Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
22~Peperangan


__ADS_3

Semua bangunan penjara bawah tanah runtuh tidak ada yang bersisa. Untungnya para tahanan yang lain sudah di pindahkan ke tempat tahanan biasa. Karena seperti yang Krud katakan bahwa cakupan penyegelan ini membutuhkan tempat yang cukup luas.


Gempa yang menggetarkan tanah itu membuat sebagian prajurit yang sedang berpatroli itu pergi berdatangan karena penasaran apa yang terjadi sebenarnya dengan keruntuhan penjara bawah tanah yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun. Gemuruh tanah yang begitu besar dan debu pasir besar yang bertebrangan tidak hanya membuat para prajurit itu penasaran apa yang terjadi, namun penduduk desa sekitar juga merasakan hal yang sama.


“Apa yang terjadi!???” Teriak Eden kepada Claude dan Krud yang sedang berdiri menyaksikan runtuhnya penjara bawah tanah itu.


“Sepertinya kemenangan ada didepan mata kita!” Senyum tipis Claude melihat keberhasilan Krud yang begitu besar, bahkan ia tidak menyangka bahwa hasilnya sangat tidak mengecewakan.


“Apakah kalian baru saja mencoba sihir baru yang Tuan katakan sebelumnya?” Eden mewakili suara prajurit yang lainnya untuk mengatakan rasa penasaran mereka.


“Benar ini adalah sihir Tuan Themis yang akan kita gunakan saat perang nanti, sepertinya jangkauannya sihirnya cukup luas. Kalau begitu aku akan memberikan informasi sihir Tuan Themis ini pada pemimpin pasukan dan jenderal yang bertanggung jawab di bagian tengah arena perang.” Claude menjelaskannya secara singkat, pada, dan jelas kepada para prajurit itu. Bagaimana cuplikan jebakan yang telah disiapkan Claude untuk para bangsa Tarten itu.


Semuanya menjadi begitu yakin akan kemenangan mereka, melihat sihir Krud yang begitu besar dan sangat menakjubkan. Semua keraguan prajurit yang melihat kejadian itu menjadi hilang. Semuanya berharap besar pada Krud dan juga Claude. Untuk kemenangan perang kali ini.


“Tuan Claude! Saya ingin bertanya pada Tuan!” Sergion tiba-tiba datang berteriak pada Claude di belakang kerumunan, lalu bergerak maju kedepan menyela kerumunan prajurit lainnya.”Tuan, apakah anda baru saja mengubur para pengkhianat yang tersisa itu?” Sergion bertanya hal yang sudah dipastikan sebelumnya.


“Benar.” Claude menjawabnya dengan sangat singkat, karena Sergion menanyakan hal yang tidak penting dan sudah diketahui oleh seluruh prajurit lainnya.

__ADS_1


“Kenapa Tuan tidak memberitahu kami, aku dan yang lainnya belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Walau bagaimanapun mereka berbuat jahat, namun mereka pernah berbaur dengan kami dan menghirup udara yang sama dengan kami.” Perkataan Sergion yang begitu menghanyutkan hati. Membuat semuanya yang awalnya tidak memperdulikan mereka menjadi membenarkan perkataan Sergion.


“ Kau memang orang yang baik,  tetapi apa yang mereka lakukan padaku saat aku bertemu dengan mereka. Mereka hendak membunuhku dengan sihir mereka yang masih tersisa. Kau bisa tanyakan lebih jelasnya pada Tuan Themis.” Claude menjawab perkataannya dengan tenang untuk menghindari pertikaian beberapa hari sebelum perang dimulai. “Kalau saja mereka tidak akan melakukan itu, tadinya kupikir akan melakukan sihir itu besok lusa saja, tapi aku tidak menyangka yang dikatakan Tuan themis benar. Untungnya kita sudah memindahkan tahanan yang lainnya.” Claude memasang wajah iba, berusaha berpura-pura mengerti apa yang dirasakan oleh Sergion dan yang lainnya.


Namun dalam hatinya, melihat sergion seperti itu, membuatnya sedikit meragukan kekuatan pasukan kerajaan karena perilaku mereka yang mudah merasa kasihan dan mudah dipengaruhi itu, benar-benar membuat Claude harus memutar otaknya agar bisa mengendalikan mereka sepenuhnya.


“Jika itu adanya, maafkan saya tuan. Saya mengerti jika kejadian seperti itu memang tidak terhindarkan.” Sergion meminta maaf pada Claude karena merasa bersalah mengucapkan kata-kata yang menyalahkan Claude seolah-olah Claude orang yang cukup kejam dan tidak berperasaan membiarkan prajurit lainnya untuk mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya pada orang-orang itu.


Sebab pada dasarnya prajurit kerajaan Greenbreez memiliki rasa persahabatan yang tinggi, sehingga hal ini yang membuat mereka menjadi kuat sekaligus menjadi lemah. Karena hal ini juga mereka tidak mencurigai bahwa diantara mereka terdapat seorang pengkhianat yang menyebabkan kekalahan pada mereka.


Claude menepuk-nepuk jasnya. Berusaha untuk membersihkan bajunya dari debu yang menempel akibat debu yang bertebrangan saat penjara bawah itu roboh.  ”Kalau begitu aku serahkan seperti yang sudah kubilang pada kalian! Ayo kita raih kemenangan kita! dan jadikan ini sebagai perang kita yang terakhir!” Teriak Claude.


Namun pada saat itu setelah semuanya berakhir  Krud tiba-tiba harus kembali, sebab ia harus pergi ke dunianya mengambil surat kematian resmi para penyihir hitam itu yang sudah diturunkan oleh atasannya, melalui sinyal yang diberikan oleh atasannya itu.


***


Para tentara sudah bersiap dengan senjata dan posisinya masing-masing. Hanya tinggal satu persiapan mereka yang masih belum siap yaitu kolaborasi Fermilion dan Claude masih belum sempurna membuat Claude mengganti beberapa kalii strategi mereka berdua, namun saat ini mereka sudah tidak ada waktu lagi perang akan segera dimulai. Semuanya sudah bersiap.

__ADS_1


Bahkan Krud yang biasa menggunakan pakaian bangsawan Alger itu, sekarang tampak gagah dengan menggunakan pakaian zirah perang yang terbuat dari besi yang berkualitas terbaik. Begitupun dengan Claude. Rambut nya yang sewarna jerami gandum itu membuatnya terlihat berbeda dengan para tentara yang lain, yang rata-rata memiliki rambut coklat tua sampai coklat muda. Bahkan Krud sendiri memiliki rambut hitam legam yang sangat indah.


Para Jenderal sudah menunggangi kuda mereka masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu komando dari pengawas perang yang berada di atas benteng untuk melihat bangsa tarten yang akan menyerang pasukan tentara kerajaan.


Dengan menggunakan teropong jarak jauh. Orang itu terus menerus mengawasi dan menunggu kedatangan bangsa Tarten. Angin bertiup kencang mengibarkan bendera kerajaan Greenbreez. Mata mereka yang penuh dengan tatapan keyakinan. Merupakan sebuah ambisi mereka yang membara demi sebuah kemenangan dan perdamaian yang selama ini mereka nantikan.


“Eden!!” Teriak Claude


Claude mengisyaratkan agar Eden bersiap memimpin pasukannya, karena Firasat Claude mengatakan bahwa tidak lama lagi pasukan bangsa Tarten akan segera tiba.


Claude menarik tangan Fermilion untuk bersiap menyusup ke daerah musuh. Baju zirah yang digunakan oleh Claude dan Fermilion kini menjadi tidak terlihat dikarenakan tertutup oleh jubah hitam yang mereka kenakan saat ini untuk menutupi identitas mereka saat mereka menyusup ke daerah musuh.


Walaupun Fermilion tidak terbiasa menyusup ke area musuh dan lebih terbiasa untuk menyerang pertahanan depan, namun sebuah pengalaman yang sangat berharga ini tentu saja tidak akan ia sia-siakan hanya karena kata tak terbiasa dengan apa yang ia lakukan saat ini.


Claude dan Fermilion berjalan ke arah belakang barisan. Bersiap untuk menyusup ke area musuh dengan melewati hutan pinggiran yang dimana membuat mereka harus jalan memutar untuk melakukannya.


Pengawas  perang pun memberikan isyarat, bahwa tentara Tarten sudah tiba.

__ADS_1


“Semuanya bersiap!!” Teriak Eden dengan suara yang lantang menggetarkan seluruh pasukan tentara prajurit kerajaan.


__ADS_2