MENJADI ISTRI KEDUA

MENJADI ISTRI KEDUA
BELUM SIAP


__ADS_3

Ku nikmati pelukan dari Adam yang membuat ku sangat nyaman dan seketika lupa kalau Adam bukan siapa-siapa ku, dia hanyalah anak dari maduku.


Berat rasanya melepaskan pelukannya tapi aku harus sadar diri tak boleh senekat ini. Karena aku masih milik bang Faizal. Aku tak mau di cap tukang selingkuh.


Ku lepaskan pelukan Adam dengan perlahan, ku tatap sekilas senyuman yang meneduhkan penuh harapan. Meski aku tahu tak mampu membalas.


"Kamu ambil cuti ya?" ku alihkan pandangan ku agar tak mengalir air mataku. Ku sibukkan dengan membuka lemari es di belakang. Ku suguhkan minuman dingin untuk nya.


Aku duduk di kursi sofa dan Adam mengikuti ku duduk di seberang kursiku.


"Aku ambil cuti seminggu"


"Oh ...." bingung aku harus seneng atau apa.


"Mana kalung tadi?"


"Oh, paketan tadi dari kamu?" antusias ku langsung mencari keberadaan kotak yang berisi kalung tadi.


Tergeletak begitu saja di atas meja kasir. Aku sedikit berlari mengambil nya.


"Ini dari kamu Dam?" ku ambil kalung itu lalu ku tunjukkan pada Adam.


Adam tersenyum lalu mengangguk.


"Bawa sini ..." pinta Adam. Lalu ku serahkan kalung itu.


Di letakkan dengan rapi kalung itu di kotaknya lagi.


"Maukah kamu menjadi calon istri ku Rah?" Adam menyerahkan lagi kotak itu dengan satu tangan lainnya lagi memegang sebuket bunga mawar merah.


"Kamu apa-apaan sih Dam, aku gak suka" entah apa yang terjadi di dalam hatiku. Rasa benci, kecewa bergejolak di hatiku tak berkesudahan.


Aku bingung. Tiba-tiba air mataku mengalir terasa sesak di dada. Rasa sakit ku kini terasa kembali. Mengingat sakit dan kecewa ku kepada bang Faiz.


Aku pikir aku sudah sembuh tapi kenyataannya sakit itu masih terasa.

__ADS_1


"Maafkan aku Rah, jika ini membuat mu kembali sakit" lirih Adam merasa bersalah.


"Aku hanya bercanda Rah, aku hanya ingin berkhayal suatu saat nanti jika aku berkesempatan melamar mu aku tidak gerogi" Adam bingun mencari alasan agar aku lebih tenang lagi.


Aku tak peduli dengan ucapan Adam, rasa sakitku masih terasa. Entah aku bisa seperti ini.


Tak lama si kembar datang.


"Mbar, tolong tutup tokonya jagain kakak mu, tunggu kakak sebentar"


"Kak Adam mau kemana?"


"Ada keperluan sebentar...!" Adam berlari keluar dari toko dan si kembar masih bingung melihat keadaanku yang masih menangis.


"Mbak kenapa ?"


"Cerita mbak, kalau ada masalah. Apa kak Adam melukai mbak?"


Ku hapus air mata ku.


Ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku keluarkan secara perlahan.


"Emang kak Adam ngapain?"


"Dia melamar mbak"


"Kenapa mbak gak terima aja?" tanya Meli.


"Iya mbak terima aja. Nanti biar kak Adam yang urus perceraian mbak dengan kak Faiz" tambah Mala.


"Huft....kalian ngomong apa sih....gak semudah itu. Mbak masih takut, mbak masih bingung dengan hati mbak yang masih hancur ini. Mbak belum sembuh total. Mbak belum juga selesai menata hati dengan baik"


"Maafin kita ya mbak..." Mala Meli memelukku dengan rasa bersalah nya. Mereka lupa kalau aku masih trauma berat dengan yang namanya kepercayaan.


Cinta dan kepercayaan ku sudah hilang di telan rasa trauma ku, dan perlahan aku menata kembali rasa semua itu.

__ADS_1


Belum sempurna betul aku menatanya.


"Tapi perlu di ingat mbak, kak Adam itu baik. Dia benar-benar tulus sama mbak" ujar Mala.


"Aku belum percaya soal itu Mal, apa kamu lupa bang Faiz juga dulu awalnya sangat baik dan tulus. Tapi kenyataannya..."


"Mbak, belum bisa percaya dengan cinta, rasanya masih membekas di hati. Apalagi mbak harus kehilangan Rayyan kan?"


Si kembar terdiam.


"Maaf ya mbak, kita janji tidak akan memaksa atau menyuruh mbak lagi untuk jatuh cinta kepada siapapun. Kita akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mbak"


"Makasih ya adik-adikku yang cantik-cantik ini" ku peluk mereka dengan penuh kehangatan.


Srak....


Adam membuka pintu dengan kencang membuat semua terkejut.


Dia terlihat ngos-ngosan.


"Maaf menunggu lama, gimana sekarang keadaan Farah?" tanya nya dengan panik.


"Aku baik-baik saja Dam, maaf ya membuat mu panik"


"Justru aku yang harus minta maaf, maaf jika pernyataan ku tadi membuat mu terluka lagi"


"Sudah gak apa-apa kok" aku berdiri lalu membuka tirai dan mengembalikan tulisan close menjadi open.


Aku sudah siap membuka toko kembali.


Customer mulai berdatangan mengambil pesanan baju-baju. Karena kebanyakan mereka penjual yang akan menjual dagangannya di online lagi.


Adam duduk di sofa meneguk minuman dengan menenangkan pikirannya yang sempat kacau dan takut melihat keadaanku.


Sementara si kembar melayani customer aku kebelakang ke dapur tokoku mengambil cemilan.

__ADS_1


"Nih, di makan ya biar tenang. Nanti toko tutup masih jam 5 sore" ku tepuk bahu Adam. Dia tampak masih bingung melihatku.


Dan diam-diam aku tersenyum melihat tingkah nya yang begitu konyol.


__ADS_2