Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#42# Setitik Air Mata


__ADS_3

Akan tetapi bukan nya berhenti malah kini detak jantung nya semakin berdebar menunggu respon dari jawaban Kak Wilden akan pertanyaan nya.


"Apa maksudmu Mela? Apa hubungan Lena dengan semua ini?"


Jawaban yang di berikan Kak Wilden sama sekali tidak membuat Mela lega, justru ia ingin sekali mengumpat atau pun membenturkan kepala Kak Wilden pada tembok atau pun benda keras saat ini juga.


Jadi dia selama ini tidak menyadari kesalahan nya?


' Sabar'kata itulah yang terus di ucapkan Mela dalam benak nya.


"Kak, siapa sebenarnya Lena?". Wilden mengerutkan kening nya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mela dengan santai.


"Sahabat, dia sahabatku sejak di bangku SMP."


"Benarkah hanya sebatas sahabat?"


Mela kini memicingkan mata nya curiga mengingat semua perlakuan kedua nya yang seperti lebih dari sekedar sahabat.


"Tentu saja. Kenapa? Apa kamu cemburu?"


Mela kembali membuang pandangan nya ke arah lain saat menyadari bahwa Kak Wilden kini tengah berniat menggoda nya dengan seringai tipis di sudut bibir nya.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya merasa bahwa perlakuan Kakak lebih dari sekedar sahabat."


Mela kembali berkata lugas berusaha tidak terpengauh dengan Kak Wilden.


"Benarkah?"


"lya, cara Kakak memperlakukan Lena selama ini, cukup mencerminkan bahwa Kakak memiliki sebuah rasa pada Lena."


Kali ini tidak ada lagi rasa segan atau pun canggung lagi dalam diri Mela, dengan berani ia menatap langsung kedua mata Kak Wilden tanpa ekspresi.


"Itu hanya pemikiran mu." Wilden kini


kembali menjawab dengan tatapan sama


Yang Mela tau, bahwa itu pertanda jika Kak Wilden tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai hubungan nya dengan Lena.


"Kakak berusaha menghindar" Mela tidak ingin mengalah, ia harus mendapatkan jawaban nya malam ini. Meskipun ia akan membuat Kak Wilden marah sekalipun.


"Lena hanya sahabat ku dan selama nya akan tetap seperti itu,".


Dari jawaban Kak Wilden, Mela dapat melihat bahwa rahang Kak Wilden sedikit mengeras saat mengatakan hal itu, membuat Mela kembali merasakan perasaan itu. Sesak.

__ADS_1


"Kakak mencintai Lena,"


Saat mengatakan hal itu, entah mengapa Mela kini merasakan kedua mata nya memanas, Mela mencoba mengabaikan perasaan sesak yang melanda dada nya.


Kak Wilden tetap diam dengan rahang mengeras, tak ada satu kalimat sanggahan pun yang keluar dari mulut Kak Wilden. Dan dengan keterdiaman Kak Wilden itu, Mela sudah dapat menebak bahwa dugaan nya


benar.


Mata Mela kini semakin terasa memanas, dan tanpa bisa di cegah setitik air mata tampak turun dari salah satu pelupuk mata nya.


Namun dengan cepat pula Mela mengusap nya dengan kasar lantaran tidak ingin membuat Kak Wilden tau bahwa Mela menangis.


Suara ketukan pada pintu membuat Wilden yang pada awal nya ingin menangkupkan pipi Mela terurungkan karena nya.


"Mel, ayo makan malam. Ayah sudah menunggu di meja makan, ajak suami mu


juga. Ayah sama Mama tunggu di bawah."


Setelah itu keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, Wilden bingung harus melakukan apa. Sementara Mela masih berusaha menghilangkan perasaan sesak dalam dada nya.


"Sebentar kak, aku ke kamar mandi dulu." Mela memutuskan keheningan dengan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya.

__ADS_1


Setelah nya Mela segera mengajak Wilden untuk ikut turun ke meja makan, di sana sudah terdapat Ayah dan Mama nya yang sedang menunggu kedatangan Mela untuk ikut makan malam.


__ADS_2