Menjadi Asisten Malaikat Maut

Menjadi Asisten Malaikat Maut
71


__ADS_3

Carmy membuka pintu ruangan Charly tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Kau sudah lebih berani ya, masuk tanpa mengetuk pintu dahulu." Ujar Chaly sambil duduk di meja kerjanya dengan bolpoin di tangan kanannya dan tinta di tangan kirinya.


"Maaf, Charly. Barusan di depan ada Carpel dan Carsten. Aku jadi lupa dengan mengetuk pintunya." Charmy beralasan dengan baik, tentu saja Charly sebenarnya tidak bisa menerima alasan apapun dari Charmy. Akan tetapi ia memiliki pekerjaan mendesak dengan membuat surat permohon izinan perjalanan menuju Redsole.


"Dimana ayah?" Ujar charly saat bertanya pada charmy.


Melihat Charly yang sepertinya sedang membuat surat penting pun dengan otomatis ia membawakam cap resmi kekeluargaan Marquez dari rak yang ada di dekat pintu keluar. Ruangan itu.


"Ayah sedang keluar sebentar karena ada beberapa masalah dengan count Gama." Ujar Charmy serius dengan apa yang ia dapatkan dari para pelayan ayahnya.


"Apa itu tentang masalah pembangunan ulang jembatan?" Sambil menulis di sebuah kertas tipis berwarna coklat tua beberapa mantra ia masukan dengan alasan tertentu.


"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong sepertinya kau menulis bukan untuk kepada bangsawan lain." Charmy menyelidiki apa yang ditulis oleh Charly.


"Benar, ini untuk raja. Aku harus segera pergi ke Redsole untuk menangani beberapa masalah disana." Charly dengan tenang masih menulis surat resmi itu dengan rapih.


"Kapan kau akan kembali?" Ujar Charmy yang sebenarnya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Charly.


"Sisa kerjaan ayah sudah aku selesaikan sebagian, sebagian lagi kau harus kerjakan atau kau boleh menyerahkannya pada si bodoh Carpel."


"Tidak, aku tidak percaya Carpel tadi pun ia tampak mencurigakan apakah dia merencanakan sesuatu dibalik kita?"


"Paling rencana ia untuk mengerjai Claude."


"Kurasa kau harus menemuinya dulu."


"Ck, merepotkan."


"Dia bisa saja menghasut Carsten juga."


"Mana cap yang kau bawa? Aku harus mencari Ayah segera."

__ADS_1


"Ini. Apa kau akan memberikan Grimoire tua itu pada Ayah?"


"Bukan, bukan. ini untuk Claude, tetapi aku harus memberikannya lewat ayah karena aku rasa masih ada rasa kepercayaan Claude pada ayah " Charly mengatakannya dengan lebih santai daripada sebelumnya.


"Kau sepertinya senang." Charmy menyipitkan matanya curiga dengan apa yang dilakukan oleh Charly.


"Tentu saja, sebentar lagi Claude akan pergi dari dunia ini dan perhatian orang tidak akan lagi ada padanya." Charly tersenyum licik dengan apa yang direncanakan oleh Lucifer.


...tok..tok.....


"Tuan muda, Tuan besar sudah pulang." Teriak salah satu pelayan yang bekerja di kediaman Marquez.


"kekekek, Bukankah waktunya pas sekali?"


Charmy yang melihat sosok Charly yang sekarang benar-benar menyeramkan bahkan ia sudah mendekati iblis sesungguhnya. Bayangan hitam yang selalu mengikutinya. Setiap harinya membuat Charmy ketakutan dengan apa yang ada pada Charly itu.


Charly pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangannya. Ia berjalan perlahan dan membuka pintunya, melewati Charmy begitu saja. Charly pun keluar dari ruangannya tanpa mengatakan kata-kata apapun.


Charmy pun terduduk di lantai ruangan itu sambil menghela nafasnya. "KENAPA? KENAPA AKU? KENAPA AKU YANG HARUS JADI PIJAKAN MU?" Charmy benar-benar kesal, karena ia harus bekerja selama 24 jam untuk melayani Claude dan Charly padahal dia adalah putri tertua di keluarganya.


"Sebaiknya apa?" Ujar Charly yang tiba-tiba muncul dari belakang Carsten.


"Ah, kakak mengagetkanku saja. Ini kak Carpel akhir-akhir ini sangat aneh, apakah kakak tahu penyebabnya?" Carsten dengan polosnya bertanya pada Charly.


"Sepertinya dia sedang labil. Aku pernah melihat pria seusianya memang benar-benar labil." Charly menjawab Carsten dengan lembut sambil tersenyum.


"Benarkah? Sepertinya memang seperti itu ya. Kalau begitu ada satu pertanyaan lagi. Apakah aku bisa mengendalikan makhluk seperti kalian. Karena kurasa rambutku yang seperti ini pasti sihirku sama dengan kak Carpel. Ujar Carsten mengeluhkan warna rambutnya yang sedikit ikal itu.


"Tidak, kau bisa mempelajarinya dengan kakak.,"


"Benarkah? kapan kak kapan?" Carsten begitu bersemangat begitu ia mendengar bahwa Charly akan mengajarkannya cara mengendalikan makhluk roh.


"Tidak usah Seperti itu, aku akan mengajarimu cepat atau lambat."

__ADS_1


"Sepertinya kakak sangat sibuk." Carsten meringsut mengingat Charly sangat sibuk dengan pekerjaan ayah yang ia pegang.


"Kau sangat pengertian, tapi bukankah lebih baik kau mengendalikan sihir angin telekinesis mu? Kalau kau belajar dengan giat kau bisa mengangkat satu gunung dan melemparnya diatas istana Greenbreez." Charly mengacak-acak rambut Carsten lalu pergi melaluinya.


"Kakak benar! Kurasa sihir ku juga tidak kalah unggul dari sihir kakak!" Dengan semangat Carsten pun pergi berlari kearah yang berlawanan dengan Charly.


"Dasar bodoh! Sihirmu adalah yang paling lemah. Aku bisa melihatnya walau hanya sekilas saja." Charly pun melanjutkan langkahnya untuk menemui Vischa.


Hingga ia tepat berada di depan ruangan kerja Vischa. Iapun mengetuk pintu perlahan dengan etiket yang biasa ia gunakan yaitu mengetuk pintu dengan dua ketukan saja.


"Ayah? Ini Charly hendak menyapa ayah."


"Masuk!"


Charly pun membuka pintunya dengan perlahan kemudian iapun masuk kedalam ruangan Vischa. Setelah ia masuk ia langsung membungkuk hormat terlebih dahulu. Sesuai etiket di Garten.


"Ada apa?" Vischa bertanya pada Charly sambil menggunakan kacamata dengan satu lensa di mata kanannya ditambah dengan rantai emas yang menjuntai kebawah Vischa pun membuka halaman demi halaman buku yang dibacanya. "Sepertinya kau tidak datang untuk meminta maaf pada ayah." Sambung Vischa dengan ketus.


Charly terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Vischa ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Vischa.


"Kau lupa atau pura-pura lupa? Kau masuk ke ruangan ku beberapa waktu yang lalu tanpa seizin ku?"


"Ah, iya maafkan aku ayah itu karena ada dokumen yang harus ku selesaikan jadi aku mencari buku Ayah untuk menyelesaikannya."


"Begitu ya, lalu apa yang ada di belakangmu itu?"


"A., ini seseorang memberikannya padaku untuk ayah berikan kepada Claude."


"Grimoire tua?" Vischa kebingungan tetapi begitu melihat sampul halaman depan buku itu ia tahu betul bahwa itu logo dari Grimoire kerajaan Garten. "Darimana kau mendapatkan ini?" Ujar Vischa sambil melotot panik dengan logo yang tergantung dengan jelas di sampul Grimoire itu.


"Aku benar-benar tidak tahu ayah, tapi orang itu bilang ini untuk Claude sepertinya diperbatasan perang ia sudah melakukan banyak hal ayah."


"Lalu?"

__ADS_1


"Katakan untuk menyalinnya cepat jangan sampai aku dan kak Charmy penasaran dengan apa isi buku Grimoire itu."


__ADS_2