Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#44# Membuka Pikiran


__ADS_3

Saat angin dari luar semakin berembus kencang, Mela pada akhir nya memilih untuk beranjak menuju jendela kamar nya, sebelum ia merasakan sebelah lengan nya di pegang oleh seseorang yang sudah dapat di pastikan oleh Mela bahwa itu Kak Wilden.


Mela terdiam untuk sewaktu-waktu, helaian rambut nya yang kemerahan beberapa kali di terpa angin luar yang masuk melalui jendela. Mela memejamkan ... sebelum akhirnya pada akhir nya membalikkan tubuh menghadap ke Wilden yang masih menggenggam tangan.


Kedua sorot mata mereka kembali bertatapan selama beberapa saat. Banyak terdapat pertanyaan atau pemikiran-pemikiran yang mereka coba bagikan melalui tatapan mata.


Hingga tangan Wilden terulur untuk menarik Mela perlahan agar kembali terduduk tepat di samping nya. Berulang kali Wilden ingin angkat bicara untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta di antara mereka berdua, tetapi ia kembali mengatupkan rapat-rapat bingung hanus memulai dari mana.


Karena mereka memulai segala sesuatu nya dari awal dengan cara yang salah, dan untuk meluruskan nya kembali juga tidak akan semudah yang mereka bayangkan.


"La .."


"Kak .."


Kedua nya kembali terdiam, bertatapan untuk di atur, sebelum Mela memutuskan untuk memulai terlebih dahulu.


"Kak, maaf atas sikap Ayah tadi."

__ADS_1


Entah mengapa dari sekian banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak Mela, justru kata maaf atas sikap ayah nya yang terlintas di dalam benak nya saat ini.


"Tidak masalah, lagi pula aku pantas mendapatkan nya." Wilden tersenyum kecut saat mengatakan nya, membuat Mela semakin merasa tak enak hati.


"Kak,"


"La, bisakah kita mulai dari awal?"


Pertanyaan Wilden yang memotong perkataan Mela kontan terdiam selama sesaat.


"Maksud kakak?"


Dengan ragu Mela bertanya pada Wilden yang saat ini tengah menatap nya dengan raut wajah serius nya.


"Aku ingin memulai segala sesuatu nya dari awal."


Ujar Wilden serius membuat perasaan Mela terasa meremang barang sewaktu-waktu.

__ADS_1


"Apa yang mendasari Kakak ingin memulai semua nya dari awal?"


Bukan nya menjawab, justru pertanyaan lah yang di lontarkan Mela untuk melihat isi pikiran Wilden yang sangat sulit di tebak menurut nya.


"La, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Sedari awal kita memulai sebuah hubungan dengan cara yang salah, oleh sebab itu aku ingin memperbaiki semua nya dari awal."


Mela kembali terdiam selama beberapa saat, pikiran nya berkecamuk berbagai kemungkinan dari keputusan yang akan diambil nya.


Apakah mungkin dengan memulai segala sesuatu nya dari awal akan memperbaiki hubungan mereka, atau malah semakin memberikan jarak pada hubungan mereka.


"Apa yang membuat Kakak memilih memulai segala sesuatunya dari awal, sementara Kakak sendiri menyadari bahwa sama sekali tidak ada cinta di antara kita berdua."


Pada akhir nya hanya kata itulah yang mampu di ucapkan Mela, karena ia yang menurut nya saat ini hanyalah sebuah kepastian yang diinginkan nya.


Jika Wilden memang bersungguh- sungguh dengan ucapan nya, mungkin ia masih bisa untuk mempertimbangkan nya. Karena bagi Mela semua nya masih terasa sangat abu-abu terpencil, bahkan perasaan nya pun masih abu-abu.


"Jika boleh menyatakan jujur, aku akui kalau aku mulai merasa tertarik padamu. Meski seperti apa yang kamu katakan tadi, bahwa masih belum ada perasaan cinta yang bertumbuh dalam diri kita masing-masing, tapi apa salah nya jika kita mencoba memulai nya dari awal lagi. kita akan bersama-sama, bukan hanya berpasrah."

__ADS_1


__ADS_2