Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#41# Mulai Menerima


__ADS_3

"Yang jelas, di mataku pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Pernikahan bukanlah suatu permainan yang bisa di jalani ketika seseorang menginginkan sebuah ikatan, dan akan mengakhiri nya ketika sudah merasa bosan."


"Jadi maksud kakak, kakak tidak akan mempermainkan suatu pernikahan?"


Perlahan Mela berbalik badan menatap kedua mata Wilden tanpa segan.


"Lalu menurut kakak, apa yang Kak Wilden selama ini lakukan telah mencerminkan apa yang Kakak katakan?"


Tatapan mata tajam Wilden berpendar barang sesaat. Ia mencerna kata demi kata yang di ucapkan Mela dalam benak nya.


Dan pada saat itulah ia merasa telah menjadi lelaki brengsek, meski ia kini telah memiliki keinginan untuk merubah sikap nya menjadi


lebih baik.


Mela membuang pandangan nya ke arah lain saat mendapati kebungkaman Kak Wilden. la tidak bermaksud untuk memperkeruh suasana dengan mengungkit hal yang telah berlalu. Hanya saja, ia ingin mendapatkan sebuah kepastian. Kepastian akan masa depan rumah tangga nya.


Jika memang masih bisa di perbaiki, maka ia akan mencoba untuk kembali memulai dari awal, tanpa ada nya bayang-bayang pihak ketiga, dan yang lain nya.


Wilden tampak menghirup napas panjang dengan memejamkan kedua mata nya sesaat, sebelum kembali menampakkan kedua pupil mata hitam nya yang kini langsung

__ADS_1


bersibobok dengan pupil mata Mela yang


berwarna coklat.


Mela sedikit terkesiap saat kedua tangan besar Kak Wilden kini berada di kedua pundak nya, dan tampak mencengkeram nya dengan pelan.


"Kak,"


"Kakak tau apa yang Kakak lakukan selama ini tidak mencerminkan perkataan Kakak tadi. Kakak tau kamu pasti menganggap Kakak sebagai lelaki brengsek dengan segala sikap Kakak selama ini. Dan Kakak tau, kalau kamu menganggap Kakak tidak pernah serius dengan pernikahan ini."


Sejenak, Mela dapat merasakan cengkeraman Kak Wilden yang sedikit mengerat di kedua sisi pundak nya.


"Maaf atas semua sikap Kakak selama


ini, tapi yang harus kamu tau, kakak melakukan semua ini karena sebuah alasan." Mela tetap terdiam mendengarkan semua apa yang di ucapkan Kak Wilden.


"Awal nya Kakak berpikir, dengan sikap sepeti itu akan membuat Kakak dapat menepati janji Kakak pada seseorang. Tapi ternyata Kakak salah."


Mela semakin di buat bingung dengan semua perkataan Kak Wilden di depan nya. Semua perkataan Kak Wilden, benar-benar mengandung sebuah makna tersirat yang tidak di mengerti oleh Mela.

__ADS_1



Alasan? Janji pada seseorang? Apa maksud dari perkataan Kak Wilden, mengapa


begitu ambigu?


Kerutan di kening Mela kini perlahan memudar saat jari telunjuk Wilden menekan


kening Mela perlahan membuat Mela kembali dari pemikirannya.


"Jangan terlalu memikirkan nya, yang terpenting saat ini kakak sudah mulai menerima kamu.


Entah mengapa, perkataan Kak Wilden yang terakhir kurang lebih mampu membuat semburat merah muncul di kedua pipi Mela. Meisya berusaha mengendalikan debaran jantung nya yang tiba-tiba berdetak dengan keras.


Tidak.. tidak, jangan mudah terperdaya Mela.


Mela berusaha mengendalikan debaran jantung nya dengan memalingkan wajah nya ke arah lain, beruntung suasana kamar yang temaram dapat menyembunyikan kedua pipi Mela yang memerah.


"Apa ini berhubungan dengan Lena?"

__ADS_1


Mela kembali mengajukan pertanyaan itu setelah berhasil menetralkan detak jantung nya.


__ADS_2