
Di dalam Camp Claude, Krud tidak berhentinya berbicara tentang bagaimana kerennya sosok Claude dimatanya.
“Bagaimana bisa kau hanya melemparkan belatimu itu langsung memutuskan lehernya? darahnya itu loh keluar kemana-mana!” Krud terus mengoceh sampai membuat kepala Claude terasa akan pecah.
“Bisakah kau sedikit tenang seperti sebelumnya?” Claude menyuruh Krud untuk diam karena ia terlalu berisik untuk ukuran seorang bangsawan Alger yang kejam dan dingin.
“Baiklah-baiklah, aku hanya penasaran belati jenis apa yang kau gunakan untuk menyerangnya dengan satu kali serang saja?” Krud menanyakan langsung pada inti rasa ingin tahunya itu.
“Setiap senjataku, dengan khusus aku membuatnya dari serpihan kecil liontin milik ibuku ini. Aku tidak menyangka walau hanya serpihan debunya saja tetapi itu masih bisa digunakan untuk menangkal sihir sebesar itu.” Claude memandangi belatinya, sambil mengusapnya untuk memeriksa seberapa tajam belatinya.
“Aku tidak menyangka kau mengetahui rahasia liontin itu dengan cepat.” Krud terduduk sambil melipat kedua tanganya.
“Itu artinya saat itu kau menipuku untuk memberikan mana sihir yang banyak bukan?”
“Tidak! Soal itu aku tidak berbohong. Jiwa iblismu sekarang sedang tersegel didalam liontin itu, jadi kekuatan dan mana sihir mu pun ikut masuk ke dalam liontin itu.”
“Jadi begitu, kupikir kau membohongiku saat itu. Tadinya aku sangat marah padamu maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Itu karena aku tidak memberitahukan padamu lebih awal. Ya.. siapa yang mau percaya jika pada saat itu kau hanya bocah ingusan yang kabur dari rumahnya.” Krud berkata sambil memainkan kopi yang berada di meja kecil itu seperti sebelumnya ia memainkan kopi itu layaknya segelas Wine.
“Kau benar, tapi sebagai gantinya aku ingin bertanya satu hal padamu.”
__ADS_1
“Sihir seperti apa yang harusnya aku miliki jika tidak ada kutukan ini?”
“hmm.., mungkin seperti ibumu. Ibumu adalah penyihir agung yang bertugas mendisiplinkan para penyihir yang melakukan mantra terlarang atau perjanjian dengan iblis. Jadi sihirnya adalah menyegel, menghapus, dan menyerap mana sihir seorang penyihir. Kemungkinan sih seperti itu, setelah aku melihat liontin milik mu dan setiap kau beraksi tanpa sadar.” Krud mengatakannya dengan lebih tenang dari sebelum, sambil meneguk sedikit kopi yang di sajikan khus untuknya. “Kopi ini enak tidak seperti sebelumnya yang terdapat racun.” Krud mengatakannya dengan santai, tetapi hal itu membuat Claude tercengang mendengarnya.
“Racun?” Claude Berteriak kepada Krud karena tidak percaya, apakah selama ini ia meminum kopi yang terdapat racun. Karena kopi yang sebelumnya dibuat oleh Wanita yang sama.
“Iya, makanya setiap aku berkunjung. Aku selalu membuang kopi milikmu, berterima kasihlah karena setiap kopi yang disajikan itu selalu aku buang sebelum kau meminumnya.” Krud bersikap sombong karena diam-diam ia telah
menyelamatkan nyawa Claude.
“Hahaha, terimakasih aku bahkan tidak sadar kau berbuat demikian untukku.” Claude tidak sadar bahwa selama ia didalam Camp ia tidak pernah meminum kopi yang disajikan oleh Wanita itu. “Ngomong-ngomong Krud bukankah nama Pangeran Alger adalah Themir bukan Themis?” Claude memberitahu Krud bahwa ia sangat tidak cocok sekali menjadi seorang penipu seperti itu.
“Ahahaha, R dan S jaraknya terlalu dekat aku salah mengucapkannya sedikit. Paling nanti aku memanipulasi mereka pun selesai sudah urusannya.” Krud meneguk habis Kopinya lalu berdiri bersiap untuk pergi. “Claude sepertinya surat kematian resmi untuk delapan orang itu sudah di turunkan. Aku harus cepat Kembali untuk mengambilnya.” Krud terburu-buru pergi untuk mengambil surat kematian resmi dari delapan orang pengkhianat yang masih tersisa, sebenarnya karena Wanita yang satu sudah mati, maka tugasnya hanya tersisa tujuh orang lagi.
“Baiklah anak cengeng kakak akan segera Kembali.” Krud tersenyum sambil mengusap kepala Claude yang tingginya agak sedikit lebih pendek darinya.
Krud keluar dari Camp milik Claude, Ia meminta salah satu prajurit disana untuk menyiapkan kuda untuknya. Setelah itu Krud benar-benar pergi meninggalkan Claude dengan menaiki kuda yang disiapkan oleh salah satu prajurut yang sedang berjaga malam itu.
Seperti biasanya Claude memantau semua, persediaan makataan dan obat-obatan sampai ke persenjataan tentara kerajaan. Berbagai masalah terus menerus berdatangan. Tiba-tiba air dalam sumur mengering, bahkan air di sungai
pun ikut mengering.
__ADS_1
Sedangkan saat itu Claude sedang sibuk-sibuknya membuat strategi perang dengan mengumpulkan informasi yang ia dapatkan. “Tuan penasehat bagaimana ini? Para prajurit terkena bencana kehausan. Sebenarnya ternggorokkan
ku juga sudah ikut mengering.” Eden melaporkan bencana kehausan yang sedang melanda para pasukannya.
“Apakah di dekat sini ada laut?” Claude bertanya pada Eden tentang laut.
“Apakah kau tidak tahu air laut itu tudak bisa diminum, kita akan semakin haus jika harus meminum air laut!.” Eden mengeluhkan perkataan Claude yang ia anggap sebagai candaan.
“bukan itu biasanya di dekat laut ada buah yang berisi air, yang disebut dengan kelapa.”
“Kelapa?”
Ternyata benar, menurut buku yang aku baca orang-orang kerajaan Greenbrezz dan Tarten belum terlalu mengenali buah kelapa. Aku sendiripun belum pernah melihatnya, namun gambar sketsa buku itu sangat jelas sekali bentuk seperti apa buah yang berisi air segar itu. Dalam pikir Claude yang sedang mengingat sebuah buah yang ia baca di sebuah buku sebelumnya.
Baiklah kau beritahu aku saja dimana letak pantai di dekat sini?
Eden pun menunjukan letak pantai yang dekat dari Camp militer, sementara itu Claude hanya membawa pasukan empat yang merupakan pasukan khusus yang bertugas untuk melindungi anggota keluarga kerajaan saat
berperang. Karena saat ini tidak Adapun pihak istana yang mengirimkab anaknya untuk berperang maka kuasa penuh pada saat ini di pegang oleh Claude.
Claude pergi ke arah timur laut dari camp tentara kerajaan untuk mencari sebuah buah kelapa yang pernah ia lihat didalam sebuah buku yang ia baca. Buah itu mengandung banyak air yang mungkin bisa diminum untuk para tentara yang kehausan.
__ADS_1
Setelah berjalan sekitar beberapa kilo meter dari Camp militer. Terdengar suara gemuruh ombak dan angin yang sangat besar. Claude langsung menghampiri suara gemuruh itu. Ternyata benar suara ombak yang begitu menenangkan. Terik matahari yang sangat menyengat kulit. Pasir putih yang begitu lembut, angin segar yang menerpa dengan lembut. Bagaikan sebuah surga. Untuk pertama kalinya bagi Claude yang sudah lama hidup di dalam hutan perbatasan kerajaan Tarten dan Green breez itu. Belum satu pun ia pernah melihat pemandangan seindah dan memukau seperti ini. Pikiran Claude saat ini menjadi jernih Kembali setelah ia merasakan suatu kedamaian di pantai yang indah ini.