Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
Tidak Menerima Penolakan


__ADS_3

Mela yang di tatap seperti itu segera mengambil inisiatif untuk mendekati Wilden sambil mengucapkan salam dan mencium punggung tangan suami nya.


Ketika berada dalam jarak yang lebih dekat, pada saat itulah ia baru menyadari bahwa keadaan Wilden tampak sedikit berantakan dengan jas yang di taruh sembarangan di sofa, lengan kemeja yang di gulung asal hingga mencapai siku, serta dua kancing kemeja bagian atas nya yang telah terlepas hingga menampilkan sedikit dada bidang nya.


"Kak"


"Mengapa tidak menjawab telepon ku?"


Wilden langsung memotong perkataan Mela


dengan tatapan tajam nya yang langsung membuat Mela sedikit gentar saat Wilden menatap nya.


Berusaha mengabaikan tatapan tajam yang masih di lemparkan Wilden pada nya, Mela kini beralih memeriksa tas nya dan mengambil ponsel nya sebelum kemudian menunjukkan nya pada Wilden.


"Maaf Kak, ponsel ku mati."


Mendengar jawaban Mela membuat Wilden tampak memejamkan mata nya dan membuang napas sejenak, sebelum kembali


menatap Mela dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelum nya.


"Baiklah, jangan di ulangi. Dan lagi, kalau mau pulang telepon aku, jika ada waktu luang aku akan menjemput mu Mendengar hal itu, membuat Mela yang tadi nya masih berdiri kini beralih duduk di samping Wilden dengan mengambil jas kerja Wilden untuk dibawa nya bersama dengan jas putih milik nya.

__ADS_1


"Maaf Kak, tapi lebih baik aku naik taksi saja pulang nya."


Mela berusaha menolak permintaan Wilden yang akan menjemput nya dengan pelan, karena Mela tau kalau Wilden adalah orang yang cukup sibuk.


"Aku tidak menerima penolakan." Tegas Wilden.


Mela sedikit merasa deja vu saat Wilden mengatakan kalimat tersebut, karena kalimat tersebut adalah kalimat yang sama di ucapkan Wilden ketika meminta Mela


untuk menjadi istri nya, lebih tepat nya memaksa Mela untuk di jadikan istri nya.


"Tapi Kak, bukankah Kakak sibuk?"


Mendengar perkataan Wilden yang akan menjemput nya malah membuat Mela hanya bisa memutar bola mata nya jengah, entah mengapa saat ini ia malah mengingat saat dulu di mana Wilden mengingkari perkataan nya yang akan menjemput Mela dan malah pergi bersama Lena.


Sejenak, Mela memberikan senyuman manis nya pada Wilden sebelum kembali berkata.


"Tidak usah memberi ku harapan Kak, kalau pada kenyataan nya Kakak hanya akan membuat ku menunggu dalam ketidakpastian.


"Apa maksud mu La?"


Wilden segera mencengkeram pergelangan tangan Mela yang hendak berdiri dan kembali

__ADS_1


menarik nya hingga terjatuh ke pangkuan Wilden yang lantas membuat Mela berjengit kaget.


"Kak, lepaskan."


"Tidak, jawab dulu maksud perkataan mu tadi..?"


Dengan wajah yang sedikit memerah karena posisi nya yang tidak menguntungkan, di mana sekarang posisi Mela tengah terduduk di pangkuan Wilden, sementara Wilden sendiri kini tampak mengunci pergerakan tubuh nya dengan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Mela untuk mencegah Mela agar tidak bisa pergi


"Dulu kakak juga pernah berkata akan menjemput ku, tapi nyata nya kakak malah mengingkari nya."


"Untuk yang itu aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi nya. Waktu itu aku tidak menjemput mu karena aku harus


bertemu dengan klien."


"Oh iya? Setahuku Kakak habis pergi berjalan-jalan dengan Lena.


"La, dari mana kamu tau?"


Wilden sedikit mengendurkan pegangan tangan nya pada pinggang Mela sebelum kemudian kembali mempererat pelukan nya dengan melingkarkan kedua lengan nya saat Mela lagi-lagi mencoba untuk lepas dari


pangkuan nya.

__ADS_1


__ADS_2