
Mela hanya menunduk, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?" meskipun baru beberapa minggu yang lalu Mela mengenal anak manis bernama Lila ini, ia sudah cukup menyanyangi anak itu. Mela sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Lila sudah harus menanggung penderitaan seberat ini.
Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempurna, entah sesakit apa penderitaan yang di derita gadis ini sedari kecil. Ketika Mela masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba\-tiba pintu ruang rawat Lila dibuka dengan kuat membuat Mela seketika mendongak kaget.
Tak lama kemudian, tamapaklah raut wajah khawatir dari seorang pria dewasa yang Mela tahu adalah ayah dari Lila. Matanya memancing tajam memandang Mela yang hanya bisa menunduk mendapati tatapan tajam dari Wilden.
Mela tahu Wilden pastilah sangat marah pada dirinya, karena Mela tidak mendengarkan perintah Wilden untuk tidak mengajak Lila ke taman, dan berakhir dengan adanya kecelakaan yang mengharuskan Lila untuk segera di operasi lebih cepat dari jangka waktu yang telah ditentukan.
" Kau.... "
Ceklek
Dokter tiba-tiba datang sebelum Wilden berhasil menyelesaikan perkataannya.
"Permisi, saya hanya ingin mengatakan bahwa kondisi Lila cukup buruk dan ia harus segwra di operasi secepatnya sebelum kondisinya semakin menurun."
"Apa pun, lakukan yang terbaik untuk keselamatan anak saya."
__ADS_1
"Baiklah, tapi sebelum itu kita harus menunggu sampai anak anda masih kecil. Karena ditakutkan bahwa operasi tersebut akan menyebabkan trauma jika tidak ada kesiapan dari pasien."
"Papa...," suara lirih nan lembut itu berhasil menarik perhatian orang yang ada diruang rawat tersebut. Seketika Wilden sesegera mungkin menghampiri ranjang Lila dan mengenggam tangan mungil Lila dalam genggaman tangannya yang besar, seketika menciumi punggung tangan Lila dengan sayang.
"Ada apa Lila sayang. Papa ada disini."
"Papa, apa benar Lila akan dioperasi?"
Pertanyaan singkat Lila membuat Wilden memejamkan matanya sejenak, hingga tanpa terasa setitik air mata jatuh menetes dari matanya dan segera diusapnya dengan kasar.
"Lila mau menjalani operasi Papa."
"Benarkah sayang? Syukurlah,"
"Tapi, Lila mau operasi, kalau Papa mau mengabulkan permintaan Lila."
"Apa pun sayang..., Apa pun permintaan kamu pasti akan papa kabulkan."
"Janji" Lila mengancungkan jari kelingkingnya di depan Papanya tanda 'pinky promise'.
__ADS_1
Wilden membalas kaitan jari kelingking Lila dengan jari kelingkingnya.
"Papa janji". Dengan mantap wilden menyanggapinya.
"Lila ingin kak Mela menjadi mama Lila."
"Apa?"
Bukan, itu bukan suara Wilden, tetapi itu adalah suara Mela yang sedari tadi hanya mendengar dalam diam di belakang Wilden.
"Baiklah sayang, secepatnya Papa akan menikah dengan kak Mela."
Fc of
........
Dengan ragu Mela melangkah keluar dari ruang rias dengan digandeng oleh papanya, Wilden Afando. Mela meremas erat lengan Ayahnya untu menghilangkan rasa gugup yang menyergapnya. Dengan lembut ayahnya mengusap pelan tangan anaknya yang menggandeng lengannya.
Setibanya di tempat ijab kabul, Mela dapat melihat Wilden yang telah menguncapkan ijab kabul dengan tegas dan lantang seolah tidak ada keraguan di matanya. Kemudian setelahnya Mela mencium punggung tangan Wilden, dan Wilden yang mencium kening Mela. Lalu mereka segera menandatangani surat nikah secara resmi.
__ADS_1