Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
73


__ADS_3

Vischa menekan balik aura yang di pancarkan oleh Claude, sambil menatap Claude dengan serius. Hal itu membuat Claude tertegun begitu melihat Vischa yang terlihat serius itu.


"Bukan ayah yang melakukannya." Walaupun sihir milik ayahnya mulai melemah tetapi tekanan udara yang begitu besar ini adalah aura tekanan yang biasa digunakan bangsawan sekelas Grand Duke. "Seseorang diluar sana mungkin sedang mengincar mu karena apa yang kau lakukan dengan menguak gudang itu."


Claude terbelalak kaget begitu Vischa menyelesaikan kata-katanya. Kata-kata dari Vischa sangat masuk akal. Bahkan orang yang dihadapi oleh Claude saat itu adalah seorang Granduke yang memakan darah iblis sebagai konsumsi sehari-harinya.


Namun Claude merasa ia masih belum bisa mempercayai Vischa. Ia juga tidak bisa menyalahkan Vischa seluruhnya karena sepertinya tujuan tersembunyi orang tersebut adalah agar Claude menyalahkan semuanya pada Vischa. Ia tahu betul seorang anak seringkali menyalahkan orang tuanya sendiri. Termasuk anak dalam masa pubertas.


Namun berbeda dengan Claude yang sudah menerima kemampuan yang ia terima dari Krud, otaknya sudah stabil di bandingkan orang seusianya.


"Aku masih belum percaya dengan alasan Ayah, sebagai gantinya ayah harus menciptakan bagaimana bisa Carpel terkena sihir itu."


"Sudah ayah duga kau tidak akan mempercayai kata-kata ayah. Akan ayah ceritakan padamu secara singkat saja karena ayah masih banyak pekerjaan.


Setelah Charly memberikan itu pada ayah ia memberitahukan pada ayah untuk memberikannya padamu, saat itu ayah baru saja pulang menyelesaikan masalah perbatasan. Ayah menyuruh utusan untuk meminta kau pulang


Mungkin karena ayah kelelahan maka dari itu ayah tertidur setelahnya. Dan tidak menyangka bahwa Carpel terkena sihir yang ada didalam surat itu. Ayah belum memberitahu pada semua anggota keluarga termasuk lady Gracia sebaiknya kau tidak memberitahukannya pada siapapun."


Dalam kepalanya Claude pun berpikir "Charly???"


"Jika Charly yang memberikan Grimoire itu, mengapa ayah mengatakan bahwa Charly dan Charmy tidak boleh mengetahuinya."


Vischa tiba-tiba terdiam. Entah ia sedang berpikir untuk mencari alasan ataupun karena ada sesuatu lainnya.


"Ayah sudah menyegel surat itu di Grimoire palsu Itu. Grimoire itu adalah Grimoire salinan dari mantra sihir milik Ayah dan sebagian lainnya adalah milik Ibumu. Sebelum ia meninggal ia membakar Grimoire-nya beruntung sebagian halaman masih bisa terselamatkan."


"Jadi.."


"Sebenarnya Charly mengatakan hal yang sama untuk tidak memberitahukan pada Charmy dan Charly. Ia mengatakan kalau ayah berbicara seperti itu mungkin kau akan percaya pada Ayah dan menyalin bukunya. Karena ayah tahu kau masih tidak percaya pada Ayah setelah apa yang terjadi sebelumnya."

__ADS_1


Vischa menurunkan Aura tekanannya, matanya menatap dengan penuh berharap pada Claude.


"Lalu kenapa ayah menyegel surat itu digrimoire itu dan memberikannya padaku?"


"Ayah hanya ingin melihat apa yang dikatakan olehmu itu benar, sihirmu adalah sihir yang bisa menghapus sihir lain."


Claude pun terbelalak terkejut. Bukankah selama ini sihirnya melemah karenanya. Claude tertegun dengan perkataan Vischa yang tidak terduga itu.


"Apa maksud ayah?"


"Setahu ayah sihir itu hanya bisa dilakukan oleh penyihir agung seperti ibumu. Ayah tidak menyangka walaupun kau seorang anak laki-laki tapi bisa mewarisi sihir milik ibu mu."


Vischa pun beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju rak buku yang berjajar rapih itu, Claude memerhatikan Vischa lekat-lekat. Apa yang akan dilakukan oleh Vischa.


Tidak menyangka ternyata Vischa bukan mengambil sebuah buku melainkan mengambil sebuah kunci yang terbuat dari perak.


"Apa yang ayah akan lakukan?"


Vischa kembali menuju tempat duduk kerjanya tetapi bukan untuk kembali duduk di kursinya melainkan mengucapkan kalimat sihir secara perlahan-lahan, hingga tidak terdengar jelas oleh Claude.


Namun tiba-tiba secara perlahan lukisan yang menggantung di belakang meja kerja visca pun membuka secara perlahan. Kini terlihat jelas ada sebuah brangkas di balik lukisan itu.


Vischa pun memasukan kunci perak itu dilubang kunci brangkas itu. Claude tidak mengerti jika itu adalah sebuah barang rahasia mengapa brangkas itu tidak dikunci lagi dengan sebuah kode yang sulit ataupun dengan sihir segel miliknya.


Brankas itupun terbuka vischapun mengambil sebuah barang yang terlihat sangat tua. Sepertinya Vischa sudah menyimpannya dalam waktu yang sudah cukup lama. Vischa menyodorkan dua buah buku yang sangat tua dengan yang satunya lagi terdapat jejak bakar.


"Ini..?"


"Ini Grimoire milik ayah dan yang terbakar ini milik ibumu. Kurasa kau sudah boleh memiliki milik ibumu. tetapi untuk Grimoire milik ayah. Ayah ingin kau mengikuti uji sihir satu bulan kedepan. karena jika kau tidak punya sedikit bakat sihir milik ayah kemungkinan mantra yang ada didalamnya akan sia-sia."

__ADS_1


Vischa memberikan Grimoire terbakar itu pada Claude sedangkan untuk Grimoire satunya lagi ia kembali menyimpannya bersama barang-barang tua yang Vischa simpan didalam brangkas itu.


Vischa pun mengunci kembali brangkas itu dan menutup kembali lukisan itu dengan mantra penutup.


"Kau menggunakan sihir pembuka dan penutup biasa. kenapa harus menarpalkan secara perlahan seperti itu?"


"Kau sangat paham sihir dasar tenyata. Ini aku akan memberikan kunci ini padamu."


"Bagaimana dengan ayah?"


"Tentu saja ayah punya kunci lainnya, tetapi ingat saat ini kau masih belum bisa menggunakannya sebelum kau ikut uji sihir."


"Baik ayah kalau begitu aku pamit pergi dari ruangan Ayah."


Claude pun meninggalkan Vischa dari ruangannya. Hatinya jadi setengah ragu terhadap Vischa, melihat Vischa yang dengan sengaja menyegel surat itu di Grimoire palsu itu. Disini lain Vischa mau memberikan Grimoire milik ibunya secara sukarela.


Pertanyaan di otaknya masih terlalu banyak, tetapi Claude tidak bisa bertanya pada Vischa seluruhnya ia harus mencari tahu asal usul dari surat itu.


Claude-pun kembali ke kamarnya, sepertinya ia sudah cukup lama berbincang dengan Vischa sehingga Gabriel yang baru saja pergi ke dunia atas kini sudah kembali ke dalam kamar Claude.


"Kau sudah selesai lebih cepat ternyata."


"Aku baru saja sampai, hanya mengambil buku tentang raja Axias seperti yang kau katakan."


"Bagaimana? Kau sudah membacanya?"


"Kau sendiri bagaimana? tadi kau menangis seperti itu aku jadi khawatir sesuatu terjadi padamu."


"Aku menangis karena kupikir aku menulis satu buku selama dua hari dengan sia-sia. Ternyata orang itu telah menuliskan sebagian mantra miliknya dan ibuku di Grimoire salinan itu."

__ADS_1


"Lalu Grimoire apa lagi yang kau bawa?"


"Ini adalah Grimoire milik ibuku. Aku bisa merasakan kehangatannya walau sedikit. tapi semua halaman bagian belakangnya terbakar hanya tersisa mantra bagian depan. Setelah aku lihat. Mantra nya memang sama persis dengan yang dituliskan oleh buku Grimoire palsu itu."


__ADS_2