
...****************...
"Apakah ini tidak berlebihan?"
Claude memandangi begitu banyak makanan mewah di atas meja makannya.
"Aku menjamu makan malam bersamamu secara khusus, karena sepertinya hal ini tidak usah di bicarakan lagi olehku. Aku akan mengadakan pesta penyambutan mu yang sudah pulang dari peperangan dengan membawakan sebuah kemenangan.
Jangan salah paham, aku melakukan ini juga hanya memanfaatkan mu untuk menambah relasi para bangsawan kaya yang mau bekerja sama dengan keluarga kita.'
"Terimakasih atas jamuan yang telah kau siapkan ini. Ini pertama kalinya ayahku memberikan makanan padaku dengan layak."
Sindiran pedas Claude tidak mengguncangkan hati Vischa. Sebenarnya Claude tidak tahu apa yang terjadi pada Vischa yang begitu berhati keras terhadap anaknya sendiri."
"Sudah sepantasnya kau berterimakasih pada ayahmu ini. bahkan Carpel dan Lady Gracia tidak bisa makan di meja makan yang sama dengan kita."
Vischa seolah-olah membuat dirinya terlihat sangat memperhatikan Claude. namun nyatanya apa pedulinya tentang hal itu. Mungkin setelah jamuan yang di berikan oleh Vischa Carpel akan datang dan membuat ulahnya lagi.
"Bukankah tidak adil jika kau ingin mendapatkan keuntungan dari ku sedangkan aku merugi?" Claude mulai memberanikan diri untuk menentang Vischa.
"Apa maksudmu?" Vischa berhenti menikmati makanannya.
"Yah, aku hanya sedikit meminta bayarannya saja."
"Apa yang kau inginkan?"
"Benarkah kau akan mengabulkan permintaan ku?" Claude meremehkan Vischa.
"Tentu, selama itu tidak melebihi batasan ku." Vischa kembali melanjutkan menikmati hidangan makanannya.
"Aku hanya akan melontarkan satu pertanyaan saja, apa kau akan menjawab ku dengan jujur?" Claude memastikan bahwa Vischa akan menjawabnya dengan jujur.
"Baiklah, apa yang kau tanyakan?" Vischa tidak memperdulikan apa yang ditanyakan oleh Claude, karena ia menduga hal itu akan berkaitan dengan ibunya.
"Siapa kau sebenarnya?" pertanyaan yang tiba-tiba dari Claide membuat Vischa sedikit tersedak oleh makanannya
__ADS_1
Vischa pun meminum minumannya. Lalu berkata membentak Claude. "Apa maksudmu? tentu saja aku ini ayahmu." Jawaban yang sudah di perkirakan oleh Claude keluar dari mulut Vischa.
"Bukan, bukan tentang itu. Ini tentang seorang ksatria dari Garten."
"Darimana kau mengetahui itu." Lady Gracia tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Tidak peduli darimana aku mengetahuinya, tapi tidak menyangka. Kau menguping pembicaraan ku dengan Ayah." Claude dengan tenang menyelesaikan makan malamnya, lalu meminum seteguk air dan mengelap bibirnya dengan sangat elegan layaknya bangsawan kelas tinggi.
"Claude kau tidak boleh begitu pada ibu tiri mu." Vischa melontarkan tatapan yang tajam pada Claude.
"Yah sudahlah, jika ayah tidak mau jujur denganku. Kalau begitu aku tidak akan menghadiri pesta yang kau buat itu. Sampai jumpa!" Claude mendorong kursinya lalu beranjak berdiri hendak meninggalkan meja makan itu.
"Tunggu! Akan ayah jawab."
"Kau!" Lady Gracia begitu marah ketika Vischa hendak memberitahu tentang dirinya.
"Aku.. adalah.."
"AYAH!!! Tega sekali kau memberi menjamu dan mengadakan pesta untuk anak tidak berguna itu!" Carpel tiba-tiba saja datang dan berteriak pada Vischa.
"Masih seribu tahun lebih cepat kau bisa membunuhku dengan pisau steak itu." Claude pun menghempaskan tangan Carpel dengan kuat, hingga pisau itu terlempar ke sudut ruangan.
Tatapan tajam Claude membuat Carpel sedikit bergidik ketakutan. namun dengan meyakinkan dirinya bahwa Claude adalah Claude tidak berbeda seperti Claude yang dulu.
"Kau! aku tahu kau menggunakan cara licik untuk memenangkan peperangan itu. Kau bahkan tidak memiliki sihir apapun." Tukas Carpel. sambil menggenggam pergelangan tangannya yang sakit terkena cengkraman Claude yang begitu kuat.
"Hehe, kau benar. Jika aku tidak menggunakan cara licik sepertimu, mungkin saja aku akan menjadi tidak berguna selamanya seperti dirimu."
Claude tertawa meremehkan Carpel. Dengan nada bicara yang sangat menyebalkan bagi Carpel yang mendengarnya.
Sambil melangkahkan kaki pergi dari ruang makan itu Claude-pun mengatakan satu kalimat yang sangat tajam.
"Walaupun kalian adalah penyihir bangsawan yang kuat sekalipun itu tidak ada artinya jika kalian berhadapan denganku."
Carpel semakin emosi dengan perkataan Claude. Ia bertekad untuk membalas perbuatan yang dilakukan oleh Claude.
__ADS_1
...****************...
Malam sudah tiba semua orang yang berada di kediaman Marquez sedang beristirahat, kecuali beberapa penjaga yang masih berjaga.
Carpel mengajak adik kandungnya, Carsten untuk membunuh Claude saat tertidur. Mereka diam-diam menyelinap pada malam itu dengan mengelabui semua para penjaga menuju, kamar istirahat Claude.
"Hei kalian sedang apa?"
Claude tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua. Mereka pun berbalik dan melihat Claude di lorong gelap itu. Walaupun tidak begitu jelas siapa orang yang menangkap basah mereka, tetapi Carpel sangat tahu betul mata biru bagaikan berlian itu siapa pemiliknya.
"Claude! Kau!" Teriak Carpel terkejut dan bergidik ketakutan dengan aura yang dipancarkan oleh Claude. Sehingga ia yang berusaha melangkah mundur untuk menjauh dari Claude, dan tak sengaja ia terjatuh dengan sendirinya.
"Kakak!? kau tidak apa-apa?" ucap Carsten dan membantu Carpel untuk berdiri.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini pada kakak?" Carsten marah pada Claude, karena menduga bahwa Claude lah yang mendorongnya.
"Kau menuduhku mendorong pria yang terjatuh karena kecerobohannya? Sebaiknya kalian tidak perlu repot-repot membunuhku dengan mengendap-endap seperti ini. Karena ini terlalu kekanak-kanakan."
Claude pergi meninggalkan kedua saudaranya itu. lorong yang gelap itu, dengan dingin dan aura mendominasi yang kuat.
"Claude, kami akan membalas mu seratus kali lipat dari penghinaan ini." Carsten tidak menyerah membela Carpel.
"Aku tunggu pembalasan mu itu, jika kau tak berhasil aku akan menghukum mu seribu kali lipat dari yang kau perbuat."
Claude masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintunya.
Carpel dan Carsten sangat terhina akan ucapan Claude. Emosinya semakin naik tidak tertahankan lagi. Hampir saja Carpel ingin menggunakan sihirnya untuk membuat Claude celaka.
Namun Carsten menyuruh Carpel untuk bersabar. "Kak, sabar sebentar lagi adalah pesta penyambutan orang itu. Jika kita berhasil membuatnya malu, mungkin ia akan kehilangan mukanya selamanya.
Saat itu dia tidak mungkin bisa sesombong ini. Ia akan kembali menjadi orang tidak berguna seperti dulu lagi."
Ucapan Carsten ada benarnya menurut Carpel. Ia masih punya banyak waktu untuk menelurkan bagaimana caranya agar ia bisa menjatuhkan Claude yang sekarang.
"Claude kau tunggu saja pembalasanku, kau boleh bersenang-senang sekarang tapi kau tidak akan bisa bersenang-senang lagi selamanya." Dengan penuh keyakinan, Carpel yakin dirinya pasti bisa menjatuhkan Claude.
__ADS_1