Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#49# Hangat dan Kenyal


__ADS_3

Selama beberapa saat Wilden mencerna


maksud perkataan Mela, hingga pada saat


ia menyadari bahwa sedari tadi ia hanya mengenakan sehelai handuk berwarna putih yang melilit pinggang nya.


"Kenapa hmm? Bukankah kita sepasang suami-istri, tentu tidak akan berdosa dan menjadi masalah besar meski kau melihat ku tanpa sehelai benang pun bukan."


Perkataan Wilden yang terkesan vulgar yang di ucapkan nya dengan nada tanpa dosa, mau tak mau semakin membuat aliran darah Mela seakan berkumpul di wajah nya.


Entah mengapa salah satu sifat Wilden yang suka sekali menggoda nya mau tak mau mampu membuat nya merasa jengkel, malu, dan tidak berkutik di saat bersamaan.


"Berhenti menggoda ku dan cepatlah berganti baju." Mela berkata dengan nada jengkel, berusaha menghilangkan kegugupan nya di depan Wilden.

__ADS_1


Bukan nya menjauh, Wilden malah mengabaikan perkataan Mela yang menyunuh nya berganti baju dan semakin mendekatkan diri nya pada Mela, mempertipis jarak di antara kedua nya.


"Wajahmu merona, aku menyukai nya," goda Wilden dengan seringai lebar nya.


Entah kalimat ejekan atau godaan yang di ucapkan Wilden membuat Mela semakin merasakan wajah nya memanas.


Jari telunjuk Wilden perlahan digunakan nya untuk memegang dagu Mela agar mendongak dan menatap ke arah nya.


Perlahan tapi pasti, Wilden semakin mempertipis jarak di antara mereka hingga Mela dapat merasakan deru napas hangat Wilden kini menerpa wajah nya yang masih memerah malu.


Detak jantung Mela berdetak keras saat sebelah tangan Wilden bergerak memegang belakang kepala nya dengan bibir Wilden yang masih setia menempel pada kening nya dengan lembut.


"Aku akan memakai pakaian."

__ADS_1


Wilden mengacak pelan rambut Mela sebelum berlalu menuju kamar mandi untuk


mengenakan pakaian.


Sementara di ranjang tersebut, Mela masih diam terpaku akan apa yang baru saja terjadi. Sungguh, pada awal nya ia mengira bahwa Wilden akan mencium nya di bibir.


Akan tetapi dugaan nya salah. Wilden mencium nya tepat di kening dengan begitu lembut seolah Mela adalah seseorang yang


cukup berarti dalam hidup nya.


Tak dapat di pungkiri, Mela dapat merasakan perasaannya mengembang sepeti dirayapi kupu-kupu yang beterbangan dalam dadanya dan sekali lagi, Mela kini mengambil bantal yang bisa diambilnya sebelum kembali menenggelamkan wajahnya entah untuk yang kesekian kalinya dalam pagi ini.


Suasana meja makan di rumah orang tua Mela kini hanya diisi dengan dentingan sendok yang memecah keheningan. Setidaknya Mela kini dapat sedikit bernapas lega saat mendapati bahwa Ayahnya telah berangkat ke rumah sakit, sehingga bisa sedikit meminimalisir keadaan canggung seperti waktu makan malam kemarin.

__ADS_1


Memang terdengar agak jahat saat Mela justru mensyukuri jika Ayahnya sengaja berangkat begitu pagi, mungkin untuk menghindari bertemu dengan menantu nya? Entahlah, itu hanya pemikiran Mela atau memang ada pasien yang memang membutuhkan nya hingga berangkat begitu pagi.


Mela dan Wilden sama-sama terdiam dan menikmati sarapan pagi nya dalam hening. Sementara ibu Mela saat ini tengah pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis, sehingga meja makan ini hanya diisi oleh Wilden dan Mela.


__ADS_2