Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#17# Suara Tawa


__ADS_3

' Untung saja status mu adalah sebagai suami ku. Jika tidak mungkin aku tidak akan ragu mencakar dan mencaci maki mu!'


Geram Mela dalam hati nya sebelum


memutuskan untuk memasuki kediaman keluarga Xaverius.


Kini Meisya termenung seusai ia menemani Lila bermain hingga sampai Lila telah tertidur pulas di kamar nya yang ber nuansa serba pink ini.


Tangan Mela terus terulur membelai surai Lila yang terasa halus di tangan nya, sambil sesekali pikiran nya ber kecamuk menelaah bagaimana suasana hati nya kini.


Terlalu dini jika ia mendefnisikan rasa sesak yang mendera nya kini sebagai rasa suka atau sejenis nya, karena Mela yakin benar bahwa rasa itu belum hadir setidak nya untuk saat ini.


'Belum hadir?' Mela kembali


menggelengkan kepala nya saat mendapati pemikiran nya tadi. Membayangkan jika sampai ia berhasil jatuh cinta pada Wilden membuat dada nya semakin sesak.


'Tidak, aku tidak boleh sampai jatuh


cinta pada kak Wilden. Sebelum perasaan ku semakin tersakiti.

__ADS_1


Sekali lagi Mela kembali menggelengkan kepala nya dan beusaha mengesampingkan perasaan nya agar tidak sampai terjerat pada pesona Kak Wilden.


Memang tidak ada yang melarang seorang istri untuk mencintai suami nya sendiri, tapi melihat perilaku Wilden pada nya selama beberapa hari ke belakang semakin membuat nya vakin bahwa untuk menaruh hati nya pada Wilden adalah suatu hal yang tidak di inginkan nya.


Entah sampai kapan perang dingin yang selalu di lancarkan Wilden pada nya akan


segera berakhir, memikirkan nya saja entah


sudah membuat Mela telah menghembuskan napas nya ber kali-kali Setelah yakin bahwa Lila telah benar-benar tertidur pulas, kini Mela per lahan beranjak pergi dari kamar Lila menuju kamar nya.


Ketika baru saja keluar dari kamar rawat Lila, tak sengaja Mela mendengar suara tawa dari ruang keluarga, merasa penasaran akhir nya Mela memutuskan untuk memastikan apa yang di dengar nya tadi.


bagaimana dengan lepas nya Lena tertawa


mendengar perkataan Wilden yang di perkirakan Mela kini tengah membahas


mengenai kenangan masa lalu mereka.


Tak lupa pula Wilden ikut terkekeh di iringi

__ADS_1


senyuman yang sangat jarang di tunjukkan nya pada Mela. Perlahan Mela mengulurkan tangan nya untuk memegang dada nya yang terasa sedikit sesak.


Mungkinkah apa yang di lihat Mela kini adalah kebahagiaan yang di inginkan Wilden, sehingga tak heran jika selama beberapa hari ke belakang sikap Wilden begitu cuek dan datar pada nya.


Lalu mengapa harus Mela yang di jadikan sebagai istri nya? bukan Lena? Berusaha mengabaikan berbagai pikiran buruk yang ber kecamuk memenuhi pikiran nya.


Mela memberanikan diri untuk mendekat ke arah kedua nya yang terlalu asyik bercengkerama hingga tidak menyadari bahwa kini Mela telah tepat berada di sebelah nya.


"Ehem, apa aku mengganggu?"


Mela sebisa mungkin mengubah tampilan wajah nya sepolos mungkin untuk menutupi


kerisauan nya.


Sontak kedua orang yang tengah asyik berbicara itu langsung mengalihkan pandangan mata nya pada Mela yang kini


tengah menyunggingkan senyum yang di buat nya semanis mungkin.


"Mela."

__ADS_1


Wilden yang baru menyadari keberadaan Mela kini spontan merubah raut wajah nya yang tadi nya cerah menjadi datar tak terbaca.


__ADS_2