
"Benar yang mulia ratu! Eden tidak tahu mengapa ia menjadi sekuat itu."
Tubuh dan semua badan pria itu bergetar hebat saat menghadapi Penyihir wanita itu.
Namun ketika nama Eden terlintas dalam pembicaraan mereka Claude langsung memikirkan sesuatu. Jika pria itu baru saja berhadapan dengan Eden kemungkinan besar pria itu bukanlah sembarang orang, bisa jadi orang itu adalah Jendral pembuka seperti Eden.
Plak...
Suara tamparan keras terdengar nyaring di telinga Claude.
"DASAR TIDAK BERGUNA! MIMOSAAAA! KAU PERGI BUNUH JENDRAL SIALAN ITU."
Teriak keras Penyihir itu kepada seorang wanita berambut ikal cokelat dengan kulit putih, seputih salju. Menggenakan Gaun berwarna hijau zamrud. Matanya besar dan cantik, juga bibir yang mungil dan hidungnya yang bangir.
"Ya yang mulia Ratu!"
Dengan patuhnya wanita itu menunduk hormat pada Penyihir wanita itu.
"PERGI KAU KALAHKAN EDEN DAN PASUKANNYA!"
Penyihir wanita itu berteriak memerintahkan wanita cantik itu untuk melakukan tugas yang di perintahkan oleh penyihir wanita itu.
Namun tidak disangka-sangka, Fermilion yang biasanya terlihat diam dan sangat bijaksana itu. Ketika itu dengan nekatnya muncul di hadapan para penyihir itu tanpa perintah dari Claude.
"MIMOSAAAA!" Teriak Fermilion. "Aku akan membunuhmu! Kau telah membunuh Ayahku, Sekarang tibalah takdirmu!" Sambung Amarah Fermilion.
Fermilion benar-benar marah, hal itu tampak dari pedang sihirnya yang memancarkan Api yang begitu besar.
"HAHAHAHAH, Ternyata ada tikus kecil disini." Mimosa tertawa senang melihat Fermilion yang begitu berani menantangnya.
Claude membuka lembaran surat kematian yang dikumpulkan oleh Krud. Ternyata Mimosa termasuk kedalam Penyihir murni yang menggunakan kekuatan iblis atau disebut dengan Penyihir hitam.
Itu artinya Claude juga merupakan salah satu targetnya. Pantas saja Krud tidak bisa mengambil nyawa para penyihir Hitam, karena baik pertahanan ataupun serangan mereka yang mencampurkan sihir dan kekuatan murni sangatlah rumit di hadapi.
__ADS_1
"Tuan Ratu! Sebelum aku memenggal Eden. Izinkan aku memenggal kepala Jendral Fermilion ini disini!" Teriak Mimosa pada Penyihir wanita yang menggunakan gaun hitam, berambut hitam bergelombang, ditambah dengan kuku panjang berwarna hitam. Jelas seperti Penyihir hitam sering dilihat Claude di dalam buku anak-anak.
Kekuatan Mimosa tidak sebanding dengan Fermilion, bukan tidak sebanding sebenarnya Fermilion tidak cukup tenang untuk menghadapi Mimosa. Akibatnya sihir yang ia keluarkan tidak akan efektif untuk melawannya.
"Kau banyak bicara Mimosa!" Tukas Fermilion.
"Hahaha, apakah kau datang sendirian kesini Fermilion yang tampan..." Goda Mimosa.
Dalam pikir Claude apakah semua nenek sihir di Tarten suka menggoda pria. Itu sangat menjijikan.
"Lihat badan gagahmu! Kulitmu yang sawo matang, rambutmu yang panjang dan menggoda! Apa kau tidak menyayangi hal ini?"
Mimosa masih tidak ada hentinya menggoda Fermilion, namun nampaknya Fermilion juga merasa jijik dengan perkataannya itu.
"Fermilion!" Teriak Claude. "Kau harus tenang! Sudah kubilang kau harus mengikuti perintahku." Claude dengan tatapan yang dingin dan mematikan itu tidak membuat para penyihir itu takut. Mereka malah silih berdatangan melihat ketampanannya wajah Claude.
"Kyaa, tampan sekali seperti patung pahatan! Begitu sempurna! Lihat rambut kuningnya ini bagaikan sebuah jerami gandum!" Teriak Mimosa.
Penyihir wanita yang sebelumnya mereka sebut Ratu itu, setelah dingat-ingat oleh Claude ternyata dia adalah Sacra, Penyihir yang berhasil membunuh Ratu sebelumnya dan membuang pangeran Thura ke daerah terpencil.
Sacra memerintahkan semua penyihirnya mundur. Lalu iapun maju kehadapan Claude. "Tuan tampan, siapa namamu?" Nada bicara Sacra tiba-tiba merendah dan lembut sekali pada Claude.
"Kau tidak berhak mengetahui namaku." Tukas Claude.
Mata biru berlian Claude yang menatap tajam Sacra membuat Sacra semakin tertarik dengan sikap Claude yang sangat menantang itu.
"Ohohoho, menarik sekali pria tampan. Bagaimana jika kau menjadi pangeran ku dan duduk di singgasana bersamaku?" Sacra begitu tertarik dengan Claude, hingga tanpa rasa malu sedikitpun ia melamar Claude di hadapan para penyihir lainnya.
Claude menjadi geram melihat kelakuan Sacra yang tidak tahu malunya itu. Sehingga Claude memutuskan untuk memancing amarahnya terlebih dahulu.
Claude melempar salah satu belatinya secara cepat tanpa aba-aba apapun. Belati itu berhasil memotong sebagian kecil rambut hitam Sacra, bukan hanya itu salah satu Penyihir hitam yang berada di belakangnya langsung ambruk begitu belati Claude menancap tepat dahi kepalanya.
Darah bercucuran hebat, semua penyihir itu langsung menangkap penyihir yang terkena serangan Claude. "Kau!" Teriak Sacra.
__ADS_1
"Yang mulia rambutmu!" Teriak Mimosa.
"Aku sudah tahu, Bunuh dia bersama Jendral itu!" Sacra benar-benar marah ia memerintahkan para penyihir lainnya untuk membunuh Claude dan Fermilion.
Claude pun memberi isyarat mata untuk Fermilion, agar ia segera melakukan Kombinasi mereka yang sudah mereka pelajari dalam kurun waktu seminggu ini.
"Fermilion!" Teriak Claude
"Baik Tuan!"
Dengan kelincahan dan kecepatannya berlari Claude melesat berlari kearah belakang para penyihir itu. Seketika itu Juga Fermilion mengumpulkan mana sihirnya dalam pedang sihir miliknya hingga terkumpul, lalu menebasnya dengan secara meluas.
"Sihir Api perwujudan pedang lidah api!" Teriak Fermilion
Tebasan Api yang begitu indah, seperti lidah api yang membara menembus udara di sekitarnya. Menyerang penyihir itu secara meluas.
namun ketika itu, Rencana Claude gagal total. Para penyihir tidak mengandalkan mana sihir mereka untuk menghindar. Karena para Undead pangeran Zachary tiba-tiba saja datang melindungi para penyihir itu.
"Berani kau menyentuh para gadisku!" Teriak seorang pria dari belakang Claude.
Berbeda dengan dugaan Claude, pangeran Zachary tidak dikelilingi oleh sihir kegelapan ataupun kekuatan murni dari iblis. Bahkan auranya sangat terang bagaikan matahari.
"Siapa kau!" Teriak Claude
"Sudah kuduga kau ini orang awam, yang tidak mengerti Medan perang! Aku adalah Zachary pangeran satu-satunya di kerajaan Tarten!" Tegas Zachary.
Kupikir aku sudah menyelesaikan tugasku melenyapkan tentara kerajaan Greenbreez, tidak disangka disini masih saja ada yang bertahan hidup.
"(Melenyapkan? Itu tidak mungkin Sihir Krud begitu besar dan kuat jadi tidak mungkin.. tunggu dulu seharusnya Krud dan para jendral itu sudah bisa sampai kesini. Apa jangan-jangan..)" Dalam kata hati Claude mempertanyakan keadaan tentara bangsa Greenbreez.
Dalam pikirnya rencananya sudah begitu sempurna, namun tidak di sangka Pangeran Zachary mengatakan dengan tegas bahwa tentara yang selama ini ia bina sudah musnah tanpa ia ketahui apa kesalahannya.
"Kau pasti memikirkan si penyihir dengan kekuatan sihir segel yang besar itu? Menurut ku dia hanya penyihir tingkat tiga yang menggunakan alat bantu saja. Bagi pangeran seperti ku itu tidaklah ada apa-apanya." Zachary begitu percaya diri dan sombong di hadapan Claude.
__ADS_1