Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
75


__ADS_3


"Silahkan pengacara dari keluarga Granduke Jacques untuk mengungkapkan pembelaannya."


Jaksa kembali ke tempat duduknya sedangkan seseorang maju sebagai pengacara Granduke Jacques.


"Menurut catatan yang saya dapatkan walaupun Grand Duke menggunakan sihir hitam. Namun ia sama sekali tidak pernah menyakiti orang lain."


"Bagaimana pada saat penyerangan dimalam itu? Apakah itu bukan termasuk menyakiti?" orang-orang mulai berteriak menjatuhkan harga diri pengacara itu.


Pengacara itu geram ia menggigit bibirnya. Sebenarnya ia sendiri tidak mau menjadi pengacara Granduke Jacques, mengingat seseorang tiba-tiba menyerangnya dimalam hari. Ia begitu ketakutan. Kekuatan besar yang tidak diketahui itu menyerang dirinya secara brutal hingga kediamannya sendiri rusak berat.


Mau tidak mau ia harus mengikuti permainan yang diciptakan oleh orang itu.


"Pembelaan tuan." Ujar pengacara itu berusaha sebaik mungkin untuk menyangkal semua tuduhannya itu. Memang Grand Duke menyerang semua orang yang ada disana karena ia memiliki alasan tersendiri."


"Alasan pribadi maksudmu?"


"Bagaimana jika begini. Pada hari yang sama dengan ditangkapnya Grand Duke dan disana ada hakim yang tidak sengaja melewat. Tiba-tiba hakim ikut terseret kedalamnya, lalu hakim dituduh berkomplot apakah hakim akan menerimanya?"


"Tentu saja, saya tidak akan menerimanya karena itu hanya sebuah tuduhan tanpa bukti."


"Maka dari itu, Grand Duke melakukannya karena ia merasa tertuduh sebagai pelaku dalang pergerakan penjual Belian budak secara ilegal. Sehingga ia tidak dapat menahan emosinya."


"Lalu mengapa dia tidak menjelaskannya pada pasukan khusus kepolisian kerajaan?" Hakim itu mengulik lebih dalam lagi.

__ADS_1


"Itu sebab pasukan khusus tidak memberikan sedikitpun kebebasan Grand Duke untuk menyampaikan alasannya." Pengacara itu benar-benar bersungguh-sungguh menyampaikan perkataan yang sudah dirancang dengan matang-matang oleh seseorang. Sehingga hakim pun merasa sedikit goyah.


"Masukan pil kejujuran pada tersangka!" Hakimpun memasukan pil kejujuran yang dapat digunakan hanya satu kali pertanyaan karena jika hakim menggunakan pil kejujuran yang asli mungkin efek sampingnya akan sangat besar bagi tubuh Grand Duke.


Oscar pun memberi isyarat pada pasukan khusus yang bertugas di kejaksaan untuk membawakan satu pil langka yaitu pil kejujuran, yang penggunaannya sangat dilindungi oleh undang-undang kerajaan.


Salah satu orang dari pasukan khusus kejaksaan itupun memberikan sebuah kotak dengan hati-hati, yang ternyata benda yang ada didalam kotak khusus nan spesial itu adalah pil kejujuran itu.


Oscar langsung mengambil sebutir pil itu dengan hati-hati dan kemudian berjalan menuju Grand Duke yang terikat lemas oleh rantai sihir milik raja. Oscar membuka paksa mulut Grand Duke lalu memasukan pil itu kedalam mulut Gran Duke Jacques.


Begitu semuanya melihat bahwa Gran Duke telah menelan pil itu, merekapun melanjutkan sidang mereka dengan sesi hakim yang akan bertanya pada tersangka. Hakim pun menyiapkan pertanyaannya baik-baik.


"Jawab dengan cepat, Tuan Jacques! Apakah kau terlibat dalam penjualan budak secara ilegal itu?" tak tanggung-tanggung Hakim bertanya sesuai dengan keinginan pengacara itu.


Begitu Grand Duke selesai menjawab semua para hadirin yang menyaksikan sudah itu terbelalak kaget begitu mendengar jawaban grand Duke yang telah memakan pil kejujuran itu.


"Mustahil!" Semua orang berteriak mustahil dan mulai bimbang dengan apa yang telah mereka dengar sebelumnya kecuali Claude ia tersenyum seolah-olah tidak takut dengan terbebasnya Grand Duke pada hukumannya.Claude pun kembali mengontrol ekspresinya setelah ia tersadar akan situasi semuanya.


Oscar kebingungan, juga dengan situasi sekarang. Maka bagaimana dengan tuntutan acara yang telah di persiapkan. Tiba-tiba seorang pria membuka mulutnya sambil mengacungkan tangannya.


Dia adalah Jaksa yang menangani kasus ini. Pengacara itu terpaksa pergi dan di gantikan oleh jaksa itu. "Baik Terimakasih atas kesempatannya. bukankah kita masih berada pada bahasan pertama dimana kita masih membahas sihir hitam yang di keluarkan oleh Grand Duke. tapi mengapa kita langsung membahas pada bagian selanjutnya dan menyatukannya dalam satu bahasan?


Seolah-olah melewati semua bahasan dengan tergesa-gesa. Bukankah disini kita harus menyelidiki ya satu-persatu secara detail setiap poin bahasan yang akan di paparkan."


Semua orang mulai berbisik kembali, Claude tidak menyangka Jaksa itu bisa melihat metode yang dilakukan oleh pengacara itu dengan tepat. padahal hakim sendiri sudah mulai terhasut dan terkena jebakan yang di buat oleh pengacara Gran Duke Jacques itu.

__ADS_1


Tontonan nya semakin seru untuk dinikmati menurut Claude. Ia sangat menantikan bagaimana rencana yang akan di lakukan selanjutnya oleh si pengacara itu.


Oscar pun membenarkan pernyataan yang diucapkan oleh si pengacara itu, bahwa pembahasan yang dilakukan mereka sudah melewati batas karena pada dasarnya pembahasan itu akan secara bertahap.


Karena ketahuan memanipulasi sedikit cerita pembahasan pengacara itu sedikit panik. sehingga tubuhnya bergetar hebat. namun saat itu juga Claude harus keluar menjadi saksi untuk berpura-pura netral. namun sebenarnya ia sedang berpihak pada pengacara itu.


,>>> Malam sebelumnya


"kau mau kemana? sebentar lagi bukanya waktu makan malam?" Ujar Gabriel melihat Claude menggunakan pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan topeng.


"Aku hanya pergi sebentar untuk mencari informasi." Claude Ngan santainya setelah mengganti pakaiannya ia pun melompat dari balkon kamarnya dan pergi secara diam-diam.


Gerakan lincah Claude saat berlari tidak bisa dipungkiri lagi. Ia begitu sangat cepat. tidak lama iapun menemukan sebuah kedai kecil yang letaknya tidak jauh dari kediamannya itu.


Claude-pun menyamar sebagai seorang pengembara dengan kostum baju yang ia gunakan sekarang. "Hei, kau minta uang dong." Seseorang yang mabuk tiba-tiba memukul punggung belakangnya dengan sangat keras.


Namun Claude hanya tersenyum licik, ia tahu bahwa ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan informasi. "Hei, bro. Apakah kau tau tempat seorang pembela. maksudku pengacara yang hebat?" Claude berkata dengan menggunakan kata-kata yang sangat akrab seolah-olah sudah mengenal dekat orang itu.


"Oh maksudmu sang pembela? apa kau berbuat kejahatan? Seberapa kejam kau? hehe" Orang mabuk itu benar-benar ngelantur bahkan mulutnya yang bau alkohol itu tidak bisa berkata-kata dengan benar.


"Tidak, maksudku jika kau berbuat kejahatan kau akan memilih siapa sebagai pembela mu?" Ujar Claude sambil Manahan nafas karena tidak sanggup lagi menahan bau alkohol dan tembakau yang kuat dari mulut pria yang sedang mabuk itu.


"Kau tidak tahu, tentu saja aku akan memilih Keith Iroas. Seperti namanya Iroas dia adalah seorang pahlawan yang mampu menolong seseorang dari tuduhan keji." Pria mabuk itu mengatakan informasi yang Claude inginkan pertama kali.


"Kalau begitu bagaimana kau cara menghubungi pria itu?" Claude tersenyum puas, karena ia memilih tempat yang tepat untuk mendapatkan informasi.

__ADS_1


__ADS_2