ini sudah benar-benar memerah malu setelah Wilden mencium nya.
Jika saja saat ini tidak ada Lila, mungkin Mela lebih memilih berbalik badan memunggungi Wilden karena rasa malu nya yang teramat sangat besar.
"Ayo tidur."
__ADS_1
Wilden kembali melingkarkan lengan nya untuk memeluk Mela dan juga Lila yang ada di tengah-tengah kedua nya, serta menarik selimut lebih tinggi untuk mengurangi hawa dingin yang mungkin saat ini telah sedikit banyak terkikis akibat ciuman mereka tadi.
Pagi yang mendung kini datang menjemput setelah semalam di guyur dengan deras nya air hujan dan kilat petir yang menyertai nya.
Beberapa tetesan embun yang menempel pada jendela kaca tampak mulai mencair hingga menimbulkan jejak basah yang sedikit memburamkan kaca jendela.
Tampak dalam kamar tersebut Mela saat ini tengah membuka jendela kamar nya yang seketika langsung menguarkan hawa sejuk di pagi hari. Membuat senyum lebar perlahan mulai terlihat pada bibir Mela.
Meski pun cuaca di luar tampak mendung, tapi tidak dengan perasaan Mela. Justru saat ini Mela merasakan perasaan nya begitu baik hingga senyum ceria tak kunjung lepas sari bibir nya sedari awal ia membuka mata di pagi hari.
Mela sudah bangun bahkan sejak langit masih terlihat petang, di tambah dengan cuaca mendung yang meskipun sekarang jam telah menunjukkan pukul 07.00 pagi tapi masih terasa bagaikan masih pukul enam pagi.
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi yang di buka membuat Mela menyadari bahwa Kak Wilden rupa nya telah selesai dengan acara mandi nya, dan tentu saja Mela tidak akan berbalik badan untuk melihat suami nya yang sudah dapat di pastikan oleh Mela saat ini tengah memakai pakaian yang telah disiapkan nya tanpa perlu repot-repot ke kamar mandi lagi untuk memakai nya.
Menyebut kata suami nya, entah kenapa membuat perasaan Mela seolah di liputi suatu hal yang tak dapat dijabarkan nya.