Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
Luapan Emosi


__ADS_3

"Kak, lepaskan aku,"


Saat ini pikiran Mela benar-benar kalut antara marah, kesal, kecewa, sekaligus malu akibat posisi nya yang sangat tidak menguntungkan untuk bisa bergerak bebas.


"Tidak, dengarkan aku dulu. Aku waktu itu tidak menjemput mu karena aku memang ada petemuan penting dengan klien saat itu untuk membahas mengenai kasus pengalihan hak asuh anak. Baru setelah itu aku tidak sengaja bertemu dengan Lena di jalan dan aku menawari nya untuk naik ke mobil ku karena memang ada beberapa hal yang harus ku bahas dengan Lena mengenai proses gugatan cerai yang akan di layangkan Lena pada suami nya."


"Tapi setidaknya Kakak bisa menghubungi ku agar aku tidak menunggu hingga dua jam lebih di sana."


Suara Mela agak ketus saat mengatakan nya, sebelum akhir nya Mela memalingkan tatapan nya enggan menatap wajah Wilden.


"Aku akui kalau itu memang salah ku. karena pada saat itu ponsel ku mati kehabisan daya."


"Sebenar nya untuk masalah itu aku sudah tidak lagi mempermasalahkan nya."

__ADS_1


"Baiklah, berarti kamu setuju kalau aku akan menjemput mu jika ada waktu luang."


"Aku tidak menyetujui nya, aku akan tetap naik taksi."


"Jangan keras kepala Mela."


Tatapan mata Wilden kembali menajam mendengar penolakan Mela, karena memang Wilden adalah tipe pria egois yang tidak suka jika keputusan nya di tolak.


"Cukup Kak, jangan buat aku berharap dengan sikap Kakak yang seolah peduli dan menginginkan aku dalam hidup Kakak. Karena pada kenyataan nya aku bukanlah orang yang berarti bagi Kakak,"


"Apa maksud kamu La, bukankah kita sudah sepakat untuk memulai semua nya dari awal? Kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Kita memang sudah sepakat untuk memulai segala sesuatu nya dari awal, dan pada awal nya aku mengira bahwa apa yang Kak Wilden lakukan padaku selama ini adalah sebuah ketulusan bahwa Kak Wilden memang mulai menginginkan aku sebagaimana seorang istri yang sesungguh nya. Tapi semua pemikiran ku salah."

__ADS_1


Perkataan Mela terhenti saat ia menatap Wilden dengan kedua mata nya yang sembab dan juga tetesan-tetesan air mata yang coba ia usap dengan kasar agar ia tidak terlalu tampak menyedihkan, meski kenyataan nya itu semua hanya kesia-siaan belaka.


"Semua pemikiran ku mengenai Kak Wilden tak memang menginginkan aku sebagai seseorang yang cukup berarti dalam hidup Kakak musnah, saat aku melihat dengan sendiri nya sewaktu Kak Wilden memeluk Lena setelah pertengkaran antara Lena dengan suami nya."


"La kamu,"


Wilden terpaku, ia tidak menyangka bahwa saat itu Mela datang ke tempat persidangan dan melihat nya sedang memeluk Lena.


"Kamu ada di sana,"


"Iya Kak, aku ada di sana, dan aku melihat semua nya. Aku melihat mulai dari ketika bagaimana pertengkaran antara Lena dengan suami nya, lalu bagaimana aksi heroik Kak Wilden yang menyelamatkan Lena dengan menatap tajam suami Lena, bagaimana cara Kak Wilden menatap dan memperlakukan Lena dengan begitu lembut,"


Mela mengambil napas sejenak sebelum kembali meneruskan perkataan nya,

__ADS_1


"Hingga aku melihat sendiri bagaimana cara Kak Wilden menarik Lena dalam pelukan Kak Wilden dengan tatapan yang bahkan dengan sekali lihat orang-orang akan tahu bahwa Lena adalah orang yang penting dalam hidup Kak Wilden."


__ADS_2