
keterangan :
Gubuk Claude
Sumur
Penjara bawah tanah
Camp Militer
Benteng pertahanan
Rumah penduduk desa Greenpearl
Pegunungan Greenbreez
Pasukan Tarten sudah datang, semuanya bersiap di tempat mereka. Sedangkan Claude dan Fermilion, memulai perjalanan mereka melalui hutan yang jaraknya tidak cukup jauh dari Arena perang.
Para tentara Tarten semuanya sudah berkumpul di depan perbatasan. Prajurit mereka siap menghunuskan pedang pada prajurit tentara kerajaan.
Tatapan mata Krud yang begitu tajam dengan penuh hawa ingin membunuh. Menjadikan pesonanya yang begitu kuat dengan berdiri diatas Benteng untuk bersiap melakukan sihir yang besar sambil mengamati jalannya peperangan itu terjadi.
Kobaran Angin kuat mengibarkan bendera kedua negara itu. Sebagai wasit perang seorang penyihir murni dari Undertower yang berada tepat di perbatasan kerajaan Greenbreez dan Tarten. Ia melangsungkan peperangan dengan berdiri di tengah perbatasan.
Ini adalah salah satu aturan peperangan yang dilakukan oleh para penyihir seperti mereka. namun di belahan bumi yang lain tentu saja akan memiliki peraturan yang sangat jauh berbeda.
Sambil menatap kedua pemimpin peperangan ini. Eden dan Eugene yang merupakan sesama Jendral utama di dalam perang kali ini.
__ADS_1
Eden melihat melihat Eugene membuka mulutnya. Samar-samar Eden menerjemahkan kata-kata dari Eugene kata yang paling jelas dari gerakan mulutnya adalah kata 'Loossseeerrrr' sambil tertawa cekikikan.
Tentu saja seperti kebijaksanaan yang telah Claude ajarkan padanya, bahwa di Medan perang musuh adalah Musuh, namun emosi yang tenang dalam menghadapinya merupakan sebuah proses kemenangan sejati.
Bendera perang telah di jatuhkan menandakan perang sudah bisa di mulai! Eden langsung mengacungkan tangannya sambil memberikan isyarat untuk memerintahkan pasukan depan kiri maju terlebih dahulu. lalu Isyarat tangan yang kedua mengisyaratkan untuk mempersiapkan pasukan tengah.
Pasukan baris depan kiri pun pergi menyerang bangsa Tarten dengan semangat juang yang menggebu-gebu. Dengan pedang sihir mereka. Merah saling beradu kekuatan pedang sihir mereka.
Isyarat ketiga pun di acungkan oleh tangan Eden. Pasukan baris depan sebelah kanan siap menyerang. Lalu dilanjutkan dengan Isyarat ke empat untuk memerintahkan pasukan pemanah untuk membantu.
Eden terus menerus mengawasi posisi mereka, namun kala itu juga Eugene datang menyerang bersama kudanya pada Eden.
"Kau lihat saja kekalahan mu!" ujar Eugene.
Eugene memiliki sihir es, sihir yang sangat jarang ditemui dari kerajaan Greenbreez yang memiliki rata-rata sihir api dan tanah, beberapa sihir petir dan angin.
Dengan cepat sihirnya menjalar pada pedangnya dan memiliki efek sihir yang sangat hebat. Layaknya pedang es seperti biasanya, Eugene begitu ahli dalam mengayunkan pedang esnya itu. hingga tidak berhenti-henti nya ia membuat Eden sedikit terpojok.
"Sihir kita sangat berlawanan, itu cocok sekali untuk dijadikan pertunjukan yang sangat hebat."
"Bukannya sudah jelas Api akan kalah oleh es?" nada merendahkan dari Eugene.
Eugene begitu sombong dengan kemampuannya. Padahal ia tidak berhasil menjatuhkan Eden dari kudanya padahal Eden sendiri belum menggunakan sihirnya.
"Heh, Biar ku tunjukan apa yang Tuan Claude ajarkan padaku!" Eden tertawa meremehkan seperti yang ia pelajari dari Krud setiap ia memperhatikan Krud karena ketampanannya yang sangat langka itu.
Eden menemukan sihir apinya, sihir murni dari dalam tubuh setiap manusia yang tidak perlu diucapkan dengan menarpalkan mantra.
Seketika itu pedang sihirnya berubah menjadi pedang api yang begitu merah membara di mata Eugene. bahkan efek sihirnya benar-benar menjadi sangat besar dibandingkan dengan pedang sihir yang biasa mereka gunakan.
Ketika itu juga sesuatu yang belum pernah Eugene rasakan yaitu rasa takut itu tiba-tiba saja muncul menjalar sampai ke otaknya. Memang tidak masuk akal, mereka sudah saling bertarung selama berpuluh-puluh tahun, namun untuk pertama kalinya Eugene melihat sihir Eden yang begitu besar hanya dalam kurun waktu satu bulan setelah kekalahannya.
Eden mengibaskan pedangnya. Sihirnya begitu besar dan pekat. Sehingga membuat prajurit di sekitarnya mengalihkan pandangan mereka kepada Eden.
__ADS_1
Prajurit Tarten melihat Eugene terperangah melihat sihir yang sangat besar milik Eden. Sehingga mereka memilih berinisiatif untuk menggulingkan Eden terlebih dahulu dari kudanya.
Namun sia-sia saja dalam sekali tebasan, pedangnya sudah bisa menebas begitu banyak prajurit kerajaan Tarten. Dengan melihat tebasan yang begitu mengerikan seperti itu Eugene menjadi menciut sampai rasanya ia ingin melarikan diri dari sana.
Lelehan es dari pedang Eugene, tidak dapat di pungkiri. Akhirnya Eugene memutuskan untuk benar-benar kabur ke belakang barisan pasukannya untuk melaporkannya pada pangeran Zachary yang berada di belakang barisan.
Eugene berlari cukup cepat, hingga Eden tidak bisa mengejarnya. Bahkan beberapa pasukan Tarten berusaha menghadangnya.
Disisi lain pasukan Pemanah tidak hentinya membidik kearah musuh. namun beberapa dari mereka juga terkena serangan panah musuh sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan pemanah dari kerjaan Greenbreez berkurang cepat.
Ini tidak sesuai dengan perkiraan Claude. Ahli pemanah dari bangsa Tarten memiliki sihir tanah, sehingga tidak akan berpengaruh pada sihir api yang para pemanah itu miliki.
Para medis tidak berhentinya saling berlarian menyelamatkan prajurit yang terluka. Pasukan pemanah sudah berkurang hampir dari setengahnya.
Awalnya Krud masih terdiam karena Zachary masih belum menggunakan kekuatannya, namun melihat kondisi pasukan pemanah yang sedikit tersudutkan itu akhirnya turun tangan untuk menyerang balik pasukan pemanah musuh.
Krud mencoba untuk memfokuskan dirinya, namun Krud masih tidak bisa fokus melihat para junior dan seniornya silih berganti mengantarkan arwah-arwah prajurit yang telah gugur itu ke gerbang kematian.
"Tuan Alger awas!"
Brugh...
Seseorang telah menyelamatkan Krud dari panah yang menyerang kearahnya. sebagai gantinya orang itu harus menggantikan Krud untuk menerima panah yang melesat terbang kearahnya.
"Tuan Themis De Alger yang terhormat! Apa kau baik, huchk.. baik saja? Syukurlah aku berhasil melindungi tuan dengan begitu kemenangan bisa kita raih bersama!"
Krud terbelalak kaget melihat seseorang itu berusaha melindunginya, namun yang lebih mengejutkannya lagi senior Krud yang merupakan seorang malaikat maut juga itupun berdiri di belakang orang yang baru saja menyelamatkannya.
"Bodoh! Manusia seperti kalian itu sangat bodoh! Untuk apa kau melindungi ku yang seorang malaikat maut ini!"
Tidak tahu harus mengatakan apa, Krud benar-benar tidak tahu jika orang dihadapannya adalah seseorang yang sudah diturunkan surat kematiannya oleh sang pencipta.
"Pantas saja Tuan Alger sangat hebat, ternyata Tuan Alger seorang malaikat ya! Kalau begitu sampaikan pada Tuan Claude keinginan terakhirku ini."
__ADS_1
Dengan suara yang lemah orang itupun sudah sangat lemas dan tidak bisa bertahan lagi, karena anak panahnya tepat mengenai bagian tengah lehernya.