MENJADI ISTRI KEDUA

MENJADI ISTRI KEDUA
AKU INGIN MENIKAH


__ADS_3

Adam masih menunduk menyembunyikan tangisnya ada perasaan bersalah atas ketidaksopanan yang ia lakukan ke ayahnya.


Tapi di sisi lain iya juga ingin memperjuangkan hatinya.


"Mi, umi tahu kan selama ini Adam tidak pernah menolak perintah umi maupun ayah?. Adam selalu nurut, Adam juga nggak pernah minta apa-apa. Apapun keinginan umi selalu aku penuhi. Adam mohon mi, kali ini saja Adam ingin menentukan pilihan Adam sendiri"


"Adam....Adam ingin menikah..." masih terisak meski air mata sudah ia usap berkali-kali.


" Loh nak, eyang seneng loh kalau kamu menikah....umi dan ayahmu pasti juga seneng. Kenapa kamu sedih?" tanya eyang putri penasaran.


"Tapi Adam ingin menikahi Farah...." lirih Adam menjelaskan dengan masih terisak tangis.


Semua terdiam apalagi Faizal ia nampak pucat pasi, jauh di lubuk hatinya terdalam ia sangat merindukan Farah dan sangat menunggu momen di mana Farah sudah mau menerima nya kembali.


Di dasar hatinya rindu itu memuncak tapi melihat kesembuhan Luluk ia tahan untuk tidak menemui ataupun menemani kesembuhan Farah istri kecilnya itu.


Tapi kini anak sulung nya yang tak mau mengenal cinta malah ingin menikahi istri kedua nya seketika hatinya terasa sakit.


Semua terhening dengan pikirannya masing-masing.


"Apa kamu benar-benar mencintai Farah?" tanya Abah dengan tegas.


"Iya kung, Adam mencintai Farah dengan tulus..."


"Yah....Adam mohon tolong lepaskan dia untukku, Adam ingin membahagiakannya juga " pinta Adam.


" Is, Abah tahu kamu masih mencintai Farah, tapi dengan kondisi Farah seperti ini sepertinya tidak ada harapan untuk kamu kembali padanya, kasian dia di gantung kan seperti ini. Status dia juga tidak jelas, dia berhak bahagia,kamu juga sudah bahagia kan dengan Luluk?" Abah dengan tegas menengahi.


Sekarang semua tertuju pada Faizal yang masih terdiam.


"Bi, gimana? apa kamu mau melepaskan Farah untuk Adam?"


Faizal masih terdiam bermain dengan pikiran dan hatinya yang masih berperang.

__ADS_1


Ia tahu selama ini rumah tangga tangga nya sedang baik-baik saja dengan Luluk, dan kondisinya juga sudah lebih baik.


Ia pikir sebentar lagi ia akan bisa berjumpa dengan Farah, usai semua urusan kantor selesai.


"Beri saya waktu..." ucap Faiz lalu ingin berdiri meninggalkan meja makan tapi belum sempat pergi Luluk sedikit murka dengan jawaban suaminya yang tidak seperti yang ia inginkan.


"Kenapa sulit tinggal bilang iya bi? apa salahnya coba kamu bilang iya? lagian kamu juga sudah punya istri, aku juga sudah nurut nggak kerja lagi, Farah juga sudah nggak mau sama kamu"


"Apa kamu bilang? dengan mudahnya kamu bilang seperti itu, emang kamu pikir antara aku dan Farah tidak ada rasa cinta? semua tidak mudah mi, ini bukan soal barang tapi ini mengenai perasaan"


"Tidak semudah yang kamu omongkan, apa kamu lupa kamu yang memaksaku untuk mencintai Farah? sekarang cinta itu sudah melekat di hati kenapa kamu menyuruhku untuk pergi meninggalkannya?"


"Aku masih mencintai nya ,dan aku juga mampu membahagiakan nya sendiri tak perlu orang lain...!" Faizal pergi dari suasana tegang itu, matanya memerah amarah nya memuncak.


Tanpa pikir panjang ia pergi keluar mengendarai mobil, yang ada di pikirannya hanyalah Farah seorang.


Dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobilnya menuju toko Farah.


Ia ingin selalu ada untuk Farah meski ia tak mampu di samping nya lagi.


Seperti dulu saat awal Farah ingin mencari ruko ia juga mencarikan ruko itu tapi dengan tanpa sepengetahuan Farah, ia hanya menyuruh seseorang untuk melakukan itu.


Pembeli yang banyak juga ia kerahkan demi membuat Farah bersemangat lagi.


Semua itu ia lakukan dari kejauhan, ia selalu berdoa agar suatu saat nanti Farah bisa kembali ke pelukannya lagi.


Setiap hari di saat ia penat di kerjaan ia selalu menyempatkan mengunjungi Farah meski lagi-lagi harus dari jauh.


Farah sumber kebahagiaannya , Farah adalah kekuatan yang ia miliki sekarang.


Meski sebenarnya ia belum bisa menjadi suami yang baik setidaknya ia selalu membantu di saat Farah kesulitan.


Ia tak henti-hentinya selalu berdoa agar Farah segera sembuh dan bisa menerima nya kembali.

__ADS_1


Tapi kini dengan mudahnya anak sulung nya ingin merebut kebahagiaan itu dari kehidupannya.


Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.


Lagi-lagi ia berhenti di depan warung makanan langganan nya dan memandangi Farah dari jauh.


"Farah .... andaikan raga ini mampu menyentuh mu, aku ingin sekali memeluk mu....aku merindukan mu Rah ...." lirih Faizal meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan.


Lagi-lagi ia menulis surat dan ia titipkan ke tukang parkir warung makan itu.


Farah istri tercinta ku, pasti kamu lelah dan bosan setiap hari membaca surat tak jelas ini. Tapi biarlah, aku tak akan pernah berhenti berdoa dan berharap aku bisa memeluk mu lagi.


Farah, aku sedang tidak baik-baik saja, bisakah kamu aku temui sekali saja.


Aku ingin memeluk mu, tapi jika kamu tak mau, cukup ijinkan aku melihat senyummu dari dekat.


Aku merindukan mu Rah, sangat rindu.


Dari suamimu yang bodoh ini.


Dengan jelas Farah membuka surat itu, jantung Faizal berdebar ia berharap keajaiban sedang berpihak padanya.


Farah masih terdiam membaca surat itu, air matanya menetes.


Tapi lagi-lagi Farah terlihat lemas dan di bantu kedua adiknya itu untuk duduk di sofa.


Dinding kaca yang transparan membuat Faizal leluasa mengamati aktivitas Farah.


Farah menangis tersedu dalam pelukan adiknya, rasa perih di hati Faizal semakin memuncak ingin rasanya berlari memeluk istrinya itu.


"Maafkan aku sayang, tak bisa memeluk mu dengan erat, tak mampu mengusap air matamu itu" lirih Faizal yang sudah tersedu di dalam mobil.


"Maaf sayang, tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu...."

__ADS_1


__ADS_2