Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#16# Terasingkan


__ADS_3

Mendapati jawaban dari Wilden membuat Lena menundukkan kepala nya dalam, seluruh ekspresi bahagia dan senyum yang selalu tersinggung di bibir nya kini telah memudar di gantikan dengan raut kekecewaan.


"Maaf, aku terlalu bersemangat membahas mengenai sidang perceraian ku tanpa memperhatikan keadaan mu."


Terlihat Wilden menghembuskan napas nya sejenak sebelum kembali menatap Lena dengan tatapan yang lebih lembut.


"Maaf Lena, aku tidak bermaksud. Bagaimana jika kita membicarakan nya setelah aku membawa pulang Lila"


Itu lah kelemahan Wilden, ia paling tidak bisa melihat raut kekecewaan Lena. Selalu seperti itu sejak pertama pertemuan nya dengan Lena, bahkan sampai saat ini.


"Benarkah? Bagaimana jika aku datang ke


rumah mu, agar kamu tidak perlu repot-repot menemui ku"


"Baiklah!"


Hanya kata itu yang di ucapkan Wilden sebelum akhir nya beranjak menghampiri Lila yang telah mengulurkan kedua tangan nya dan langsung di gendong oleh Wilden.

__ADS_1


Setelahnya Wilden langsung berjalan keluar dari ruang rawat Lila tanpa sedikit pun menoleh pada Mela yang masih berdiri tepat di samping ranjang tempat Lila di rawat tadi.


Perasaan sesak kembali menghampiri Mela saat mendapati bahwa lagi-lagi hanya pengabaian yang di dapati nya.


Mela ikut berjalan di belakang Wilden dan Lena yang berjalan bersisian di depan nya. la


kembali merasakan perasaan nya terasa begitu sesak saat mendapati posisi nya, sekuat tenaga ia menahan mata nya yang sudah terasa berkaca-kaca


Akan terasa sangat memalukan jika sampai ia menangisi seseorang yang bahkan sama sekali tidak menghiraukan kehadiran nya.


"Ah aku mau naik taksi, kebetulan aku tidak membawa mobil."


Lena kembali mengembangkan senyum manis nya saat mendapati tangan Wilden yang memegang pergelangan tangan nya.


Perasaan nya menghangat, perlakuan Wilden masih sama seperti dulu. Tidak pernah berubah.


"Ikut lah bersama mobil ku, Mela tidak akan keberatan."

__ADS_1


Wilden akhir nya melirik sekilas Mela seolah meminta persetujuan. Sedangkan Mela hanya menampak kan senyuman nya.


'Mengapa juga harus minta persetujuan ku, bila perlu aku yang akan naik taksi,' batin Mela menyuarakan kejengkelan nya yang dengan sempurna berhasil ia tutupi dengan senyuman manis nya.


"Baiklah." Kata Lena


Mela beranjak terlebih dahulu memasuki pintu belakang mobil dengan menggendong Lila yang sebelum nya telah merengek meminta di gendong oleh Mela dan tentu saja dengan senang hati Mela menerima uluran tangan Lila untuk mengalihkan rasa sesak yang mengimpit dada nya.


Mobil ber jalan meninggal kan parkiran rumah sakit dengan Wilden yang menyetir dan Lena yang duduk di sebelah nya. Bahkan kini Mela menyadari bahwa kini ia tak ubah nya hanya di jadikan sebagai pengasuh Lila jika di bandingkan sebagai istri.


Tapi tetap saja ia harus kuat, karena satu satu nya alasan ia mau menikah dengan Wilden hanya karena Lila. Tidak lebih.


Setiba nya di rumah, Wilden langsung menggiring Lena menuju ruang kerja nya setelah ia mencium kedua pipi gembul Lila.


Jangan tanyakan bagaimana sikap Wilden pada Mela, bahkan ia hanya melirik sekilas pada Mela setelah mencium kedua pipi Lila. Tak ada satu kata pun yang terucap, membuat Mela seakan hanya sebuah manekin yang bergerak.


Ingin rasanya Mela mencakar dan menyumpah serapah pada Wilden, andai saja ia bukan suami nya.

__ADS_1


__ADS_2