Menikah Dengan Lelaki Duda

Menikah Dengan Lelaki Duda
#46# Baikan


__ADS_3

"Benarkah, apa kau yakin?"


Wilden bertanya sekali lagi berusaha memberikan Mela kesempatan untuk kembali berpikir akan keputusan nya kali ini.


"Aku yakin."


Mela mengangguk dengan mantap, membuat senyum tipis yang bertengger di bibir Wilden semakin melebar.


"Kalau itu keputusan mu, maka perkataanku di awal pernikahan tetap akan berlaku," Ujar Wilden dengan nada misterius yang membuat Mela mengerutkan kening nya mencoba mencari maksud dari perkataan Wilden pada nya.


"Maksud Kakak?"


Melihat respon Mela yang tidak memahami maksud ucapan nya, membuat Wilden secara perlahan mendekatkan diri nya ke arah Mela.


"Tidak akan ada perceraian di antara kita."


Setelah mendengarkan hal tersebut, secara perlahan wajah Mela memerah saat ia dapat merasakan embusan napas Wilden yang belum beranjak setelah membisikkan kalimat tersebut pada nya.

__ADS_1


Jarak di antara mereka berdua cukup dekat, di karenakan Wilden yang memang sengaja membisikkan kata tersebut di telinga Mela yang entah memang berniat menggoda nya atau hanya karena keisengan nya semata.


Tapi setelah melihat respon Mela yang saat ini wajah nya tengah memerah malu. Membuat Wilden semakin ingin menggoda nya lagi.


Wilden secara perlahan semakin mendekatkan wajah nya hingga hidung mancung nya kini telah mencium telinga belakang Mela, menghirup udara dengan seduktif dan semakin menurunkan wajah nya


pada cenuk leher jenjang Mela.


"Kak."


Suara Mela yang sedikit tercekat di tenggorokan akibat perlakuan tidak di duga Wilden yang kini tengah berada pada cenuk leher Mela, hingga mau tak mau membuat Mela didera rasa panik.


memulai segala sesuatu nya dari awal yang berarti mereka akan melakukan hal yang lebih jauh lagi sepeti melakukan hubungan suami istri, sementara Mela ketika mengambil keputusan tadi bahkan tidak terpikir sedikit pun bahwa hal sepeiti itu juga harus dilakukan nya.


'Astaga, apa yang harus ku lakukan?'


Mela semakin di dera rasa panik saat ia dapat merasakan sesuatu yang basah saat ini tengah menempel pada cenuk leher nya, di tambah dengan embusan napas hangat yang terasa menggelitik lekuk leher nya.

__ADS_1


"Kak Wilden, apa yang Kakak lakukan?"


Mela berusaha menggunakan kedua tangan nya untuk menjauhkan Wilden dari jangkauan leher nya yang mampu membuat Mela seketika merasakan perasaan meremang untuk sesaat.


Wilden mendengar apa yang Mela katakan sedari awal Mela berusaha memanggil nya dan ia telah berniat untuk menyudahi nya, akan tetapi saat melihat leher jenjang Mela di depan nya mau tak mau membuat pikiran liar nya menginginkan hal yang lebih.


Dan pada saat itulah ia berhasil mencium leher jenjang Mela, meski hanya menempel, tidak lebih. Karena setelahnya ia langsung menjauhkan wajah nya dari leher Mela karena tidak ingin membuat Mela berpikir yang tidak-tidak tentang diri nya di saat mereka bahkan baru saja berbaikan.


"Maaf."


Wilden langsung mengatakan hal tersebut setelah berhasil menjauhkan wajah nya dari cenuk leher Mela.


"Kak, itu tadi..


"Aku hanya berniat untuk menggoda mu,"


Perkataan Wilden selanjut nya yang di ucapkan dengan nada tanpa dosa itu seketika membuat Mela yang pada awal nya merasa tak enak hati karena berniat menolak keinginan Wilden, kini malah berubah menjadi ekspresi jengkel.

__ADS_1


Melihat perubahan raut wajah Mela yang semula menunjukkan raut wajah bersalah menjadi jengkel, meski tetap tidak menghilangkan rona merah yang menghiasi wajah nya membuat Wilden kembali tergugah untuk menggoda nya lagi.


"Wajah mu memerah." Kata Wilden yang lagi menggoda Mela.


__ADS_2