
Wilden telah menyuruh Mela agar pulang tetapi Mela tetap keras kepala dan memutuskan untuk tetap menunggu Lila di kamar inapnya.
Hingga kini tampak Mela yang tertidur di samping ranjang Lila dengan posisi duduk dan kepala yang ditelungkupkan di antara kedua tangan nya.
Melihat hal itu Wilden yang baru saja keluar untuk membeli minuman di minimarket terdekat hanya menghela nafas panjang melihat nya. Merasa kasihan melihat posisi tidur Mela yang tidak nyaman, akhir nya Wilden memutuskan untuk mengangkat Mela dan menidurkan nya di sofa dalam ruang rawat Lila.
Sementara Wilden sendiri memutuskan untuk menghampiri ranjang Lila dan mencium kening Lila dengan sayang, sebelum akhir nya ikut tertidur di atas kursi menggantikan posisi Mela sebelum nya.
Perlahan Mela mengerjapkan kedua mata nya tatkala sinar mentari mulai menyilaukan pandangan nya.
Dilihat nya keadaan sekitar dan menyadari bahwa diri nya kini tengah tertidur diatas sofa, dengan sedikit heran Mela bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi.
Kembali mengingat Bagaimana bisa ia tertidur di sofa, sementara dia jelas mengingat bahwa semalam iya tidur di samping ranjang Lila Dalam posisi duduk.
Setelah selesai mencuci muka di kamar mandi, Mela kembali keluar dan kini telah mendapati Wilden sudah duduk di sofa dengan pakai yang berbeda dari semalam.
__ADS_1
"Makanlah, aku tadi membeli nya di depan."
Dengan ragu Mela mulai mendudukkan diri nya di samping Wilden dan mulai mengambil makanan yang diberikan Wilden pada nya.
"Kakak sendiri sudah makan?"
"Hm."
Mendapati jawaban tak jelas dari Wilden membuat Mela hanya membuang nafas nya sejenak sebelum akhir nya memakan makanan nya, karena perut nya sudah proses minta diisi sedari tadi.
"Mandi dan pulang lah, aku tahu kamu merasa tidak nyaman dengan memakai baju mu yang semalam. Biar aku yang menjaga Lila di sini."
"Tapi Kak, Baiklah!"
Mela yang mendapati tatapan mengintimidasi dari Wilden akhir nya mengalah dan menuruti permintaan Wilden yang menyuruh nya untuk pulang.
__ADS_1
"Kak aku pulang, nanti aku ke sini lagi. Assalamualaikum!"
Pamit Mela pada Wilden, tidak lupa Mela menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan suami nya.
Meskipun sikap Wilden sangat jauh dari yang diharapkan Mela, tetapi Mela tetap berusaha menghormati nya sebagai suami nya yang sah.
Wilden tetap diam tidak membalas perkataan dan hanya membalas salam Mela dalam hati. Mata nya yang tajam terus mengamati punggung Mela yang telah menghilang di balik pintu.
Setelah kepergian Mela, Wilden perlahan menghembuskan nafas nya dalam menghilangkan sedikit rasa sakit yang menghimpit dada nya saat ini.
Pasalnya, Wilden mengetahui bahwa perilaku nya pada Mela selama mereka menikah tidak lah baik, sebagai seorang suami dan ia tidak menyangkal nya.
Tapi entah mengapa hati nya masih belum bisa menerima kehadiran Mela di dalam kehidupan nya.
Bukan karena dia masih mencintai istri nya. Hanya saja, ia masih merasakan perasaan kosong. Perasaan kosong semenjak pergi nya wanita itu, wanita yang berhasil membuat nya jatuh cinta untuk pertama kali nya.
__ADS_1
Bahkan saat dia menikah dengan mendiang istrinya, hati nya masih tetap terpaut pada wanita itu. Wanita yang berhasil membuat nya merasakan jatuh cinta dan sakit di saat yang bersamaan.