Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
46


__ADS_3

Claude berhasil menahan serangan dari Carpel dengan satu tangan saja. Wajahnya begitu tenang. Tidak seperti Carpel, wajahnya merah padam. Ia benar-benar emosi dengan apa yang dikatakan oleh Claude.


"Apakah kalian lihat? Kakakku menyerang ku tanpa sihirnya. tapi ini lebih baik daripada menggunakan sihir. Dia masih berbaik hati padaku bukan." Claude berusaha membela Carpel, namun Carpel tahu bahwa Claude saat ini sedang meng hadir para hadirin itu untuk berpindah padanya.


"Tetap saja itu tidak sopan, meskipun tuan muda Carpel adalah saudara dari tuan Claude. tapi membuat ketakutan tamu hadirin dan menyerang saudara sendiri merupakan hal yang sangat tidak terhormat." Salah satu hadirin itu mulai mengatakan kata-kata apa yang diharapkan oleh Claude keluar dari mulut mereka.


Claude mengambil pisau dari tangan Carpel. lalu memasukan kedalam sakunya diam-diam tanpa seorangpun yang mengetahuinya.


"Kau lihat bukan, orang-orang tidak ada yang percaya padamu." Claude berbisik pada Carpel dengan tersenyum licik.


"Ini belum berakhir bodoh!" Carpel membalas perkataan Claude dengan penuh emosi.


Claude membungkuk hormat pada tamu hadirin yang datang. Untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan mereka karena disebabkan oleh perselisihan antara dua saudara itu.


"Kalau begitu maafkan saya, atas ketidaknyamanan pada Lady dan Tuan-tuan tamu undangan atas ketidaknyamanan yang di perbuat oleh kakak saya."


"Kau tidak salah tuan Claude, bahkan yang mulia raja begitu menghormatimu. Yang salah adalah saudaramu yang tidak ada akhlak itu."


Benar, Tuan muda Carpel bukan hanya kalah di kompetisi adu pedang bangsawan saja. Dia benar-benar bodoh ternyata. hahaha."


Semua orang berhasil terhasut oleh perkataan Claude. ini akan sangat memudahkan Claude untuk kedepannya saat waktunya tiba Claude harus membunuh Duke. Ia tidak mungkin dicurigai sebagai pembunuhnya karena malam ini.


Begitu Duke meminum minumannya, reaksi obatnya akan segera bereaksi dalam tubuhnya. namun seperti yang dikatakan oleh Carpel bahwa semuanya belum selesai. Carpel masih menyiapkan satu jebakan lagi yang akan di lakukan oleh Carsten.


Begitu Claude berdiri tegak bersama Carpel. Carsten menyamar menjadi seorang pelayan dengan seragam pelayan sambil membawakan gelas-gelas minuman.

__ADS_1


Claude sebenarnya sudah tahu bahwa pelayan yang akan mendekatinya adalah Carsten, namun ia harus berpura-pura tidak mengetahui itu. Agar Carpel merasa senang terlebih dahulu.


Carsten mulai menjalankan aksinya, sambil membawakan senapan wine di tanyakan kanan dan kirinya. Carsten berpura-pura tergelincir ke arah Claude sambil. Menyerangnya menggunakan sihir miliknya.


Namun hal itu sia-sia sihir yang keluar dari Carsten begitu mudah di serap oleh liontin milik Claude. Sehingga Carsten yang tidak memprediksi akan hal itu, hampir mencelakakan dirinya yang akan terjatuh ke atas beling gelas kaca yang baru saja ia jatuhkan.


Namun dengan sigap Claude langsung menangkap Carsten yang terjatuh walaupun bajunya akan di penuhi oleh warna merah dari air wine yang tumpah.


"Kau tidak apa-apa, Carsten?" Claude langsung menanyakan keadaan Carsten. Untuk memperlihatkan bagaimana kebaikan hati Claude di depan para hadirin itu.


Semua orang berbisik membicarakan pelayan yang baru saja menumpahkan wine diatas baju Claude. Mereka memandang pelayan itu dengan tatapan rasa jijik karena ketidak kompetennya orang itu.


Namun segera semua pandangan itu akan berbalik. "Terimakasih kakak" Ujar Carsten. Sambil menangis menitipkan air matanya.


Adapun yang berpendapat lain, bahwa Claude sengaja melakukan itu, karena merasa lebih berkuasa daripada adiknya. Adapun tanggapan lain yang semuanya berbincang-bincang dan akhirnya mengarah ke keburukan Claude.


"Kenapa kau menggunakan baju pelayan Carsten?" Claude berpura-pura tidak tahu. Untuk mempertahankan reputasinya.


"Bukankah kau yang menyuruhku? Kau juga tidak membantuku dengan sihir mu agar minuman itu tidak tumpah, kak. Apa kau sengaja ingin mengotori jas mu?" Carsten tersenyum licik sambil masih berpura-pura lemah.


Carpel mengacungkan jempolnya diam-diam ke arah Carsten sambil sambil tersenyum puas. Namun Claude sudah mengetahui semua rencana apa yang akan mereka lakukan.


"Maafkan kakak, tadi kakak panik takut kau terluka. Sehingga tidak sempat mengeluarkan sihir untuk membantumu." Claude menunjukan ekspresi penyesalannya.


Semua menjadi merasa bersalah karena sudah berkata yang tidak-tidak pada Claude. "Saya ucapkan sekali lagi permintaan maaf karena pesta yang saya selenggarakan ini tidak berjalan dengan baik. Saya akan mengganti rugi pesta ini dengan pesta selanjutnya yang lebih baik lagi."

__ADS_1


"Saya merasa terhormat dengan permintaan maaf tuan dan saya akan menunggu undangan pesta selanjutnya yang lebih baik dari kediaman keluarga baron." Salah seorang itu menjawab dengan penuh hormat pada Claude.


Begitupula dengan Claude yang pura-pura tersenyum ramah pada semuanya. Untuk menunjukan keramahan yang ada pada dalam dirinya.


"Kalau begitu saya izin undur diri untuk membersihkan pakaian saya." Claude pun pergi begitu saja sambil mengamati Duke Lourik untuk menunggu kesempatan melihat Duke yang mabuk berat itu.


Claude langsung pergi meninggalkan aula pesta itu di gelar. Sambil menemui Krud yang sudah menunggunya sejak lama di dalam kamar milik Claude.


Begitu Claude menaiki tangga, Claude sudah melihat tanda-tanda, Duke mabuk berat. Badannya sudah merasa lemas dan merah padam. Duchess pun membantu memapah Duke untuk berjalan.


Sepertinya akan sulit jika Duke pulang bersama dengan Duchess, karena kemungkinan besar Duchess akan selalu ada di sampingnya. Claude harus memikirkan sebuah cara untuk memisahkan Duke dan Duchess.


Karena jika Duchess mengetahui apa yang di lakukan oleh Claude, tentu saja ia akan salah paham dengan situasinya. Dan besar kemungkinan Duchess akan menganggap Claude sebagai pembunuh.


Untuk sementara Claude harus bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. sambil bertanya satu hal pada Krud yang sudah lama menunggu di dalam kamar Claude.


Begitu sampai di dalam kamarnya Claude langsung melepaskan jasnya, dan melemparnya secara sembarangan. Ia pun mengganti pakaiannya menggunakan pakaian hitam dan tudung hitam untuk menutupi identitasnya.


"Krud, mana surat kematian milik Duke."


"Ini." Krud memberikan selembaran kertas yang berisikan informasi mengenai Duke Lourik dan hari kematiannya. Begitupula dengan sihir dan sihir perlindungan miliknya.


"Apa kau yakin hanya ingin menonton saja?" Claude bertanya pada Krud yang sedang duduk diujung kasur milik Claude dengan pakaian hitam khas bangsawan Alger sama seperti saat di Medan perang.


"Aku hanya ingin melihat saja untuk saat ini. Karena kurasa jika aku ikut, sepertinya tidak akan membantu sama sekali." Krud tersenyum pada Claude. Sambil melihat sorot mata Claude yang biru bagaikan berlian yang mengkilap itu.

__ADS_1


__ADS_2