
Sepanjang memasangkan dasi, Wilden tidak
berhenti memandang wajah Mela yang
seketika membuat Mela merasa risih di tatap sebegitu intens nya oleh Wilden.
"Sudah kak, kalau begitu aku akan membangunkan Lila untuk bersiap-siap
sekolah." Ucap Mela lega seraya pergi meninggalkan Wilden yang masih memandang kepergian Mela ke kamar Lila dengan seulas senyum tipis.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 7 kurang 20 menit lagi, dan kini Mela telah bersiap untuk berangkat ke kampus nya dengan di antar oleh Wilden.
"Kak, bisakah mengantar ku terlebih dahulu ke kampus sebelum kakak mengantarkan ke sekolah nya Lila. Karena class meeting-nya di mulai jam 7," ucap Mela dengan sedikit takut-takut bahwa Kak Wilden akan menolak nya.
"Baiklah ayo." Wilden menyetujui permintaan Mela tanpa banyak bicara dan segera mengemudikan mobil nya menuju kampus Mela.
Mela duduk di samping Wilden dengan Lila yang ada di pangkuan nya karena tidak mau lepas dari Mela.
Sepanjang perjalanan hanya di isi dengan celotehan Lila mengenai teman di sekolah nya, dan juga keinginan Lila untuk memperkenalkan Mela sebagai mama nya pada teman-teman nya.
__ADS_1
"Jam berapa kamu pulang?" Mela sontak menoleh begitu Wilden membuka
suara.
"Entahlah kak, aku tidak tau."
"Kalau begitu waktu pulang hubungi aku." Ucap Wilden dengan pandangan yang lurus ke depan sambil tetap fokus pada kegiatan menyetir nya.
"Tidak perlu kak, aku bisa pulang sendiri.
"Kamu masih marah?" tanya Wilden dengan menolehkan kepala nya pada Mela yang menundukkan kepala nya enggan menatap Wilden.
Wilden kembali menatap jalan raya dan meminggirkan mobil nya ketika sudah berada tak jauh dari gerbang kampus Mela berada.
Mela menghembuskan napas sejenak sebelum akhir nya menatap wajah Wilden yang berada di samping nya.
"Aku sudah memaafkan kakak, tapi aku tau kalau kakak adalah orang yang sibuk. Jadi lebih baik aku pulang sendiri." Mela mengucapkan nya dengan satu tarikan napas
sebelum kembali menatap Lila dalam pangkuan nya.
__ADS_1
"Lila, Mama masuk dulu ya. Lila enggak boleh nakal waktu di sekolah, Mama sayang Lila."
Setelah mengatakan hal itu pada Lila, Mela segera bergegas keluar dari mobil Wilden tak lupa mencium kedua pipi gembul Lila dengan sayang tanpa memandang Wilden yang ada di sebelah nya.
Wilden yang melihat Mela pergi tanpa memandang nya atau bahkan mencium punggung tangan nya seperti biasa nya hanya bisa menarik napas kasar la kira setelah permintaan maaf nya semalam dan perlakuan nya pada Mela, maka gadis itu akan memaafkan nya.
Tapi nyata nya..
Wilden kembali mengusap wajah nya
dengan kasar dan menyandarkan tubuh nya pada sandaran jok mobil di belakang nya dengan kedua mata terpejam.
"Pa, Papa kenapa?" Tanya Lila khawatir dengan tangan mungil nya yang menyentuh rahang tegas Wilden.
Seketika Wilden kembali membuka mata nya dan mengambil tangan mungil Lila di wajah nya sebelum kemudian mencium tangan mungil itu dengan sayang.
"Papa enggak apa-apa Lila, Papa cuman lagi capek aja." Ucap Wilden di sertai dengan senyum yang sedikit dipaksakan nya.
"Kalau begitu Papa tidur aja di rumah." Ujar Lila polos yang seketika membuat Wilden tersenyum simpul mendengar nya.
__ADS_1
Enggak sayang, Papa enggak apa-apa. Lebih baik sekarang kita ke sekolahan kamu, nanti kamu telat."
"Iya Papa.