Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
82


__ADS_3

Menelusuri setiap lorong di rumah tua, namun megah itu Claude sedikit demi sedikit memperhatikan keadaan sekitar didalam rumah itu. Sayup-sayup angin berhembus menggerakan rambut Claude. Claude pun memfokuskan telinganya untuk mendengar sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Iapun mulai memejamkan matanya sambil menengokkan kepalanya ke sebelah kanan.


Sebuah getaran getaran kecil suara mulai ditangkap masuk oleh daun telinga Claude dan Getaran tersebut diteruskan masuk kedalam telinga bagaikan lingkaran-lingkaran gelombang berbentuk cahaya emas. Lalu berubah menjadi sebuah rangsangan listrik begitu getaran itu sampai di sistem saraf reseptor yang kemudian disampaikan ke otak Claude.


Percakapan kecil dari seorang healer dengan tingkat menengah dengan seorang pria tua dengan suara berat.


"Ayo kita pergi dari sini, sebelum semuanya berakhir. Tempat ini sudah menjadi tempat yang sangat mengerikan untuk kita semua."


Suara yang Claude dengar dengan memfokuskan telinganya itu, mencoba menerka apa yang terjadi sebenarnya didalam ruangan yang sepertinya berjarak sekitar lima langkah dari tempatnya berdiri. Claude pun kembali membuka matanya, tangannya pun menyentuh dinding lorong itu untuk merasakan energi sihir di setiap lorong itu.


"Gabriel apakah kau bisa memberitahuku siapa saja yang ada didalam ruangan itu?" Claude menunjukan sebuah pintu ruangan yang berjarak lima langkah kakinya itu. Sebuah ruangan dengan pintu kayu dengan warna gelap dan kusam.

__ADS_1


"Apakah kau bercanda? kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk itu" Gabriel mengeluh atas permintaan Claude yang begitu mendadak.


"Baiklah, itu memang tidak penting sekarang. Namun kemudian hari mungkin bisa menjadi sebuah informasi yang sangat berguna untuk kita."


"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu?"


"Pria didalam"


"Sepertinya pria tua dengan suara berat itu mengetahui banyak tentang rumah ini. Kita harus memanfaatkannya untuk mendapatkan banyak informasi darinya."


Mendengar alasan Claude, iapun segera bergerak menembus ruangan itu untuk melihat apa yang terjadi didalam ruangan itu. Sedangkan Claude begitu pelayan yang mengantarnya mengetahui Ia tidak mengikutnya ia puns egera memanggil Claude untuk kembali mengikutinya.

__ADS_1


Dengan tatapan yang masam pelayan itu terlihat dengan jelas mencurigai sesuatu kepada Claude. Namun Claude berusaha tersenyum untuk menutupi wajah aslinya yang penuh dengan sandiwara. Mereka berdua pun kembali berjalan menelusuri lorong sedikit gelap, dan berakhir di sebuah kamar lantai tiga tepat di sudut ruangan. walaupun sedikit jauh dari ruangan-ruangan utama. Namun pemandangan yang indah tidak bisa membohongi bagaimana Claude tidak bisa berkata luar biasa. Pemandangan yang sangat indah untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya. Taman bunga herbal yang membentang luas seperti kebun bunga istana, hewan-hewan roh kecil saling berlalu lalang dengan bebas.


“Sayang sekali, pemandangan indah seperti ini sepertinya akan segera menjadi pertumpahan darah.” Ucap Claude dengan sambil melihat keluar jendela.


Tidak lama kemudian, gabriel kembali menemui Claude dengan membawakan informasi yang dibutuhkan oleh Claude. “Mereka adalah pelayan lama dirumah ini. sepertinya mereka hendak kabur begitu mengetahui bahwa kediaman ini sudah menjadi markas cabang para penyembah iblis.” Gabriel berusaha


“Berapa orang yang akan dibawa pria itu pergi dari kediaman ini?” Claude menyilangkan tangannya namun matanya masih belum bisa melepas keindahan dari pemandangan yang tersedia di hadapannya itu.


“Sekitar tiga orang, dengan pria itu total sekitar empat orang”


“Sepertinya kita masih belum bisa mempersiapkan jebakan malam ini, sebelum kita harus membereskan mereka semua.”

__ADS_1


__ADS_2