
Akan tetapi dari semua itu, Mela seakan harus lebih merasakan perih saat Wilden memutuskan untuk memeluk Lena dengan ekspresi yang sulit di artikan oleh Mela sendiri.
Tanpa bisa di cegah, perlahan bulir demi bulir air mata mulai menetes dari kedua pelupuk mata Mela yang terpejam. Sebisa mungkin Mela menahan suara isakan yang seakan ingin keluar dari bibir nya yang yang seakan ingin keluar dari bibirnya yang terkatup rapat.
Mela sengaja menggigit bibir bagian dalam nya agar suara isak tidak sampai keluar dari bibir nya, akan tetapi sekuat apa pun ia mencoba tetap saja pada akhir nya satu suara isakan berhasil keluar dari bibir nya yang bergetar.
Mengingat kembali saat-saat Wilden menarik Lena ke dalam pelukan nya, malah semakin membuat perasaan Mela di dera rasa sakit dan sesak di waktu yang bersamaan.
Bahkan kini rasa sakit itu terasa lebih menyesakkan dari yang sebelum sebelum nya ia rasakan, membuat Mela mencengkeram dada nya yang terasa di timpa beban berat hingga baju yang dipakai nya kini kusut karena nya.
Beberapa saat kemudian, Mela merasakan ada seseorang yang memperhatikan nya, membuat Mela perlahan membuka kedua mata nya dan berniat menyeka air mata yang masih membasahi pipi nya saat sebuah sapu tangan berwarna putih telah terulur tepat di
hadapan wajah sembab nya.
Mela mendongak dan sedikit merasa was-was jika saja yang ada di hadapan nya kini adalah Wilden. Saat mendongak, ternyata
__ADS_1
apa yang semula diduga nya ternyata salah.
seseorang yang mengulurkan sapu tangan di hadapannya kini bukanlah Wilden, melainkan
suami Lena. Entah mengapa, perasaan kecewa kembali mendera Mela saat menyadari bahwa bukan Wilden yang mengulurkan sapu tangan untuk mengusap air mata nya, tapi seseorang yang tidak dikenal nya.
Dengan ragu, Mela mengambil sapu tangan yang di ulurkan pada nya dan menyeka air mata nya lalu kembali berdiri.
"Terima kasih,"
Ucap Mela dengan tersenyum canggung yang hanya di balas dengan anggukan singkat oleh seseorang yang di ketahui Mela sebagai suami Lena dengan tatapan tanpa ekspresi nya sebelum beranjak pergi dari hadapan Mela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
menggelayuti dada nya.
Seusai mengantar Lena pulang, Wilden kini kembali ke kantor pengacara untuk mengambil beberapa berkas yang diperlukan nya untuk menangani beberapa kasus korupsi yang akan dikerjakan nya sebentar sebelum makan siang.
__ADS_1
"Pak Wilden."
Wilden menghentikan langkah kaki nya yang akan memasuki gedung perkantoran saat seorang resepsionis datang menghampiri nya.
"Iya, ada apa?"
"Ada titipan untuk bapak."
Wilden tampak mengerutkan kening nya sejenak saat resepsionis tersebut memberikan sebuah rantang makanan yang di bungkus kain berwarna abu-abu.
"Dari siapa?"
"Dari seseorang yang mengaku sebagai istri bapak, ucap resepsionis tersebut dengan tersenyum saat mengatakan nya pada Wilden.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi." Wilden hanya mengangguk sebagai balasan.
Tanpa bisa di tahan, seulas senyum Simpul tampak di bibir Wilden ketika mengetahui bahwa Mela sengaja memberikan nya makan siang, bahkan sampai menitipkan nya pada pihak resepsionis membuat Wilden merasakan perasaan hangat yang melingkupi dada nya.