Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#3# Malam Pertama prt 1


__ADS_3

Kemudian setelahnya Mela mencium punggung tangan Wilden, dan Wilden yang mencium kening Mela. Lalu mereka segera menandatangani surat nikah secara resmi. Mereka segera menandatangani surat nikah secara resmi.


 


Pernikahan ini tidak dilakukan secara mewah, hanya sebuah pesta pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat.


 


Lila ikut turut serta di acara pernikahan ini, tampil cantik dengan dress berwarna biru muda sepanjang mata kaki tanpa lengan. Tapi ia tetap menggunakan kursi roda dengan senyum mengembang sepanjang acara pernikahan berlangsung.


'Tuhan...apakah yang kulakukan ini benar?'


Mela berjalan mondar mandir di depan maje rias yang ditempatnya saat ini. Acara pernikahan telah selesai diadakan, dan Lila telah kembali menjalani perawatan di rumah sakit.


Sebenernya Mela ingin ikut menemani Lila ke rumah sakit bersama keluarga nya Wilden, tapi mereka menolak dan mengatakan bahwa Mela dan Wilden tidak diperbolehkan ikut ke rumah sakit karena ini adalah malam pertama mereka.

__ADS_1


Mengingat malam pertama, malah semakin membuat Mela gugup dan menggigiti jemari kuku nya tanpa sadar. Mela bukan orang munafik yang tidak mengetahui apa saja yang dilakukan sepasang suami istri di malam pengantin. Tapi jika boleh jujur, saat ini Mela benar-benar tidak, atau lebih tepatnya belum siap sama sekali jika harus


 


 


menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Apalagi ini semua terjadi dalam jangka waktu yang terlalu mendadak, membuat Mela sama sekali tidak bisa berpikir jernih.


 


 Kemudian Mela melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk segerah merendam tubuhnya di dalam bath up berisi air hangat agar bisa merilekskan sekujur tubuhnya yang terasa pegal seharian ini.


Mela melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya dengan sedikit bersusah payah, tapi untunglah gaun itu bisa terlepas sehingga Mela tidak harus minta bantuan kepada Wilden untuk membantu nya melepaskan gaun pengantin, seperti yang sering dibaca Mela pada cerita novel romansa kesukaannya.


Ketika sedang asyik berendam, perkataan Wilden ketika di rumah sakit kembali terngiang di benak Mela.

__ADS_1


"Meskipun kita menikah bukan atas dasar cinta, tapi bagiku pernikahan bukanlah sebuah permainan. Tidak ada kata perceraian meski pun Lila telah sembuh total. Aku akan tetap memperlakukanmu selayaknya seorang istri serta menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami, dan kuharap kau pun melak ukan yang sebaliknya.".


'Tidak akan ada penceraian..., tidak akan ada penceraian...,' Mela terus mengulang kata-kata tersebut di benaknya, hingga ia tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi yang lupa dikuncinya terbuka, lalu muncullah sosok Wilden dalam balutan handuk putih menutupi bagian pusar kebawah di atas lutut.


Ketika Mela membuka kedua matanya yang terpejam, ia sontak merasa kaget saat mendapati Wilden telah berdiri tegap didepan pintu kamar mandi dan tengah melihat tubuhnya dengan ekspresi yang sulit di mengerti oleh Mela.


'Bodoh! Bagaimana mungkin aku lupa mengunci pintu kamar mandi.' Mela yang malu segera meringkuk di dalam bath up yang sialnya tersebut telah habis dan hanya menyisakan sedikit busa untuk menutupi tubuh telanjang Mela.


'Pantas saja dia melihatku tanpa kedip, dia lelaki normal. Dasar Mela bodoh! Bodoh!'


" Ehem....maaf, kukira tidak ada orang di dalam, dan aku juga tidak mendengar bunyi air serta pintu tidak di kunci." Wilden berkata dengan suara yang agak 'serak', serta pandangan mata yang tidak fokus mencoba mengalihkan pandangannya dari tubuh telanjang Mela yang tidak tertutup busa sabun.


Tanpa aba-aba Wilden segera melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Mela yang telanjang dengan membuka dan menutup pintu agak keras menimbulkan suara berdebum yang cukup kencang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2