
'Apa dia marah?' Mela mencoba mengabaikan pemikiran nya dan dengan segera membilas tubuhnya dengan air bersih, lalu segera mengenakan handuk karena lagi\-lagi dia lupa membawa pakaian nya ke kamar mandi.
' Mela bodoh!' entah sudah berapa kali kalimat umpatan yang di ucapkan Mela pada dirinya sendiri akan kebodahan yang dilakukannya.
Akhirnya setelah membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengintip keluar untuk memastikan tidak ada orang di kamar yang kini telah resmi di tempati Mela dan Wilden, Mela segera berlari kecil menuju walk in closet tempat bajunya baru saja di letakkan.
Sementara di kamar mandi lain, tampak Wilden tengah sibuk menyiram tubuhnya di bawah guyuran shower yang suhu airnya cukup dingin untuk meredakan sedikit hasratnya yang terpancing ketika tanpa sengaja melihat lekukan tubuh Mela yang hanya tertutupi air tanpa busa. Wilden memejamkan kedua matanya mencoba mengeyahkan segala pikiran kotornya akan lekukan tubuh Mela yang seakan bergentayangan dalam pikirannya. Setelah dirasa cukup, Wilden segera menyudahi acara mandinya dan memakai celana tidur piyama yang dia bawa tanpa memakai atasan atau biasa disebut Shirtless.
__ADS_1
Wilden memutuskan untuk kembali ke kamarnya, karena menurut perkiraannya mungkin Mela sudah selesai dengan acara mandinya.
Dengan pelan Wilden membuka pintu kamarnya, dan dia kembali terdiam ketika mendapati Mela tengah memilih baju di walk in closet dengan hanya memakai sehelai handuk putih yang panjang nya hanya mencapai pertengahan pahanya.
Dengan sangat Wilden mencoba menelan ludah saat bayangan akan tubuh telanjang Mela yang meringkuk di dalam bath up kembali menghiasi pikirannya. Dan ketika Mela sedikit menjinjingkan tubuhnya untuk mengambil pakaian yang tergantung di walk in closet, lagi\-lagi tatapan mata Wilden terfokus pada kaki jenjang Mela yang putih mulus tanpa adanya bulu halus.
Tatapannya terus menjalar ke atas dan mendapati bahwa handuk yang di pakai Mela sedikit terangkat ke atas saat Mela berjinjit tadi. Memperlihatkan paha putih mulusnya yang seakan meminta untuk di elus oleh Wilden. Kemudian bolong bulat berisinya yang sedang dan tidak berlebihan, membuat Wilden membayangkan bagaimana rasanya saat ia meremas kedua pantat itu agar semakin dalam ia memasukinya.
Wilden hanya bisa meneguk ludah dengan susah payah saat bagian bokong Mela yang terlihat, akibat dari Mela yang menundukkan badannya membelakangi posisi Wilden berdiri saat ini. Akibat dari tindakannya itu Wilden dapat melihat sedikit bagian inti tubuh Mela yang membuatnya seakan hilang kendali.
__ADS_1
Wilden sebisa mungki mencoba untuk tetap mengontrol dirinya sendiri agar tidak langsung datang dan menyerang Mela saat ini juga, karena ia tau bahwa Mela adalah gadis baik-baik.
Akan tetapi pemikiran gilanya berkata lain, ia membayangkan bagaimana jika saat ini ia langsung datang menghampiri Mela dan memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat. Serta memberikan beberapa kecupan ringan di area bahu dan lehernya, mungkin dengan meninggalkan beberapa kissmark sebagai bentuk kepemilikan tidak terlalu buruk.
Lalu kecupannya menjalar ke atas, menjilat cuping telinganya dengan sensual, membalikkan tubuh Mela.
Lalu kecupannya menjalar ke atas, menjilat cuping telinganya dengan sensual, membalikkan tubuh Mela dan memberikan kecupan di seluruh wajah nya. Tangan Mela melingkar sempurna di lehernya, dan ciumannya mendarat di bibir ranum Mela. Menjilat, ******* dan juga lidah yang saling membelit dengan panas.
__ADS_1
Tangannya tak tinggal diam, ikut bertindak di mulai dari melepas handuk putih Mela, menuju ke perut rata Mela dan mengelusnya dengan sensual.