Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
Sahabat


__ADS_3

Setelah melakukan perkenalan singkat, dan membahas apa saja yang akan dilakukan selama berada pada stase bedah, kini para dokter muda itu mengikuti instuksi dr.Reymon dan menjalankan tugas mereka dengan baik.


Tugas mereka dimulai dari melakukan follow up pada pasien, mengecek kondisi pasien selama beberapa jam atau bahkan 30 menit sekali, serta hal-hal lain yang memang telah mereka pelajari sebelum nya selama melakukan pro-Koas sebelum menjalankan masa koas yang sebenar nya seperti saat ini.


Mela sendiri lebih banyak mengikuti dr.Reymon mengingat tugas nya sebagai asisten dr.Reymon, meskipun begitu tetap saja tidak membantu mengingat berapa banyak pasien yang harus ia pantau kondisi nya sebelum memberikan hasil laporan nya pada dr.Reymon serta melakukan hal-hal yang diperintahkan dr.Reymon.


Tapi Mela merasa senang menjalani nya, karena dengan begitu mungkin akan sedikit banyak mengalihkan pikiran nya dari hubungan nya dengan Wilden yang belum membaik untuk saat ini.


Wilden saat ini tengah sibuk meneliti beberapa berkas yang ada di hadapan nya untuk di gunakan dalam menangani kasus korupsi yang seakan tidak ada habis nya untuk di persidangkan.


Wilden terus saja sibuk membolak balik dokumen berisi kertas-kertas penuh tulisan berharga di tangan nya tanpa menyadari seseorang yang tampak mendekati nya, bahkan orang tersebut kini telah berada di depan nya dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.


"Ehem.."


Orang tersebut berdehem sejenak seolah sengaja berniat menyadarkan Wilden akan keberadaan nya yang tidak di sadari oleh nya.

__ADS_1


Wilden yang mendengar deheman itu pun menghentikan kegiatan membolak-balik dokumen di tangan nya, lalu memandang sosok di hadapan nya dengan ekspresi malas yang tak di sembunyikan, dan kembali sibuk dengan berkas di tangan nya seolah keberadaan orang tersebut tidak berarti sama sekali.


"Hei. Wilden-Wilden lumut." Ejeknya


"Ck, berhentilah mengganggu ku, aku sibuk." Wilden berdecak pelan dan mengingatkan rekan nya agar tak mengganggu nya dengan tatapan yang masih terpaku pada lembaran kertas di hadapan nya.


"Ah, kau tidak asyik sekali, padahal aku sengaja meluangkan waktu ku untuk melepas rindu pada mu." jelasnya


Wilden yang mendengar nya hanya bisa menaruh berkas di tangan nya, di lanjut dengan menghembuskan napas panjang


"Kau, menjijikkan."


"Oh ayolah, mengapa kau serius sekali, lagi pula ini sudah mendekati jam makan siang."


"Terserah, apa urusanmu kemari?"

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin mengorek masalah rumah tanggamu. Kudengar, beberapa hari yang lalu istrimu membawakan mu bekal."


"Bukan urusan mu." Wilden menjawab dengan ketus pertanyaan dari Alvin yang selaku sahabat nya sejak mereka masih sama-sama berada di bangku kuliah di fakultas hukum.


Wilden mendengus pelan saat menyadari bahwa sahabat nya yang satu ini tidak akan pernah menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan, membuat Wilden merasa jengah.


"Sahabat macam apa yang bahkan saat menikah tidak memberitahu sahabat nya sendiri."


Sudah Wilden duga bahwa Alvin akan mempermasalahkan mengenai hal ini, tapi


biarlah cepat atau lambat ia akan mengetahui nya.


"Aku akan menceritakan nya, tapi tidak di sini, mungkin di kafetaria bawah."


"Oh, jadi saat ini istri muda mu tengah menjalani masa koas?"

__ADS_1


__ADS_2