
Alvin berseru heboh saat Wilden baru saja menceritakan mengenai hubungan nya dengan Mela, tentu saja tidak dengan menceritakan mengenai alasan ia menikahi Mela, karena itu adalah hal yang pribadi.
"Apa istri mu cantik?" Wilden hanya bisa mendengus pelan mendengar pertanyaan konyol sahabat nya itu.
"Hm..."
"Kuanggap itu sebagai iya. Aku merasa prihatin pada istri mu, bagaimana mungkin ia mau dengan duda tua seperti mu, di tambah dengan sikap mu yang terlalu banyak minus nya."
Wilden hanya mengabaikan perkataan Alvin dan sibuk dengan makanan di hadapan nya, ia sudah biasa dengan tabiat sahabat nya yang selalu suka meledek nya, dan Wilden tidak akan terpengaruh hanya karena hal itu.
"Ngomong-ngomong mengenai koas, aku pernah mendengar dari salah satu teman ku
yang saat itu pernah menjalani koas juga."
Alvin tampak berpikir sejenak seolah-olah
__ADS_1
sedang mengingat sesuatu,
"Oh iya aku ingat. Wilden, aku sebagai sahabat mu hanya ingin memperingatkan mu."
Wilden yang mendengar perkataan Alvin berubah menjadi serius hanya bisa mengangkat sebelah alis nya seolah menanti kelanjutan perkataan Alvin.
"Ehem, berdasarkan apa yang aku dengar kata nya dokter muda yang sedang menjalani masa koas itu sangat rentan terkena cinlok. Kau tahu, semacam cinta ketahui lokasi."
Wilden yang mendengar perkataan sahabat nya hanya bisa mengerutkan kening nya dalam.
"Terserah, aku mengetahui nya dari kisah teman ku sendiri. Cinta lokasi bisa terjadi antara sesama dokter muda yang menjalankan koas, dokter muda dengan dokter PNS di sana, atau bahkan dengan perawat bagi dokter muda laki-laki. Dan ingat, aku hanya memperingatkan mu." Jelas Alvin dengan panjang lebar.
Setelah nya, mereka kembali memakan
makanan mereka dengan Alvin yang lebih mendominasi percakapan, sementara Wilden hanya memakan makanan nya dalam diam.
__ADS_1
Entah mengapa, perkataan Alvin mengenai cinta lokasi yang rentan terjadi pada saat koas terus berputar dalam pikiran nya membuati nya sedikit merasa was-was. Akan tetapi sebisa mungkin ia mengenyahkan pemikiran nya barusan dan mengabaikan perkataan sahabat nya yang suka mengada-ada untuk menakut-nakuti nya.
Mela kini pulang saat jam menunjukkan pukul 03.15 sore, ia keluar dari taksi yang ditumpangi nya setelah membayar agro taksi nya. Mela berjalan memasuki pekarangan rumah nya sambil melepaskan jas putih khas dokter muda yang melekat ditubuh nya seharian ini.
Hari pertama koas menjadi hari yang cukup melelahkan bagi Mela, di tambah lagi dengan banyak nya pasien rumah sakit yang harus dicek nya untuk kemudian di serahkan kepada dokter residen, seta Mela juga hanus bolak-balik mendorong brankar para pasien yang harus segera di tangani.
Saat ia baru akan memasuki pekarangan rumah nya, kening Mela kini mengerut saat baru menyadari bahwa mobil Wilden telah terparkir di halaman rumah.
'Apa Kak Wilden sudah pulang,
tumben?'
Mela yang masih sedikit merasa heran karena tidak biasa nya Wilden pulang pada jam-jam sore sepeti ini, paling cepat pun biasa nya Wilden baru pulang pukul lima sore, dan sekarang baru pukul tiga lebih lima belas menit.
Mencoba mengabaikan pemikiran mengapa pulang lebih cepat dari biasa nya, Mela kini kembali melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah. Sesaat tatapan Mela terpaku menatap pada Wilden yang tengah duduk di sofa ruang keluarga dan tampak sibuk menatap layar ponsel nya, sebelum kemudian tatapan nya matanya beralih memandang
__ADS_1
Mela yang baru saja memasuki rumah.