Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#38# Spilling His Sorrow


__ADS_3

Perasaan protes akan kebebasan yang di renggut dengan paksa oleh Kak Wilden, perasaan akan rasa muak dengan segala


sifat sarkasme Kak Wilden, dan juga perasaan akibat ada nya ketidakadilan sikap yang di ambil Kak Wilden atas diri nya dan Lena.


Walau bagaimana pun Mela adalah wanita normal yang tentu mengharapkan mendapat perhatian berlebih dari suami nya, bukan malah berkebalikan nya. Terlalu mustahil rasa cinta itu tumbuh dengan segala sikap dan sifat Kak Wilden yang begitu memuakkan nya.


Namun, satu hal yang membuat nya mampu bertahan hingga saat ini, Lila. Hanya gadis mungil itu yang membuat nya mampu bertahan, bahkan Mela menyetujui pernikahan gila ini hanya demi Lila.


"Mela, kita sudah sampai di rumahmu." Ucapan Dr.Reymon sontak membuat Mela teralihkan dari lamunan nya. Mela mengamati sekeliling nya dan ia baru menyadari bahwa kini mereka memang telah berada di depan pekarangan rumah nya. Atau kini Mela menyebut nya rumah orang tua nya? Karena tentu saja yang di ketahui dr.Reymon Mela masih tinggal bersama kedua orang tua nya, bukan dengan Kak Wilden selaku suami nya.


Mengingat kembali tentang suami, membuat Mela merasa muak. Mela kini turun dari mobil dr.Reymon dan mengucapkan terima kasih sebelum dr.Reymon melajukan mobil nya meninggalkan rumah orang tua Mela.


Mela memandang rumah yang telah di tinggali nya selama 21 tahun hidup nya itu


dengan perasaan rindu yang membuncah.

__ADS_1


Mela melangkahkan kaki nya masuk dan


tatapan nya jatuh pada seorang wanita paruh


baya yang sangat di rindukan nya.


"Mama!"


Sebelum wanita paruh baya itu berbalik, Mela telah terlebih dahulu memeluk wanita yang di panggil nya mama itu dengan erat dari belakang.


"Mel kangen Mama." Mela semakin


erat memeluk mama nya. Tanpa terasa setitik


air mata telah jatuh dari sudut mata Mela saat memeluk mama nya dan dengan cepat pula ia mengusap nya lantaran tidak ingin membuat mama nya khawatir.

__ADS_1


"Mama juga kangen kamu Mel." Reina Holand kini mengelus punggung Mela dengan pelan saat ia mulai menyadari ada yang tidak beres dengan putri nya.


Perlahan Reina Holand menuntun Mela yang masih tidak mau melepaskan pelukan nya dan membawa nya menuju sofa ruang tengah.


"Kamu kenapa Mel?" Reina terus mengelus punggung putri nya dengan pelan, menunggu jawaban Mela.


"Mel enggak papa Ma, Mel cuma kangen sama Mama aja."


Mela kini beralih menidurkan kepala nya di pangkuan mama nya dan memeluk perut mama nya dengan erat. Entah untuk kesekian kali nya Mela berusaha mati-matian menahan laju air mata nya agar tidak menetes, meski pada akhir nya semua usaha nya gagal. Air mata itu meluluh membuat Mela semakin membenamkan wajah nya pada perut mama nya.


Mela memang begitu dekat dengan mama nya, ia selalu menumpahkan apa pun yang menjadi beban nya pada mama nya, tapi untuk masalah nya kali ini, Mela tidak bisa mengatakan nya.


Jadi tidak ingin membuat mama nya cemas dan khawatir, ia juga tidak ingin membuat situasi rumah tangga nya semakin runyam dengan ia menceritakan masalah nya pada orang tuan nya. Terutama jika sampai papa nya sampai mengetahui hal ini, entah apa yang akan di lakukan papa nya,


dan Mela tidak ingin mengambil risiko untuk itu.

__ADS_1


__ADS_2