MENJADI ISTRI KEDUA

MENJADI ISTRI KEDUA
RINDU TERLARANG


__ADS_3

Kondisi ku sudah sedikit membaik, setiap Minggu aku selalu di kirimin Adam vitamin dan aneka buku-buku motivasi.


Tak hanya buku dan vitamin ia juga mengirimi hadiah-hadiah lucu untuk ku.


Sudah hampir sebulan bang Faiz tak pernah datang ke rumah setelah terakhir kalinya ia datang aku masih sembunyi darinya.


Entah mengapa jauh dari bang Faiz sudah menjadi kebiasaan ku, aku sudah terlalu nyaman seperti ini.


Dengan rasa bersalahnya, keluarga bang Faiz selalu mengirim makanan dan bunga. Tapi sedikit pun tak ku sentuh.


Bukan aku masih dendam, tapi aku masih kecewa. Kenapa begitu mudahnya mereka memfitnahku dengan segala hal yang tak ku lakukan.


Ya sudahlah biarlah seiring berjalannya waktu hati ini akan kembali ikhlas menerima mereka kembali masuk kedalam kehidupan ku.


Tapi , untuk saat ini biarlah ku obati rasa sakit ku dulu, hingga benar-benar aku sudah bangkit dan menikmati segala proses ini.


Rutin sebulan sekali aku masih periksa ke dokter Gita, sosok wanita yang menjadi teman wanitaku saat ini.


Setiap berjumpa selalu antusias untuk bercerita tentang dokter Fadlan, ia benar-benar jatuh cinta pada dokter tampan yang masih setia dengan status dudanya itu.


Berbeda saat aku periksa ke dokter Fadlan di saat dokter Gita sibuk. Dokter Fadlan tak pernah sedikitpun menceritakan dokter Gita. Ia hanya fokus mengobati ku.


Perhatiannya hanya pada diriku, seperti nya ada rasa yang tercurah pada perhatian itu. Tapi aku pura-pura masa bodoh dan acuh. Aku tak mungkin menanggapi hal bodoh itu.


Demi menjaga perasaan dokter Gita dan membersihkan fitnah yang dulu, aku menangkis semua perhatian dari dokter Fadlan.


Untuk mengobati rasa jenuhku aku bersama si kembar membuka toko baju anak-anak dengan modal sisa tabungan ku.


Dengan begitu aku membuka usaha semoga bisa berkembang pesat agar aku tak perlu bekerja ikut orang lagi.


Aku bisa membiayai kuliah adik-adik ku yang sebentar lagi akan masuk kuliah, dan membantu meringankan beban ibu.


Berjalannya usahaku dikit demi sedikit sudah mulai banyak customer. Ya, karena bukan secara online tapi juga offline aku menjualnya.

__ADS_1


Aku harus bisa menjadi wanita mandiri, tak bergantung pada orang lain lagi. Meski setiap Minggu bang Faiz selalu mengirim uang aku tak mau lagi menerimanya.


Usai di transfer di no rekening ku selalu ku kirim balik ke nomor rekening nya.


Biarlah, bukannya aku tak butuh uang, tapi aku ingin belajar tak tergantung lagi dengan nya. Meski status kita masih pasangan suami istri.


Tapi sepertinya aku yang menjadi orang miskin seakan di pandang sebelah mata oleh keluarganya.


Aku seakan hanya mengincar hartanya semata.


Akan ku buktikan semua apa yang di tuduhkan padaku tidak benar.


Ayahku seorang pengusaha yang pekerja keras, toko bangunan nya dulu laris. Dan ayah juga punya cabang di daerah lain.


Tapi kehidupan yang serba ada dulu tidak membuat ku dan keluarga sombong dan memandang sebelah mata pada orang lain.


Kita semua sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah iman dan taqwa nya saja.


"Paket...." seorang kurir mengantarkan paketan ke toko bajuku.


Ku buka bungkusan itu dengan perlahan meski setiap hari aku sudah terbiasa dengan paketan tapi bagiku ada rasa bahagia tersendiri saat membukanya.


Ada sebuah kotak merah muda dan berisi kalung ada inisial huruf nya F.


"Haist, palingan juga dari bang Faiz lagi... huft...." ku tutup lagi kotak itu dan ku buka secarik kertas yang ada tulisannya.


Cantik kan? apalagi kamu mau memakai nya pasti kamu tambah cantik.


Deg.....


Tanpa ada pengirimnya dan kata-kata itu membuat ku sedikit takut.


Ku lirik ke arah depan meski tokoku dalam keadaan tertutup tapi masih terlihat jelas dari luar karena pintu dan dinding depan terbuat dari kaca.

__ADS_1


Terdiam cukup lama dengan debaran jantung ku yang tak karuan.


Siapa sih pengirimnya?. Batinku.


Ku lihat seorang lelaki berjalan menuju ke arah tokoku memakai topi hitam dan jaket hitam membawa sebuket bunga mawar merah.


Tapi sayangnya dia memakai masker jadi tidak tahu siapa lelaki itu sebenarnya.


Dadaku bergemuruh begitu kencang hingga terdengar oleh telinga ku, membuat ku takut jika terjadi sesuatu denganku.


"Assalamualaikum.... selamat siang cantik..." sapa lelaki itu.


"Wa... Waalaikumsalam..." jawabku sedikit terbata.


Dia masih berdiri tegak di depan pintu menatap ku dengan teduh, tapi aku masih takut dengan semua yang ada dipikiran ku.


Aku takut jika lelaki ini akan berbuat jahat padaku.


"Farah?" lelaki itu membuka masker nya.


"Adam....?" ku berlari menghampirinya dan memeluk nya dengan erat.


Tak terasa air mataku mengalir, gemuruh di hatiku sedikit lebih tenang.


"Maaf yah, membuat mu takut. Aku hanya ingin membuat kejutan untuk mu" bisik Adam mengelus punggung ku.


Ku luapkan rasa tangisan ku di dadanya, mencari sosok yang hilang dari dalam hidup.


Kekosongan yang telah lama menghuni di sana terasa hidup saat Adam kembali.


Aku tahu ini adalah kesalahan terbesar yang ku lakukan, di saat bang Faiz ingin menemui ku, aku tak mau menemui nya.


Bahkan melihat nya pun aku tak mau, tapi Adam, tanpa ada ikatan apapun bisa membuat hatiku nyaman di sisinya. Sosok nya yang selalu ku rindukan selama ini kini hadir di sisiku.

__ADS_1


Maafkan aku ya Allah, aku tahu aku salah tapi biar lah aku sebentar saja menikmati kenyamanan ini meski terlarang.


__ADS_2