
Wilden berdiri tegap menatap pekarangan rumah berlantai dua di hadapan nya kini. Suasana rumah yang asri melingkupi rumah ini, dengan berbagai jenis tanaman bunga dan juga beberapa pohon rindang yang menambah kesan sejuk dan hijau untuk sekedar melepaskan penat dari kepadatan kota Jakarta yang penuh polusi.
Semburat jingga di ujung senja pun kini mulai menenggelamkan diri nya secara perlahan, di gantikan dengan langit hitam yang mulai menerangi langit.
Hembusan udara sore ikut membuat Wilden menghembuskan napas nya barang sejenak,
sebelum ia dengan langkah pasti memasuki
rumah di hadapan nya.
Dalam hati ia berharap bahwa dugaan nya kali ini benar, bahwa apa yang sedang di cari nya kini memang ada di rumah ini.
Dengan pelan ia mengetuk daun pintu di hadapan nya. Tak lama kemudian, terdengar suara sahutan dari dalam yang sudah di pastikan Wilden sebagai ibu metua nya, Reina Holand.
Ketika pintu di buka, Reina langsung menyambut Wilden dengan seulas senyum tulus nya dan mempersilahkan Wilden agar memasuki kediaman keluarga Holand.
"Mau minum apa nak Wilden?" Tanya ibu Mela ramah pada Wilden yang baru memasuki ruang keluarga.
__ADS_1
"Tidak perlu Bu, apa saya boleh bertemu Mela?". Wilden menolak dengan sopan niat baik ibu mertua nya dan langsung mengatakan tujuan nya datang ke rumah ini.
"Ah baiklah, Mela masih ada di kamar nya. Kamu bisa ke sana sendiri kan?"
"Tentu, terima kasih Bu." Wilden membungkuk sekilas pada mertua nya dan segera bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Mela berada.
Tanpa mengetuk, Wilden langsung memutar kenop pintu bercat putih di hadapan nya yang untung nya tidak di kunci dari dalam. Wilden segera melangkah masuk ke dalam kamar Mela yang saat ini dalam keadaan temaram tanpa ada nya lampu yang di nyalakan.
Lantas pandangan mata Wilden langsung terpaku pada sosok yang tengah berdiri di depan jendela dalam keadaan terbuka, dengan semilir angin yang menerbangkan helaian rambut nya dengan lembut.
Wilden terdiam selama beberapa saat, sebelum ia memutuskan untuk menutup kembali pintu kamar Mela, dan berjalan menghampiri Mela yang masih tidak bergeming di depan nya.
Wilden menghentikan langkah kaki nya sejenak yang kini hanya berjarak dua meter dari tempat Mela berdiri menghadap ke
arah luar, tanpa ada niatan untuk menatap
Wilden yang berada di belakang nya.
__ADS_1
"Apa yang kakak pikirkan tentangku? Mengapa kakak datang kesini?"
Perkataan yang menjunus pada pertanyaan yang di ucapkan Mela, membuat Wilden kembali mengerutkan kening nya dalam. Berusaha mencerna maksud pertanyaan Mela, dan mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Namun setelah beberapa saat berpikir, akhir nya dengan ragu ia melanjutkan langkah kaki nya, hingga kini ia telah tepat berada di belakang Mela yang masih menatap lurus ke depan.
"Mela," Ucap Wilden ragu, dengan sebelah tangan nya yang terulur menyentuh pundak Mela pelan.
Namun Mela tetap bergeming, masih enggan menatap Wilden di belakang nya.
"Apa makna sebuah pernikahan di mata Kakak?"
Mela kembali mengajukan sebuah pertanyaan, yang membuat Wilden semakin
bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan
yang di ajukan Mela.
__ADS_1
"Mela, aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan mu ini." Wilden terdiam sejenak, sebelum kembali melanjutkan,