Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#6# Keluarga


__ADS_3

karena takut jika ia terlalu lama mandi maka akan membuat Wilden marah, lalu meninggalkannya ke rumah sakit sendirian.


 


Bukan nya tanpa alasan Wilden mengatakan bahwa badan Mela bau, karena sebenarnya aroma tubuh Mela tidaklah bau. Hanya saja Wilden beralasan seperti itu saat tanpa sengaja Mela memeluk nya dengan erat membuat kedua gundukan dadanya menempel erat dengan dada bidang nya yang hanya terbungkus kemeja putih.


Di mana hal itu membuat aliran darah Wilden berdesir dengan cukup kuat saat kelebatan bayangan tubuh telanjang Mela kembali berkeliaran di benaknya.


Sehingga ia menggunakan alasan itu agar dirinya tidak lepas kontrol dan melakukan hal yang tidak-tidak.


Setelah selesai dengan acara mandi kilatnya, Mela segera mengenakan dress selutut berwarna putih simpel, yang membalut tubuhnya. Di sertai dengan sweater rajut berwarna hitam, untuk meminimalisir hawa dingun di pagi hari pada tubuhnya yang memang hanya mengenakan dress tanpa lengan.


Mela segera melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan mendapati Wilden telah menunggu nya dengan sebal di ambang pintu, sebelum akhirnya segera masuk ke dalam mobilnya ketika mendapati Mela telah keluar dari kamar nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara deru mesin mobil tampak keluar dari pekarangan rumah Wilden dan melaju membela jalanan padat ibu kota menuju rumah sakit.adanya satu suara


Suara hening di dalam mobil, tanpa adanya satu suara dari keduanya yang berinisiatif membuka mulut untuk mencairkan suasana canggung yang melingkupi mobil saat ini. Wilden yang fokus dengan kegiatan menyetir nya, sementara Mela yang hanya diam saja tidak tau harus berkata apa. Sehingga selama perjalanan menuju ke rumah sakit tersebut hanya di isi dengan keheningan tanpa suara.


Tak lama kemudian tibalah mereka di parkiran rumah sakit, dan setelahnya mereka segera berjalan keluar dari parkiran menuju ke ruang rawat Lila saat ini.


Mela sedikit berlari kecil guna mengsejajari langkah lebar Wilden yang begitu cepat tanpa adanya niatan untuk menunggu Mela yang tertinggal jauh di belakang.


Akhirnya Mela menghentikan larinya dan berjalan dengan pelan karena takut akan mengganggu pasien yang lain jika ia berlari mengejar langkah lebar Wilden, dan tetap membiarkan Wilden berjalan mendahului nya untuk sampai ke ruangan Lila terlebih dahulu.


"Lelaki tak berperasaan!"


Ketika telah hampir sampai di depan ruang rawat Lila, dapat Mela lihat Wilden yang masih berada di ambang pintu kamar rawat Lila dan belum masuk ke dalam nya.

__ADS_1


"Mengapa kau lama sekali, ayo cepat masuk."


Wilden langsung menarik tangan Mela agar masuk ke dalam kamar rawat Lila saat ini. Membuat Mela bertanya-tanya apakah sedari tadi alasan Wilden tidak langsung masuk ke dalam kamar rawat Lila karena dia masih menunggu nya agar masuk bersama?


Setibanya di dalam kamar rawat Lila, Wilden langsung berjalan menuju ranjang tempat Lila berbaring lemah saat ini dengan masih menggandeng tangan Mela dengan erat.


"Sayang Papa ada di sini."


Wilden mengusap kepala Lila dengan satu tangan nya yang bebas lalu mengecup kening Lila dengan sayang.


"Papa, Mama."


Lila tersenyum senang, mendapati bahwa akhirnya dia bisa memiliki keluarga yang utuh sama seperti teman-teman nya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2