
Mela kembali berpikir, jika memang yang semalam itu hanya mimpi, tapi mengapa terasa begitu nyata?
Mau tak mau kejadian semalam masih terus berputar-putar dalam benak Mela hingga dia tidak menyadari bahwa tak jauh dari tempat nya berdiri kini Wilden tengah menatap nya dengan seulas senyum di sudut bibir nya.
Tampak Wilden menggelengkan kepala nya pelan melihat tingkah Mela yang masih menenggelamkan wajah nya pada bantal dan terlihat enggan untuk bangun dari posisi tengkurap nya
"Ehem.."
Wilden sengaja berdehem untuk sejenak mengalihkan Mela akan keberadaan nya yang sama sekali tidak di sadari oleh gadis itu.
Dapat Wilden lihat tampak Mela yang merasa terkejut, sebelum pada akhir nya menegakkan kepala nya menatap pada sumber suara.
Sejenak, Wilden merasa terpaku saat Mela mendongakkan kepala nya untuk melihat ke arah nya yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Mela berada, untuk sesaat pandangan mata mereka beradu satu sama lain.
Meski dalam keadaan baru terbangun dari tidur nya, entah mengapa Mela tampak begitu cantik di mata Wilden saat ini.
Melihat mata coklat Mela yang jernih, tanpa sadar membuat Wilden seolah terhipnotis untuk terus memandang mata itu lebih lama lagi, bahkan ia sampai melupakan tujuan awal nya yang berniat akan mengucapkan ucapan selamat pagi pada Mela di karenakan lidah nya yang tiba-tiba terasa kelu untuk di gerakkan.
Selama beberapa saat, mereka tetap terdiam dalam pikiran nya masing-masing.
__ADS_1
Sebelum pada akhir nya, Mela yang
terlebih dulu memutuskan kontak mata di antara mereka dengan wajah memerah menahan malu dan kembali menenggelamkan wajah nya semakin dalam pada bantal.
Begitu pun dengan Wilden yang saat ini tengah berusaha memalingkan pandangan nya dari tubuh Mela yang entah mengapa terlihat cukup menggoda nya.
Hembusan napas kasar tampak keluar dari mulut Wilden saat ia berusaha menetralkan deru napas nya yang terasa semakin berat.
'Sial, apakah ini cobaan di pagi hari?'
Gerutu Wilden pelan dalam hati nya saat berusaha mengurangi hawa panas yang seketika terasa menyesakkan paru-paru nya Perlahan tapi pasti Wilden mulai melangkah mendekati Mela yang masih menenggelamkan wajah nya pada bantal tanpa mau memandang nya lagi.
Wilden memanggil Mela pelan, kemudian ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Mela yang dapat membuat nya lepas kendali dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
"La, ayo bangun."
Mendengar perkataan Wilden, membuat Mela melirik sedikit ke arah Wilden dan setelah nya kembali menenggelamkan diri nya pada bantal di bawah nya, bahkan kini Mela malah
menarik selimut untuk menutupi seluruh
__ADS_1
tubuh nya dan tidak menghiraukan perkataan Wilden sama sekali.
"Mela, cukup bermain-main nya. Ayo cepat mandi dan turun ke bawah, setelah ini kita akan segera ke rumah ibu untuk menjemput Lila."
"Tapi Kak itu."
Merasa gemas dengan tingkah tak biasa Mela membuat Wilden dengan gerakan sigap menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Mela dan melemparkan nya
ke sembarang arah.
Dan kesabaran Wilden kembali di uji saat ia mendapati bahwa Mela saat ini malah menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya seolah tak mau menatap Wilden.
"Mela, jangan kekanak-kanakan."
"Maaf Kak,"
Mela melepaskan kedua tangan nya masih dengan kepala yang menunduk enggan menatap Wilden di depan nya.
"Bisakah Kakak memakai baju terlebih dahulu."
__ADS_1