MENJADI ISTRI KEDUA

MENJADI ISTRI KEDUA
HARAPAN FAIZAL


__ADS_3

Melihat Luluk istri tercintanya sudah berantusias tinggi ia keluar rumah lagi dan berpura-pura baru masuk.


"Assalamualaikum..." ucap Faiz sembari menarik kopernya. Iya usai dari luar kota mengurus proyek di sana.


"Waalaikumsalam..." Luluk sedikit kaget melihat kedatangan suaminya.


"Mas Faiz baru pulang kan mi?" bisik Luluk.


"Iya, kayaknya"


"Semoga tidak mendengarkan pembicaraan kita ya mi "


"Iya nak"


"Abi, baru datang bi?" Luluk menghampiri Faizal untuk bersalaman.


"Iya mi" tak lupa Faizal bersalaman dengan kedua mertua nya.


Faizal memasang wajah sumringahnya, menutupi hatinya yang gundah. Berkali-kali ia menuruti keinginan istrinya yang menurutnya sangat sulit sekali tapi demi istrinya ia turuti.


Tapi sepertinya kali ini ia tidak bisa menuruti begitu saja. Otaknya bekerja mengatur strategi untuk bisa berjumpa dengan Farah.


Ia ingin meminta kejelasan tentang hubungan rumah tangganya. Jika memang Farah sudah tidak ada keinginan untuk lanjut terpaksa ia harus mengalah meski hatinya hancur.


Usai bercakap-cakap ia ijin ke kamar untuk membersihkan diri.


Tapi sebelum masuk kamar ia masuk ke ruang kerjanya lalu ia kunci dengan rapat.


Ia mondar-mandir mencari cara untuk bisa menenangkan segala kegundahannya.


Lama ia berfikir dan ia berhenti saat ia sudah menemukan jalan keluarnya. Ia bergegas mandi dan langsung berlari ke bawah.


"Mi, Abi ngecek pabrik dulu ya?ada barang masuk" pamit Faizal lalu mencium kening istrinya.


"Abi gak istirahat dulu?atau makan dulu gih?"


"Nggak usah sayang, nanti malam biar bisa langsung istirahat"


"Ok deh hati-hati ya sayang"


"Iya mi, assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


Faizal langsung tancap gas melajukan mobilnya keluar dari rumah.


"Sepertinya sama saja ya mi, malahan terkesan tidak ada waktu mas Faiz buat ku jadi super sibuk dia sekarang "


"Biarlah seperti itu dulu, toh dengan dia sibuk dia bisa melupakan Farah dengan cepat"


"Iya juga ya mi "


Sementara itu Faizal langsung menelpon asistennya yang di pabrik untuk mengecek keadaan pabrik.


Dia meluncur ke rumah mertuanya itu, ingin meminta kejelasan tentang hubungan rumah tangga yang sedang di ujung tanduk itu.


Ia harap rumah tangganya dengan Farah masih bisa di perbaiki, dan bisa ia bangun kembali menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warrahmah.


Jantungnya berdebar saat sudah sampai di depan rumah mertuanya itu.


Ia melangkah dengan pasti berharap ia menemukan jawaban yang sesuai keinginannya.


"Assalamualaikum Bu .." sapa Faizal saat ibu mertua nya itu sudah menyambut di ambang pintu.


"Waalaikumsalam...masuk nak" Faizal mengecup tangan mertuanya lalu mengikuti ibu mertuanya masuk kedalam rumah.


"Iya Bu, tapi Faiz ingin ngobrol sama ibu dulu"


"Oh begitu, bentar ya ibu tinggal dulu"


"Iya Bu"


Ibu masuk dan tak lama keluar dengan secangkir teh hangat.


"Di minum nak"


"Iya Bu terima kasih" Faizal menyeruput teh itu lalu meletakkannya kembali.


"Kabarnya gimana sekeluarga nak?"


"Alhamdulillah baik semua bu"


"Syukurlah"

__ADS_1


"Ibu dan semuanya juga baik kan?"


"Iya, nak alhamdulilah semuanya sehat"


"Bu? Faiz ingin cerita"


"Iya nak cerita saja kalau kamu ingin cerita jangan sungkan. Saya ini masih ibu kamu"


"Ya Bu, Faiz bingung bu harus bagaimana, Farah belum mau bertemu dengan saya ,Ya saya maklum itu Bu, dan saya juga memberikan waktu untuk Farah agar bisa menenangkan pikirannya dulu"


"Saya ingin memperbaiki rumah tangga ini Bu, meski saya banyak salah sama Farah tapi Faiz janji Bu, akan berusaha membahagiakan nya dan tidak akan membuat nya sedih ataupun terluka lagi"


"Tapi apakah ada harapan untuk bisa memperbaiki rumah tangga ini Bu?, sedangkan saingan Faiz berat "


"Maksud kamu apa nak?"


"Untuk saat ini Farah sedang dekat dengan anak saya Adam, dan anak saya itu menyukai Farah dan berkeinginan untuk menikahi Farah maka dari itu istri saya Luluk menyuruh saya untuk segera mengakhiri rumah tangga ini agar semua bisa jelas"


"Tapi tidak semudah itu kan Bu, saya masih mencintai Farah dan tak mau meninggalkan nya" tutur Faizal yang di iringi air mata.


Ibu terdiam menatap menantunya itu sebenarnya ia juga tak tahan ingin menjatuhkan air matanya tapi ia tahan agar bisa menguatkan Faizal juga.


"Ibu paham nak,kamu pasti bimbang. Itu perintah istri mu tapi di sisi lain kamu juga berhak menentukan sendiri, ibu juga percaya kalau kamu masih mencintai Farah dan bahkan dia masih sah istri kamu"


"Nanti ibu akan bicarakan sama Farah, kamu berdoa saja ya? semoga ada jalan yang terbaik untuk semuanya"


"Tapi ,ibu harap kamu jangan terlalu berharap lebih karena Farah sekarang tak seperti dulu lagi, hatinya susah untuk di taklukkan"


"Ibu saja kesulitan kalau ngobrol sama dia tentang rumah tangga, kalau nggak nangis ya langsung pergi saat ibu menanyakan kejelasan rumah tangganya"


"Ibu juga bingung nak, semoga nanti Farah bisa mendengarkan nasihat ibu"


"Aamiin, makasih ya Bu, sekarang Faiz sedikit lega. Karena cuma ibu yang mau mendengarkan keluh kesah Faiz Bu"


"Faiz punya ibu kandung tapi terasa tak punya ibu kandung "


"Hust, nggak boleh gitu nak, surgamu masih di telapak kakinya apapun itu dia masih ibumu yang telah melahirkan mu. Semoga Allah membukakan pintu hati ibumu ya nak "


"Iya Bu terima kasih banyak" Faiz menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


"Di minum nak"

__ADS_1


Faizal menyeruput teh lalu usai itu pamit undur diri.


"Malang sekali nasib mu nak, kamu seperti kehilangan rumah mu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang mu" lirih ibu meneteskan air mata usai kepergian Faizal.


__ADS_2