
Suara getar ponsel yang menyala berulang kali membuat Mela yang masih memejamkan mata nya merasa terusik.
Awal nya ia benusaha mengabaikan suara getar ponsel yang mengganggu tidur lelap nya itu dengan semakin menenggelamkan wajah nya pada suatu yang terasa hangat dan
bidang.
Drttt drttt
Namun bukan nya berhenti, tetapi suara dering ponsel tersebut malah semakin berbunyi secara intens membuat Mela dengan berat hati membalikkan badan nya dari sumber kehangatan yang di rasakan nya
kini.
Dengan mata yang masih terpejam Mela meraba-raba nakas di samping tempat tidur nya dan mengambil benda pipih yang terus bergetar sedari tadi.
"Halo.." sapa Mela dengan suara serak nya khas baru bangun tidur
"Sya ini lo kan?"
"Hm iya, Cindy?" Tanya Mela dengan alis sedikit mengerut begitu menyadari bahwa yang menelepon nya di pagi buta ini adalah sahabat nya Cindy.
"Iya Sya, ini gue Cindy,"
__ADS_1
"Ada apaan telepon pagi-pagi gini?" Mela kembali berta nya masih dengan memejamkan mata nya.
"Gue cuma mau ngingetin lo kalo hari ini kita ada class meeting buat ngebahas masalah koas sebelum kita terjun langsung ke lapangan
"Oh iya, emang jam berapa?" Tanya Mela yang mulai mengumpulkan kesadaran nya dan berbalik menyamping membelakangi Wilden.
"Jam 7, tuh kan lo enggak tau. Untung gue ingetin lo, baik banget kan gue sebagai sahabat lo."
"Iya iya, thank's ya Cindy lo udah ingetin gue. Kalo gitu gue tutup dulu ya mau siap-siap. Bye Cindy!"
"Bye."
Sambungan telepon pun terputus dan kini Mela dapat merasakan seseorang kini tengah memeluknya dari arah belakang.
Mela yang merasa kaget secara perlahan menolehkan kepala nya ke belakang dan mendapati bahwa yang memeluk nya kini adalah Kak Wilden dengan kedua kelopak mata nya yang masih terpejam.
Blushhh😳☺️
Seketika kelebatan memori mengenai kejadian semalam mulai bermunculan dalam pikiran Mela sehingga membuat Mela memalingkan wajah nya yang saat ini tengah memerah karena malu.
Mela menutupi wajah nya dengan
__ADS_1
kedua tangan nya yang terasa begitu panas saat bayangan itu enggan pergi dari benak nya.
"Siapa yang menelepon tadi hm?" Wilden semakin mengeratkan pelukan nya pada pinggang ramping Mela dan menenggelamkan wajah nya pada perpotongan leher Mela. Ditambah dengan Wilden yang bertanya disela sela lekukan leher Mela dengan suara serak khas bangun
tidur nya yang terkesan errr seksi.
Mela semakin merasakan perasaan bergidik saat merasakan embusan napas hangat Kak Wilden yang menerpa kulit leher nya.
'Sumpah demi apa pun aku ingin menenggelamkan diri ku saat ini juga,' teriak
batin Mela yang saat ini merasakan seluruh aliran darah nya berdesir dan wajah nya terasa memanas
"I-itu sahabat ku, Cindy!" Mela kembali
menutuki dalam hati nya saat mendapati suara nya tang agak tersendat akibat posisi Kak Wilden yang masih memeluk nya kini.
Demi apa pun aku lebih memilih mendapati sikap cuek Kak Wilden dari pada sikap aneh nya Kak Wilden yang mampu membuat ku mati kutu seperti saat ini. Apa mungkin kepala Kak Wilden habis terbentur?
Atau Kak Wilden sedang mabuk? Mengapa
sikap nya aneh sekali.
__ADS_1
Mela terus mengutuk dalam hati nya mengenai sikap Kak Wilden yang berbeda 180 derajat dengan sikap nya beberapa hari belakangan ini.