
Fadlan masih betah memandangi wajah Farah, ada rasa iba melihat wajah sayu itu. Ingatannya melayang jauh tentang istri cantiknya.
Nasibnya hampir persis apa yang di alami Farah cuma bedanya istrinya adalah satu-satunya istri bukan istri kedua.
Air matanya menetes ia sesenggukan sendiri. Istri tersayang berserta anaknya telah meninggalkannya setelah ibu tercinta nya lebih dulu meninggalkannya.
Dia pikir setelah ibunya meninggal ia akan selalu di temani istri dan anaknya. Jadi dia tak begitu kesepian.
Tapi, Allah punya rencana lain. Semua orang yang ia cintai harus pergi terlebih dahulu karena Allah lebih mencintai mereka di banding dirinya.
"Kak?" Gita masuk kamar Farah dan mengagetkan Fadlan dan dengan cepat ia mengusap air matanya.
"Pulang sekarang Git?" mereka selalu memanggil nama saat tidak di rumah sakit.
"Kakak kenapa?"
"Nggak apa Git, saya jadi teringat istri saya"
"Kita ke makamnya istri kakak yuk? "
"Ok, tapi ibu mana?"
"Lagi ke belakang "
"Ok tunggu ibu dulu".
"Apa Farah bisa sembuh kak?"
"Bisa, dengan berjalannya waktu dia pasti bisa sembuh. Tapi harus dengan pendampingan"
"Siapa yang harus dampingi dok? psikiater kah?"
"Nggak harus, bisa dengan orang yang tepat atau orang yang benar-benar ia percaya dan bisa membangkitkan semangat nya"
"Apa nggak kakak saja?"
"Jangan, banyak resikonya kalau saya. Kamu tahu sendirikan masalah nya baru selesai "
__ADS_1
"Iya kak"
"Oh ya, terima kasih ya Git, berkat sandiwara kamu masalah ini selesai dengan mudah"
"Eh, iya kak sama-sama " wajah Gita berubah menjadi datar.
Ada rasa sedikit sesak di hatinya saat pengakuan Fadlan tak sejalan dengan apa yang ada di pikirannya.
Aku pikir kamu beneran suka kak, andaikan kamu tahu kalau aku beneran sayang sama kamu kak. Batin Gita .
"Maaf menunggu lama ya nak, ini ibu bawakan buah mangga tolong di bawa yah?"
"Walah Bu, kenapa repot-repot?" ujar Fadlan.
"Nggak dok, ini hasil metik sendiri di belakang"
"Oh ya?pasti ini lebih seger ya buk"
"Iya dok, nggak masam sama sekali karena ini sudah matang dari pohon nya"
"Oh ya Bu, terima kasih. Ya sudah Bu kami pulang dulu. Sampaikan salam saya pada Farah dan bapak Faizal ya Bu"
"Sama-sama Bu" Gita dan Fadlan mengecup tangan ibu usai itu langsung masuk mobil pergi meninggalkan halaman rumah ibu Farah.
Ibu masuk kedalam lagi menemani Farah yang masih terbaring di atas ranjang.
Sementara di mobil Gita masih terdiam, sejak pengakuan Fadlan tadi membuatnya berubah menjadi pendiam.
Fadlan tahu tentang perubahan pada Gita ia hanya melirik.
Maafkan saya ya Git, aku tahu kamu meminta lebih dari hubungan kita. Tapi maafkan aku belum bisa menjadikan kamu lebih dari sekedar adik. Hatiku belum siap berpaling dari almarhum striku. Batin Fadlan.
.
.
.
__ADS_1
Di pemakaman.
Faizal menangis tersedu-sedu memandangi foto baby Ar-rayyan usai berdoa yang di pimpin Abah.
"Maafkan ayah ya sayang, gara-gara ayah gak becus ngurus kamu, kamu harus pergi. Maafkan ya sayang ...." Faizal mengelus foto baby Ar-rayyan dan menciumi nya.
Abah,umi dan Luluk pun juga ikut merasakan kesedihan Faizal apalagi Luluk merasa bersalah atas kematian anak dari madunya itu.
Andaikan dia tidak egois, andaikan dia tidak mendengarkan ocehan adik iparnya pasti saat ini baby Ar-rayyan masih baik-baik saja di dalam kandungan Farah.
"Ikhlas memang sulit nak, tapi kamu harus belajar. Semuanya belum terlambat mari kita perbaiki segala perbuatan yang salah dan keliru" umi mengelus punggung menantunya.
"Maafkan umi ya bi, gara-gara keegoisan umi kamu jadi harus kehilangan baby Ar-rayyan"
"Kamu tidak salah sayang, tapi ini semua sudah takdir" jawab Faizal tidak mau menjadi beban istrinya karena kesehatannya juga sedang tak stabil.
"Masih ada waktu ayo kita bangkit dan perbaiki semuanya. Kita cari solusi sama-sama. Ayo kita pulang" ajak Abah yang sudah berdiri.
.
.
.
Jauh di sana Adam terdiam teringat dengan kondisi Farah saat ini. Ingin tahu keadaannya tapi bingung harus menghubungi siapa karena nomor nya sudah di blokir Farah.
Dia belum ada waktu untuk membeli nomor baru.
"Dokter Adam?"
"Iya?" jawab Adam sangat lembut.
"Dokter kenapa?" dokter Clara sedikit terkejut dan menggunakan kesempatan ini dengan baik, karena tak seperti biasanya Adam bersikap lembut dan baik seperti ini.
"Nggak apa, cuma khawatir saja"
"Khawatir sama siapa dok?sama saya?"
__ADS_1
"Iya" Adam berlalu meninggalkan Clara yang masih tidak menyangka lelaki yang ia kagumi sedang memikirkan dirinya.
Sedangkan Adam tidak menyadari jika yang menanyai tadi adalah dokter Clara karena yang ada dipikiran nya saat ini hanyalah Farah seorang.