Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#43# Makan Malam


__ADS_3

Suasana meja makan terasa begitu hening dan canggung, hanya suara ibu Mela yang sesekali bertanya dan mengisi keheningan di meja makan, sementara Wilden sendiri hanya menjawab seperlu nya sebagai bentuk sopan santun pada ibu mertua nya.


"Mel, ambilkan suami mu sayur sup nya."


"Iya Ma," Mela hanya menuruti perkataan Mama nya tanpa banyak protes.


Sementara di meja paling ujung, tampak Ayah Mela Ronald Holand hanya diam tanpa memasang ekspresi hangat nya sama sekali. Bahkan tak ada niatan untuk menyapa menantu nya yang ikut bergabung di meja makan.


"Kapan kamu akan memulai koas mu Mela?"


Akhir nya setelah keheningan yang terasa mencekam, kini Ayah Mela angkat bicara, mengabaikan Wilden yang memakan makanan nya dalam diam.


"Lima hari lagi Ayah."


Mela hanya menjawab pertanyaan Ayah nya sekenanya, dengan sesekali ia melirik pada Kak Wilden yang hanya memasang wajah tenang nya seolah tidak bermasalah dengan sikap antipati Ayah nya.


"Dr.Reymon adalah dokter yang berdedikasi, kamu beruntung bisa di bimbing secara langsung oleh nya."


"Iya Ayah, Mela juga tidak menyangka jika Dr.Reymon memilih Mela menjadi asisten pribadi nya sewaktu koas."

__ADS_1


"Mungkin dia melihat dari prestasi kamu yang bisa di andalkan."


Setelah nya suasana ruang makan kembali hening, hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu di meja makan membuat suasana semakin canggung.


"Mel, apa kamu sudah meminta ijin suami mu selama koas?"


Pertanyaan Mama Mela membuat Mela mengerjap selama sesaat.


"Belum Ma." Mela mengucapkan nya dengan suara pelan menyadari kesalahan nya.


"Ck, kamu itu bagaimana sih Mel. Kamu harus ingat kalau sekarang kamu sekarang sudah bersuami, semua yang akan kamu lakukan harus mendapat persetujuan dari suami kamu." Reina Holand langsung saja mengomeli Mela yang lupa meminta ijin mengenai praktik magang nya pada Kak


"Mela lupa Ma."


"Jangan di ulangi lagi."


Mama Mela kembali menggerutu pelan mengingat sifat pelupa Mela.


"Sudahlah Ma, lagi pula Wilden sudah pasti setuju dengan koas Mela. Bukan begitu Wilden?"

__ADS_1


"Iya Ayah."


Perkataan Ayah Mela hanya di angguki sopan oleh Wilden. Wilden tentu mengerti dengan maksud perkataan Ayah Mela yang seolah mengatakan bahwa ia tidak menerima penolakan.


"Wilden, bisa ikut saya?"


Ayah Mela yang sudah selesai makan langsung menginterupsi Wilden agar mengikuti nya ke taman belakang. Entah hal apa yang akan dibicarakan nya, Wilden hanya patuh dan bergegas mengikuti Ayah mertua nya tanpa banyak protes.


Mela memegang pergelangan tangan Kak Wilden dengan tatapan meminta maaf nya


akan sikap Ayah Mela yang tidak bersahabat pada Kak Wilden dan Wilden pun hanya memasang senyum tipis nya yang mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa, sebelum akhir nya kembali melanjutkan langkah nya menyusul Ayah mertua nya ke


taman belakang.


Suasana kamar yang temaram kembali menjadi saksi keterdiaman sepasang insan dalam diam nya. Jendela kamar yang masih terbuka tampak sesekali menerbangkan tirai kelambu berwarna putih tulang dengan pelan, menebarkan suasana dingin nya malam yang terasa menusuk kulit.


Mela tetap terdiam, terduduk di pinggiran ranjang tanpa tau harus memulai percakapan dari mana. Sementara dilain sisi, Wilden juga masih terdiam tak jauh di samping Mela.


Tak ada yang membuka suara sama sekali, sementara udara malam yang dingin semakin terasa membekukan kulit, membuat Mela sesekali menggosokkan kedua tangan nya dan memeluk lengan nya sendiri untuk menghalau hawa dingin yang terasa menembus baju tidur nya.

__ADS_1


__ADS_2