
Pagi ini rutinitas seperti biasa setelah semua pergi aku langsung ke makam Rayyan anak Sholeh ku.
Pagi ini terasa lebih tenang karena semalam aku bermimpi melihat Rayyan tersenyum padaku. Entah siapa yang menggendongnya wanita cantik seperti bidadari menunjukkan wajah Rayyan yang begitu tampan,putih dan bersinar.
"Ibu lega sayang, ibu sudah ikhlas. Tunggu ibu ya sayang" ku elus nisan Rayyan. Ku taburi bunga yang baru dan kali ini sudah ku pajang foto Rayyan yang kemarin di cetak si kembar lebih kecil lagi.
"Terima kasih Adam, terima kasih dokter Fadlan dan dokter Gita" Tadi pagi sekali Adam mengabari ku kalau sudah sampai di tujuan dengan selamat.
Sudah saatnya aku bangkit membuka lembaran baru, tak usah memikirkan hal tentang percintaan lagi. Tata masa depan dengan cerah, jika keputusan nya nanti bang Faiz akan menceraikan ku aku sudah siap menjanda.
Aku harus bisa kuat dan bisa menjadi wanita yang tangguh dan mandiri.
"Itu dia pak bu..." ku lihat di depan makam salah satu tetangga ku menunjukkan diriku pada segerombolan yang terdiri empat orang entah itu siapa tak begitu jelas karena jaraknya sedikit jauh dari makam Rayyan, untuk itu aku tak peduli.
Aku kembali fokus ke makam ayah.
"Yah, titip Rayyan ya yah, dia cucu hebat mu yang sudah berjuang di dalam perut anakmu ini" ku pindah ke nisan ayah yang bersebelahan dengan Rayyan.
"Assalamualaikum...." ku toleh sumber suara betapa terkejut aku, bang Faiz beserta keluarga nya datang. Dadaku sesak ,tanganku gemetaran, ku genggam erat nisan ayah. Air mataku sudah mengalir dengan deras seketika mulutku terkunci.
Gemuruh darahku bergejolak tak karuan. Kakiku melemas semua yang ku pandangi tidak jelas.
Yang ada di bayanganku hanyalah bang Faiz pergi meninggalkan ku di saat aku habis-habisan di hina oleh adiknya lalu di tuduh bang Faiz berselingkuh.
__ADS_1
Sakit, hancur rasanya. Semua pandanganku gelap.
"Bawa dia ke rumah sakit...." sayup-sayup masih ku dengar entah siapa itu.
"Jangan, bawa dia ke rumah dulu nanti kalau ibu khawatir " lirih-lirih masih ku dengar semua itu. Tapi tak lapa aku tak mendengar apapun.
.
.
.
Faizal membopong Farah masuk ke dalam mobil dan memeluknya erat. Abah menggantikan menyetir dan di sebelahnya ada umi.
"Sayang, maafin aku ...aku janji gak akan ninggalin kamu ..." lirih Faizal menangisi Farah.
Sampai di rumah ibu sudah menunggu di rumah, karena ada saudara Farah yang melihat kalau ada tamu membuat ibu pulang cepat dari pasar.
Ibu panik setelah melihat Faizal membopong Farah.
"Bawa ke kamar nak" pinta ibu sedikit panik lalu mengikuti Faizal dari belakang.
"Ada apa sebenarnya nak?" ibu duduk di sebelah Farah yang terbaring di kamar lalu Faizal menyalami ibu mertua nya itu.
__ADS_1
"Faiz kurang paham bu, tadi Faiz kesini dan keluarga untuk meminta maaf tapi gak ada orang terus ada tetangga yang bilang Farah kalau pagi ke makam"
"Faiz dan keluarga di antar ke makam tapi belum sempat menyapa Farah pingsan ketika melihat Faiz bu"
Ibu terdiam karena tahu betul kondisi anak sulung nya itu yang masih menyimpan rasa sakit dan trauma mendalam.
"Kamu lihat sendiri kan nak, betapa hancurnya dia"
"Iya Bu maafin Faiz Bu" Faizal lalu bersimpuh di kaki ibu mertua nya.
"Sudah nak, ibu sudah maafin. Ayo berdiri. Berdoa saja semoga Farah baik-baik saja" ibu mengelus pundak menantunya itu dengan lembut.
Tak lama Faizal kembali duduk di kursi sebelah Faiz.
"Tadi saya sudah menelpon dokter Gita Bu sebentar lagi sampai sini"
"Baiklah"
Tak lama dokter Gita dan Fadlan sampai dan mereka langsung masuk kamar Farah.
Dokter Gita yang memeriksa dan Fadlan hanya mengarahkan.
"Biarkan Farah istirahat dulu, kita keluar dulu"
__ADS_1
Di ruang tamu semua berkumpul. Dan di sana kesempatan bagi Fadlan dan Gita menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.