
Setelah kelelahan menangis semalaman aku ketiduran dan tanpa ku sadari hari sudah pagi dan ku temukan secarik kertas di depan pintu.
Farah istri tercinta ku,maafkan diriku. Maafkan suamimu ini yang tak pantas di sebut suami. Maafkan aku yang asal menuduh mu tanpa mencari bukti dulu.
Maaf atas fitnah yang di sebarkan oleh adik-adik ku. Maaf mungkin ini tak akan mampu mengobati rasa sakit dan kecewamu. Tapi aku akan terus minta maaf sampai kau memaafkan ku. Maafkan aku sayang.
Surat dari bang Faiz.
Aku tahu dia salah tapi aku belum siap untuk bertemu dengannya, meski sebenarnya aku juga merindukannya.
Aku bingung harus apa, mengingat kepergian anakku penyebab utamanya adalah dia.
Seorang ayah yang tega membunuh anaknya.
Seorang lelaki yang tega merampas kebahagiaan seorang wanita.
"Huft .....aku rasa aku akan gila kalau seperti ini" ku usap air mataku yang tiada hentinya menetes bahkan mataku sudah sangat merah dan sembab sekali.
Ctttak...
Ku buka pintu kamar ku dengan perlahan dan berjalan menuju ke ruang tamu dan membuka sedikit gorden. Ku intip tak ada tanda-tanda mobil bang Faiz ada di depan rumah.
"Syukurlah...." lega rasanya nafasku.
.
.
.
Faizal.
__ADS_1
Faizal semalam pulang larut usai dari rumah mertuanya untuk menemui istrinya yang tak mau di temui.
Faizal pergi menemui Adam di apartemennya, sebelum Adam pergi tugas Faizal meminta waktu lagi kejelasan pada Adam.
Adam menjelaskan panjang lebar pada ayah nya, bagaimana pun rasa kecewa dan bencinya terhadap ayahnya ia tetap harus menyimpan dan menurunkan ego nya.
Dia nggak berhak marah karena sejatinya dia hanya anak dan Farah masih berstatus istri ayahnya. Jika ayahnya sudah sadar dan ingin kembali yang dia harus lakukan ya membantu agar mereka tetap bersama dan hidup bahagia.
Soal hatinya dia sudah terbiasa mengobati nya sendiri. Dia bisa bangkit kapanpun.
Perjuangan yang sia-sia, tidak.... perjuangan nya tidak sia-sia, demi kebahagiaan wanita yang ia cintai dengan tulus tidak akan sia-sia.
Dengan melihat kebahagiaannya saja sudah ikut bahagia.
"Ayah, Adam pesan sama ayah...tolong , apapun yang terjadi jangan tinggalkan Farah lagi. Betapa hancurnya kemarin dia menjalaninya semua sendiri"
"Jangan pernah percaya lagi apapun kabar tentang Farah, entah fakta atau fitnah tutup rapat-rapat telinga dan mata ayah dari hal-hal buruk. Terima kak Farah dengan segala kekurangan nya. Dia berhak bahagia"
"Yah, satu lagi ingat. Farah sedang mengalami trauma berat. Jangan buat dia kecewa lagi,di posisi nya yang sekarang dia menjadi sangat sensitif dan tidak mudah percaya dengan orang lagi"
"Iya kak"
"Aku takut terjadi sesuatu pada kandungannya " lirih Faizal yang belum mengetahui kalau anak dalam kandungan istri nya sudah tiada, karena Adam belum sempat cerita.
Adam tak mendengar perkataan Faizal ia sudah fokus dengan koper nya karena sebentar lagi dia akan berangkat menuju bandara di antar pak Slamet sopir pribadi uminya.
"Yah, ini kuncinya tolong nanti kalau ayah pulang kuncinya masukkan ke kamar Adam di rumah ya yah?"
"Iya kak"
"Adam pamit dulu yah, assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam" usai bersalaman dan mengecup tangan ayahnya, Adam langsung pergi.
Selang beberapa menit Faizal menyusul pergi juga. Setelah hatinya sedikit tenang ia kembali ke rumah utama.
Malam kian larut, rumahnya sudah sepi anak-anaknya juga sudah tidur apalagi mertuanya juga sudah tak terlihat di depan televisi.
Ia segera naik ke lantai atas menyusul istrinya yang juga terlelap.
Ia berencana akan bercerita panjang lebar pada istrinya esok pagi.
Kumandang adzan telah menggema, Faizal dan keluarganya melakukan aktivitas seperti biasanya usai sholat subuh.
Hati Faizal tak tenang, usai mendengar penjelasan dan cerita panjang lebar dari dokter Gita tentang apa yang sedang terjadi pada Farah.
Hatinya bergemuruh ingin rasanya menyeret kedua adiknya dan memasukkan ke dalam penjara, tapi apalah dia tak mungkin melakukan itu.
Faizal mondar-mandir di ruang kerjanya.
Tok...tok ..tok....
"Yah,ayo sarapan sudah di tunggu yang lainnya" seru Adnan anak kedua Luluk.
"Iya kak, sebentar lagi ayah turun"
"Ok yah"
Tak lama Faizal turun ia tampak gelisah, ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Ia takut jika salah bicara akan berakibat fatal. Karena Luluk sudah tidak mau mendengar nama Farah lagi.
Bagi Luluk, Farah bukanlah wanita yang baik-baik.
Luluk masih gelap mata, ia benar-benar sudah di racuni oleh kedua adik iparnya yang ternyata berperilaku iblis.
__ADS_1