
"Grimoire-nya palsu?" Ujar Claude yang masih tidak percaya dengan apa yang ia baca.
>>> 2 hari sebelumnya
"Semangat muda yang sangat bagus kalau begitu bagaimana jika kau pergi ke Redsole sesuai arahan ku. disana kau bisa belajar sihir lebih banyak lagi."
"Baik, TUAN!"
Charly pun melihat kearah sebelah Lucifer melihat sebuah Grimoire yang sangat tebal.
"Apakah seorang Raja iblis seperti tuan Lucifer memakai Grimoire?" Ujar Charly bertanya begitu ia melihat Grimoire hitam nan tua yang berada tepat disebelah Lucifer.
"Apa? Ini? Bukan bukan.., Suruh ayahmu untuk memberikan Grimoire ini kepada saudaramu Claude."
"Memangnya apa yang ada didalam Grimoire itu tuan?" Charly benar-benar penasaran apa yang di rencanakan oleh Lucifer sebenarnya.
"Karena kau selalu bekerja dengan baik. Akan aku beri tahu sesuatu. Aku berniat mengundang Claude masuk ke dalam kerajaan Garten."
"Bukankah itu wilayah yang baru saja di kuasai oleh raja iblis Belphegor?" Ujar Charly terbelalak kaget begitu mendengar rencana Lucifer.
"Memang, tapi menurutku dia tidak akan langsung pergi ke Garten dengan jebakan yang ada didalam buku ini. tapi setidaknya kita harus benar-benar menghancurkan hubungan Claude kepada Vischa."
"Saya tidak mengerti apa yang tuan maksud tetapi saya akan berusaha untuk percaya pada rencana tuan." Charly menundukkan dirinya begitu hormat pada pria hitam dengan aura negatif yang sangat menusuk kulit itu.
"Hei, jalankan dengan baik ya!" Lucifer tersenyum licik di hadapan Charly. Namun Charly mengangguk dengan wajah yang sangat serius.
Charly pun menerima buku Grimoire itu dan membalikan badannya dengan segera untuk meninggalkan ruang bawah tanah itu.
Wajah percaya diri Charly begitu jelas terlihat diguratan wajahnya. Ia tidak hentinya tersenyum-senyum gembira bahwa dirinya begitu mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari Lucifer. Bahkan tidak hanya itu dirinya juga bisa menyingkirkan saudaranya dengan bantuan Lucifer.
__ADS_1
"Claude sebentar lagi kau akan mampus!" Ujar Charly sambil tertawa menyeramkan layaknya seorang iblis sebenarnya.
Setelah ia keluar dari ruangan bawah tanahnya Charly pun pergi mencari Vischa dengan menyuruh Charmy untuk mencarinya. Charmy pun mengangguk paham dengan apa yang harus ia lakukan.
Charmy pun pergi mencari Vischa. Di luar Carpel dan Carsten melihat Charmy yang baru saja keluar dari ruangan Charly nampak heran. namun sebelumnya Carpel mengerti apa yang dilakukan Charmy sebab ia tahu betul Charly orang yang seperti apa saat mendapatkan tekanannya beberapa hari yang lalu.
"Kak Carpel, Kak Charmy sangat sibuk akhir-akhir ini. Kapan ia selesai bermain-main seperti pelayan?" Ujar Carsten bertanya pada Carpel.
"Hei, pelanggan suaramu. Bagaimana dengan pelayan lain yang bisa mendengar suaramu. Bukankah kita sedang diam-diam untuk membuat rencana mengusir anak haram itu?" Ujar Carpel sengaja berbisik dengan sedikit keras karena ia tahu bahwa didalam ruangan yang sedang dilaluinya ada Charly.
"Kakak benar, sebaiknya kita lebih hati-hati pada para pelayan karena mulut mereka tidak bisa dipercaya akhir-akhir ini." Carsten menjawab Carpel dengan polosnya ia menyetujui hal yang seolah-olah satu pemikiran itu.
Sambil memandangi ruangan itu Carpel merasakan aura iblis yang begitu kuat didalam ruangan Charly. Tidak lama kemudian Charmy datang dan melihat Carpel dan Carsten sedang berjalan di dekat lorong ruangan Charly.
"Kalian sedang apa?" Ujar Charmy dengan ketus dan tatapan yang dinginnya.
"K,kak C,Charmy!?" Carsten bersuara mewakili Carpel yang ingin mengatakan hal yang sama.
"Aku dan Kak Carpel sedang menyiapkan rencana untuk menghukum si anak kotor itu." Carsten berkata tanpa berpikir akan resikonya.
"Sebaiknya kalian tidak melakukan itu disini, pergilah ketempat yang lain." Charmy melepaskan Carsten dan Carpel begitu saja tanpa menghambatnya.
Iapun langsung bergegas masuk kedalam ruangan Charly untuk memberitahukan keberadaan Vischa.
Sedangkan Carpel berjalan cepat dengan segera untuk menjauh dari tempat itu dan mencari tempat yang benar-benar sepi.
"Carsten!" bisik Carpel memanggil Carsten.
"Ada apa kak?" Carsten menjawab Carpel dengan polos.
__ADS_1
"Sebaiknya kita kabur dari kediaman ini." Tiba-tiba saja Carpel berkata demikian, yang membuat Carsten kebingungan.
"Untuk apa kak? Bukankah kakak bilang saat kak Claude kabur beberapa tahun yang lalu bahwa kabur adalah tindakan seorang pengecut?" Carsten dengan polosnya mengatakan apa yang Carpel katakan beberapa tahun yang lalu.
"Kali ini berbeda, bukankah Claude menjadi kuat setelah ia kabur dari rumah?" Carpel mencoba menghasut Carsten untuk mengikuti jejaknya.
"Tidak kak, ayah akhir-akhir ini sepertinya kurang sehat. Kakak sebentar lagi akan menjadi kepala keluarga Marquez." Carsten mengatakan kata-kata yang ia yakini dengan percaya diri tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. "Sebenarnya ada apa kak Carpel beberapa hari ini bertingkah aneh?" Carsten bertanya pada Carpel karena melihat tingkah Carpel yang berubah drastis beberapa hari ini.
"Aku aneh? Bukankah yang lebih aneh adalah Charly dan Charmy?" Ujar Carpel menarik kerah Carsten.
"Tidak kak Charly sudah beberapa tahun memang sifatnya begitu, kalau kak Charmy kurasa dia memang agak sulit ditebak tapi sifatnya tetap sama. Hanya kak Carpel yang ramah di keluarga ini." Carsten mengatakannya dengan penuh percaya diri dan senyum lebar.
Carpel melepaskan tangannya dari kerah Carsten. lalu merapihkan kembali merah Carsten yang ditariknya itu.
"Percaya atau tidak aku akan mengatakan sesuatu pada mu." Ujar Carpel sambil berjalan meninggalkan Carsten "Kalau kau hidup dengan polos seperti ini, tidak lama orang itu akan memanfaatkan mu." Ujar Carpel dengan penuh khawatiran terhadap Carsten iapun pergi meninggalkan Carsten sendirian.
"Kak Carpel ada apa dengannya hari ini? Sudahlah sebaiknya aku.."
"Sebaiknya apa?" Ujar Charly yang tiba-tiba muncul dari belakang Carsten.
"Ah, kakak mengagetkanku saja. Ini kak Carpel akhir-akhir ini sangat aneh, apakah kakak tahu penyebabnya?" Carsten dengan polosnya bertanya pada Charly.
"Sepertinya dia sedang labil. Aku pernah melihat pria seusianya memang benar-benar labil." Charly menjawab Carsten dengan lembut sambil tersenyum.
"Benarkah? Sepertinya memang seperti itu ya. Kalau begitu ada satu pertanyaan lagi. Apakah aku bisa mengendalikan makhluk seperti kalian. Karena kurasa rambutku yang seperti ini pasti sihirku sama dengan kak Carpel. Ujar Carsten mengeluhkan warna rambutnya yang sedikit ikal itu.
"Tidak, kau bisa mempelajarinya dengan kakak.,"
"Benarkah? kapan kak kapan?" Carsten begitu bersemangat begitu ia mendengar bahwa Charly akan mengajarkannya cara mengendalikan makhluk roh.
__ADS_1
"Tidak usah Seperti itu, aku akan mengajarimu cepat atau lambat."