Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
Berpikiran Buruk


__ADS_3

Yang jelas, ia sudah mulai menerima Kak Wilden dalam hidup nya, dan dia sama sekali tidak menyesali keputusan nya yang telah berani mencoba memulai sesuatu nya dari awal lagi.


"La."


Panggilan dari Wilden yang menyebut nama nya membuat Mela membalikkan badan nya dan segera mengambil dasi yang berada pada tangan Wilden yang kemudian membantu memasangkan nya pada kerah kemeja putih Wilden.


"Hari ini aku ada sidang."


"Oh iya, sidang apa Kak?" Tampak Wilden terdiam sesaat seolah menimbang akan


mengatakan nya pada Mela atau tidak.


"Sidang pertama perceraian nya Lena dengan suami nya."


Seketika itu pula gerakan tangan Mela yang semula membenarkan simpul dasi yang dibuat nya terhenti, dan juga ekspresi wajah nya yang semula ceria kini perlahan memudar di gantikan dengan tatapan datar tanpa ada senyum ceria lagi yang ia tunjukkan.

__ADS_1


"Semoga sidang nya lancar." Hanya itu


yang bisa Mela ucapkan di sertai dengan memaksakan seulas senyum yang terkesan tidak sampai di mata nya.


Setelah mendengar nama Lena yang di ucapkan kembali oleh Wilden, seketika itu juga ia merasakan perasaan nya memburuk seiring dengan kondisi cuaca yang saat ini masih mendung.


Wilden sendiri hanya bisa menghela napas pasrah dan kemudian mencium kening Mela sebelum berangkat menuju tempat persidangan berlangsung.


Mela terduduk dengan lesu, perkataan Wilden yang mengatakan bahwa ia akan menghadiri sidang sebagai pengacara Lena mau tak mau membuat pikiran Mela suntuk.


Mela tak menampik setelah kedekatan mereka selama beberapa hari belakangan ini dengan sikap Wilden yang lebih lembut dan tentu tidak mengacuhkan nya seperti awal-awal pernikahan mereka, membuat Mela sedikit demi sedikit mulai menerima Wilden


sepenuh nya.


Rasa itu mulai ada dan tumbuh secara perlahan dalam hati Mela, lalu ketika ia kini menyadari bahwa suami nya tengah

__ADS_1


bersama dengan wanita lain yang tampak memiliki hubungan dekat meski atas nama kerja, tetap saja membuat perasaan Mela was-was.


Jika boleh bertindak egois, Mela sebenar nya sangat ingin melarang Wilden untuk datang ke acara persidangan tersebut yang tentu saja tidak bisa dilakukan nya.


Apalagi ketika sebentar lagi ia akan memasuki masa koas, yang arti nya waktu nya akan lebih banyak tersita di rumah sakit dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Memikirkan nya membuat Mela semakin merasa pusing, ia takut selama kesibukan nya ketika masa-masa koas nanti akan membuat nya tidak bisa membagi waktu antara keluarga dan juga waktu nya di rumah sakit.


la hanya berharap semoga Wilden bisa mengerti dan memaklumi keadaan nya selama koas berlangsung.


Tak ingin terus berpikiran negatif, Mela kini memutuskan untuk memasak makan siang dan ia akan berencana untuk membawakan nya ke tempat kerja Wilden.


Ia mungkin dengan begitu akan sedikit mengurangi pemikiran buruk nya jika ia bertemu dengan Wilden dan memastikan bahwa apa yang dipikirkan nya hanya perasaan takut semata.


Mela kini tengah memasak dengan sesekali bersenandung ria, hingga tak beberapa lama kemudian masakan nya selesai dan ia memandang jam dinding yang telah menunjukkan pukul 10.00 siang.

__ADS_1


__ADS_2