Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
32~ Tiba di ibu kota


__ADS_3

...----------------...



...----------------...


Claude dan yang lainnya itupun sampai di ibukota. Pemandangan indah dari ibu kota yang tidak pernah Claude lihat sebelumnya.


Para penduduk ibu kota berjajar untuk melihat pawai kemenangan peperangan yang dibuat oleh kerjaan. Tidak hanya Claude yang sedang menaiki kuda, namun para jendral lainnya yang menunggangi kuda itu begitu disambut dengan meriah oleh para penduduk di ibukota.


Terdengar bisikan-bisikan kecil dari beberapa warga yang membicarakannya.


"Sepertinya orang berambut jerami gandum itu penasehat perang yang membawa kemenangan peperangan kerajaan kita dengan bangsa Tarten.


Padahal sudah berpuluh-puluh tahun perang itu tidak pernah ada hentinya, bahkan pangeran Garg saja berhasil di pukul mundur oleh bangsa Tarten. Jangan-jangan ia adalah utusan dewa."


Gosip yang terdengar dari telinganya begitu beragam, mulai menamainya utusan dewa, Anak dewa, sang malaikat, dan anak haram raja. Semua berbagai julukan mereka sematkan seenaknya kepada Claude.


Begitu memasuki benteng utama kerajaan, akhirnya pawai itupun selesai. Claude dan para Jendral lainnya berdiri berbaris dan saling memberi hormat.


Para jendral itupun menaiki kudanya kembali dan pergi ke kediaman mereka masing-masing. Sedangkan Claude pergi meneruskan perjalanannya menuju Istana Kerajaan Greenbreez untuk memenuhi undangan Raja Nebuchadnezzar.


Istana yang sudah nampak ketika Claude ke ibukota, kini nampak jelas dimatanya. Keindahan serta pesonanya yang luar biasa tidak berhentinya Claude terbelalak kagum melihat keindahan dan kemewahan dari Istana Kerajaan Greenbreez.


Sesampainya di istana, Sebuah gerbang dengan benteng dan pintu yang tinggi itupun terbuka. Claude dan sang utusan itupun masuk kedalam istana, yang ternyata ia masih harus menempuh beberapa langkah lagi di antara Padang taman bunga yang luas.


"Tuan! Dari sini kita turun saja dan berjalan kaki, biarkan para pengawal mengurus kuda anda." Ujar sang utusan.

__ADS_1


Claude dengan cepat menuruti apa yang dikatakan oleh sang utusan tersebut. Mereka pun berjalan di tengah hamparan Padang bunga yang indah dan harum itu.


Claude teringat bahwa ia belum mengetahui siapa nama utusan kerajaan itu. Tanpa ragu-ragu iapun menanyakan nama Sang utusan kerajaan itu.


"Maaf sebelumnya, karena saya tidak sempat bertanya. Apakah saya boleh mengenal nama anda?" Tanya Claude sambil berjalan beriringan dengan sang utusan itu.


"Hahah, tidak apa-apa tuan. Saya hanya orang kecil tidak pantas menolak keinginan Tuan." Ujar Sang utusan itu merendahkan dirinya. "Nama saya Tixier Fenrir dari keluarga count Fenrir." sambungnya.


Seingat Claude saat ia masih tinggal di kediaman keluarga Marquez, Keluarga Count Fenrir merupakan keluarga yang mengikuti Duke Perion sama dengan keluarganya. Ia tahu karena terkadang Claude sering mendengarkan para pelayan di kediamannya bergosip tentang majikannya sendiri.


"Apa kau kepala keluarga Fenrir saat ini?" Claude harus benar-benar berhati-hati tentang identitasnya yang bisa saja terbongkar kapan saja. Walaupun para Jendral dan para pemimpin pasukan sudah mengetahuinya.


"Benar, Tuan! Keluarga saya ada didaerah Greenwheat. Saya sebagai kepala keluarga Fenrir ditunjuk sebagai pengelolaan surat kerajaan. Sekarang saya ditunjuk sebagai utusan untuk menjemput Tuan Claude."


Tidak seperti keluarganya yang sangat berambisi pada jabatan, sepertinya keluarga Fenrir cukup makmur dengan Tixier sebagai kepala keluarga mereka.


"Tidak tuan karena perjalanan tuan cukup jauh dari Greenpearl menuju istana ini kami sudah menyiapkan tempat tinggal sementara tuan didalam istana barat." Fenrir menjelaskan beberapa denah istana kerajaan Greenbreez.


Mulai istana barat yang dikhususkan untuk menjamu tamu kerajaan lain, istana barat tempat tinggal ratu, Istana utama sebagai tempat tinggal raja, dan yang terakhir adalah istana dingin khusus sebagai tempat hukuman anggota kerajaan.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya Claude tiba di istana barat. Semua pelayang sudah disiapkan dan berjajar memberi hormat pada Claude.


Arsitektur Istana barat terlihat sangat megah, dengan ukiran-ukiran yang berbalutkan emas. Bertujuan untuk memperlihatkan kekayaan milik kerjaan Greenbreez pada para tamu kerajaan.


Karpet merah yang terbentang memenuhi semua lantai kerajaan itu. Membuat Claude tidak bisa berkata-kata lagi. Selama ini pandangan tempat tinggalnya merupakan tempat tinggal layaknya tempat tinggal seekor tikus.


Baik di dalam kediaman keluarganya, mupun saat ia tinggal di gubuk reyot yang ia tinggal sebelumnya, saat ia pertama kali mendapatkan kelebihannya.

__ADS_1


Segera setelah itu Tixier membawa Claude melihat seluruh ruangan yang begitu luas dan megah. Hingga akhirnya mereka sampai tepat berada didepan pintu kamar Claude yang telah mereka siapkan untuk Claude beristirahat.


Mereka pun masuk kedalam ruangan itu, tampak ruangan yang sangat besar, bersih dan sangat mewah. Claude terkagum-kagum melihat kemewahan kamarnya itu, namun tiba-tiba datang seseorang berambut perak yang indah.


Wajah yang sangat familiar dimata Claude, bahkan ia sudah hafal setiap lekuk wajahnya itu. Hidung mancungnya, kulitnya yang putih bersih, bibirnya yang merah muda. Pakaian yang begitu gagah dan mewah.


Semuanya langsung menunduk hormat ketika melihat beliau. Begitupun dengan Claude dan Tixier ketika melihatnya.


"Salam kami haturkan kepada sang titisan Matahari, Yang mulia putra mahkota pangeran Garg." Secara bersamaan mereka menghormat kepada pangeran Garg yang datang menemui Claude.


"Terimakasih kalian boleh mengangkat kepala kalian." Sahut pangeran Garg setelah yang lainnya menunduk hormat padanya.


Tixier pun membuka mulutnya dan bertanya pada Pangeran Garg, yang secara mendadak menemui mereka tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.


"Tuan, jika diperkenankan hamba bertanya ada apa gerangan tuan putra mahkota menemui kami". Ucap Tixier bertanya dengan penuh hormat pada pangeran Garg.


"Saya kesini hanya ingin menemui Tuan ini. Saya sangat penasaran bagaimana wajah, seorang pahlawan negeri ini. Ternyata Anda sangat tampan ya tuan. Rambut pirang anda sangat khas sekali."


Tidak tahu apa yang dikatakan Pangeran Garg tiba-tiba tersenyum begitu melihat Claude yang sudah memenangkan peperangan yang sebelumnya pernah ia pimpin.


"Terimakasih pujian tuan, saya sangat tersanjung dengan pujiannya." Claude tersenyum palsu begitu melihat bagaimana pangeran Garg yang tiba-tiba menyinggung warna rambutnya.


Dengan isyarat tangan, Garg menyuruh semua pelayan dan pengawalnya untuk pergi ke luar. Begitupun dengan Tixier dengan bahasa yang sangat sopan ia menyuruh Tixier untuk menunggu diluar sementara waktu.


Setelah semuanya pergi hanya tersisa Claude dan Pangeran Garg di dalam kamar itu. Menggunakan sihirnya Garg menutup pintu kamar itu dengan sihir agar tidak terdengar apapun.


Garg pun berjalan sedikit, kemudian terduduk di sofa yang besar dan empuk itu, sambil menyilang kan kedua kakinya. Tangannya melambai-lambai menyuruh Claude untuk duduk bersamanya untuk melakukan pembicaraan yang penting.

__ADS_1


__ADS_2