
Saat Wilden hendak mengambil beberapa berkas yang tertinggal di laci kamar nya tadi, tak sengaja ia mendengar suara tawa Lila yang begitu riang mengawali pagi hari.
Merasa penasaran, akhir nya Wilden mengintip melalui celah-celah pintu kamar Lila yang tidak tertutup sepenuh nya.
Seulas senyum tipis perlahan ter sungging di sudut bibir Wilden saat mendapati keceriaan Lila, karena biasa nya Lila paling susah saat baru bangun tidur.
Bahkan Wilden terkadang sampai bingung bagaimana cara nya untuk membangunkan gadis kecil nya itu agar ter bangun, tapi syukur lah Mela bisa membangunkan Lila bahkan bisa membuat Lila tertawa saat ter bangun dari tidur nya.
Setelah selesai membangunkan dan membantu Lila mandi, kini Mela dan Lila tampak turun dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir kedua nya.
Mela kini telah duduk di meja makan yang ber seberangan dengan Wilden di ikuti Lila yang duduk di sebelah nya. Mereka makan dalam diam, di sertai dengan Lila yang merengek minta di suapi oleh Mela yang tentu saja di turuti Mela dengan senang hati.
Lagi-lagi Wilden hanya melihat kedekatan kedua nya dengan seulas senyum tipis yang bertengger di bibir nya.
__ADS_1
Melihat kasih sayang yang di curahkan Mela pada putri kecil nya, entah mengapa membuat perasaan Wilden menghangat. la ingin tetap melihat
kebahagiaan Lila, karena bagaimanapun
kebahagiaan Lila adalah prioritas nya saat ini.
Semenjak insiden di mana Wilden mencium Mela untuk yang pertama kali nya, sejak saat itu lah hubungan mereka mulai di landa kecanggungan. Entah sikap Mela yang selalu berusaha menghindar dari nya, atau bahkan sikap Wilden yang lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.
Meski ia mengakui jika dia sama sekali tidak menyesali atas apa yang di lakukan nya pada Mela, bahkan mungkin ia menginginkan lebih? Entah lah. Maka dari itu ia memutuskan untuk menyibukkan diri agar tidak kembali kelepasan untuk melakukan yang lebih kepada Mela.
Yah meskipun jika ia melakukan nya juga merupakan hal yang wajar. Bagaimana pun mereka adalah sepasang suami istri bukan? Akan sangat wajar jika Wilden menginginkan istri nya seperti pada saat di depan kamar mandi kemarin.
Tapi ia tidak ingin menjadi lelaki brengsek yang akan melakukan nya hanya karena nafsu semata, sementara dengan jelas ia tahu bahwa tidak ada kesiapan apa pun dalam diri Mela.
__ADS_1
Bahkan bisa di kategorikan bahwa pernikahan yang di jalani nya saat ini adalah karena keterpaksaan, mengingat ia sempat mengancam Mela agar mau menikah dengan nya
"Kamu akan pergi ke mana?" Wilden membuka suara tatkala ia mendapati pakaian rapi Mela.
"Em.. aku berencana akan berangkat ke kampus setelah mengantar Lila ke sekolah, karena surat ijin ku hanya berlaku satu minggu." Ando hanya menganggukkan kepala nya setelah mendengar jawaban Mela.
"Biar aku yang akan mengantar."
Perkataan Ando sontak membuat Mela yang masih mengunyah makanan nya mendongak dan mendapati Wilden telah selesai dengan sarapan nya.
"Tapi kak, aku bisa naik taksi." Tolak Mela
"Aku tidak menerima penolakan Mela. Lagi pula kau istri ku."
__ADS_1